
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ke empat pria tampan itu sudah berjejer di sofa VVIP milik Ilyas. Mark yang sedang mencari mangsa pun tidak bisa duduk tenang, hingga matanya menangkap sosok perempuan dengan dress warna hitam pendek di atas lutut yang begitu pas di tubuhnya. Pria yang baru mengecat rambutnya berwarna merah itu mulai mendekati si perempuan. Mark bahkan berani mengusap bokong si perempuan secara terang-terangan.
Si perempuan ternyata sudah setengah mabuk, Mark menyadari itu tatkala pandangan mereka bertemu. Wajahnya begitu cantik dengan make-up natural, matanya berwarna coklat gelap, hidungnya mungil, dan Mark bisa tebak jika ukuran gunung kembarnya 36.
"Tubuhmu indah, sangat pas jika berada di atasku, " Bisik Mark pada si perempuan itu.
Perempuan cantik itu tidak menjawab, hanya tersenyum miring sembari meneguk winenya lagi.
Mark jelas semakin bersemangat untuk melancarkan aksinya. Ia pun menyentuh tangan halus perempuan itu, "Siapa namamu, Cantik? " tanya Mark.
"Lea, panggil aku Lea, " Jawab perempuan bernama Lea itu.
Senyum kemenangan terukir di bibir Mark, dilihat dari gaya berpakaian Lea, sepertinya ia berasal dari keluarga cukup kaya. Tas branded, perhiasan berkelas, serta wangi parfumnya bisa dikatakan hanya mampu dibeli oleh konglomerat.
"Aku menyukaimu sejak kau datang,Lea. Maukah kau bermalam denganku? " Tanya Mark lagi.
"Maaf aku tidak tertarik pada anda, Tuan, " Tukas Lea sambil membuang muka sembarang.
"Ayolah,Babe. Aku tahu kau juga menginginkan diriku, bukan?"
Lea memutar bola matanya malas. Pria yang mengemis tubuhnya bukan Mark seorang, banyak dari rekan konglomeratnya, dan ia sudah muak.
"Kau mau jet pribadi?akan aku berikan cuma-cuma untukmu, Sayang." Mark masih mencoba merayu perempuan itu, namun ia terus mendapatkan penolakan Lea. Merasa kesal, Mark pun mencoba mencium paksa Lea. Tapi diluar dugaan, perempuan itu meninju wajah Mark cukup keras hingga Mark meringis kesakitan.
Ketiga sahabatnya yang sedari tadi memerhatikan tingkah Mark dengan malas pun menyuruh Erick untuk menenangkan Mark. Erick bangkit mencoba melerai mereka berdua, namun sepertinya Lea memiliki keahlian bela diri cukup bagus. Dilihat dari Mark yang kewalahan menghadapinya.
Dengan satu tarikan, Erick berhasil melemparkan tubuh Mark ke sofa tempat Ilyas, dan Jay duduk. Keduanya melempar kembali tubuh Mark ke samping hingga jatuh ke lantai.
Mark yang kesal pun bangkit lalu kembali duduk di sofa, "kalian ini tidak setia kawan, malah membela perempuan murahan itu! " Seru Mark yang hanya ditanggapi seringan dari Ilyas dan Jay.
"Sudah berapa abad burungmu tidak digunakan, huh? Merusak suasana saja, " Ucap Jay sinis.
Ilyas ikut tertawa mengejek sambil melemparkan bungkusan kotak ukuran kecil yaitu sebuah \*\*\*\*\*\* pada wajah Mark,"cari yang lain saja, itu aku temukan di jalan, " Kata Ilyas.
Mark mendengus kesal, ia membenarkan jasnya dengan kasar. Matanya masih menatap tajam ke arah Lea, baru kali ini ia ditolak mentah-mentah oleh seorang perempuan.
****! Umpatnya.
Erick yang masih menenangkan Lea pun sebenarnya cukup tertarik dengannya. Namun ia tidak mau gegabah seperti Mark. Meski ia seorang player juga, tapi Erick tidak suka memaksa kehendaknya.
"Maaf atas kejadian tadi, Nona. Dia itu memang penjahat kelamin, " Ucap Erick.
Lea menyilangkan kedua tangannya di dada, "Aku kesini hanya untuk minum, bukan untuk mencari pria bajingan seperti temanmu itu. " Lea yang tadinya mabuk kini mulai sadar, melihat sekeliling yang memerhatikan dirinya itu membuatnya risih.
"Tunggu tuntunan dariku, ya, " Lanjutnya sambil berlalu begitu saja meninggalkan Erick dalam kebisuan.
Ilyas pun menepuk pundak Erick cukup keras, membuat sahabatnya itu berjengkit kaget.
"Mengapa kau malah melamun? " Tanya Ilyas.
"Gadis itu sangat cantik, matanya yang bulat, hidung mungilnya, dan bibir sexy yang siap untuk dilahap, " Jawab Erick sembari memandangi lorong yang dilewati Lea.
"Berarti kau sama saja dengan Mark, sama-sama penjahat kelamin," Ejek Ilyas.
"Memang benar, ku akui jika aku memang seperti itu. Tapi aku tidak sekasar itu pada wanita. " Erick tersenyum miring lalu pergi begitu saja ke dance floor.
Ilyas kembali menghampiri Jay yang sedang bermain game. Ia melirik sekilas pada Jay yang sedang tersenyum menatap ponselnya. Memangnya begitu menyenangkan ya main game, pikir Ilyas dalam hati.
\*\*\*
Di malam yang penuh dengan bintang-bintang itu, terlihat Sean sedang berlari di sekitar rumahnya. Dengan cara ini ia bisa meredam emosinya. Seira yang melihatnya pun merasa gelisah, ia ingin jujur namun takut kakaknya akan tambah marah. Ia terus mencari alasan yang masuk akal Sean bisa percaya padanya.
Seira memberanikan diri untuk bicara pada Sean namun langkanya terasa berat sekali, hingga kakaknya menyadari hal itu.
"Kemarilah ... Kemarilah jika kamu sudah siap menjelaskan, jika belum, masuk lalu tidurlah. " Suara Sean terdengar serius, membuat Seira bimbang.
Tangan Seira terkepal sempurna, ia gugup sekali. Belum pernah sang kakak semarah itu padanya.
"A—aku ingin bicara denganmu, Kak, " Ucap Seira gugup.
Sean mengangguk, dan menepuk bangku yang ada di sana agar Seira duduk di sebelahnya.
"Katakan." Sean menatap mata Seira seriuss.
"Benarkah? " Cecar Sean.
Seira mengangguk, tangannya basah akibat kerinagt, "sungguh ... untuk apa aku berbohong, lagipula apakah aku boleh mengetahui semua yang Kakak sembunyikan? "
Sean tertegun dengan ucapan Seira. Benar, selama ini jika adiknya bertanya mengapa ia selalu dijaga dengan ketat, Sean hanya tersenyum,dan tidak memberinya jawaban pasti.
Ia sadar sekarang, jika adiknya bukan Seira kecil, dan polos lagi. Usianya sudah 18 tahun, pasti adiknya ini akan mulai mencari tahu segala hal yang keluarganya sembunyikan.
"Masuklah, tidak baik anak gadis berkeliaran seperti malam-malam, anak anjing, " Ejek Sean yang kini mulai tersenyum pada Seira.
"Kakak percaya padaku? " tanya Seira penasaran.
Sean mengangguk sambil mengusap ujung kepala adiknya itu, "cepat masuk. "
Seira mencoba menahan diri untuk tidak melompat karena senang. Ia segera masuk sembari bersenandung kecil.
Setelah Seira pergi, Sean segera merogoh ponselnya untuk mengubungi seseorang.
"Awasi terus pergerakan dari Ilyas, jika dia berani menguntit adikku lagi, aku tidak segan-segan menghabisinya," Ucap Sean pada seseorang di ujung telepon sana.
Kembali ke clube malam, suasana tampak semakin panas di dance floor. Erick begitu menikmati tarian asal-asalannya. Mark yang kini sudah mendapatkan gadis lain pun sedang bercumbu di ruang VVIP lainnya.
Jay merasa bosan, ia ingin pulang saja namun Sean mencegahnya, karena sebentar lagi tamu spesial akan datang.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tamu pun datang. Ia adalah Doni, seorang yang juga mengincar Seira, maka dari itu, Sean ingin agar cukup dirinya saja yang berurusan dengan keluarga Rodrigues.
"Aku penasaran dengan gadis itu, bagaimana rupanya, Tuan Ilyas,? Tanya Doni dengan seringaian jahatnya.
" Entahlah, aku juga penasaran, Direktur Doni, " Jawab Ilyas angkuh.
Ilyas merasa aneh dengan bekas goresan di wajah Doni, " apa yang terjadi? Kemarin wajahmu masih mulus. "
Pria kurus itu memutar matanya kesal, " Aku tiba-tiba diserang saat sedang perjalanan kemari, sudahlah itu tidak penting, nanti ku urus sendiri. "
Ilyas mengangguk mengerti. Kemudian ia mengambil sebuah koper, dan menyodorkannya kepada Doni.
Doni mengernyit, ia penasaran dengan isinya. Tidak mungkin uang, karena uang Doni sudah berlimpah.
"Bukalah, " Pinta Ilyas.
Bodyguard Doni dengan sigap membuka koper itu. Betapa terkejutnya, setumpuk Narkoba jenis terbaru ada di depan mata Doni.
Ilyas menyeringai, sogokan ini sepertinya berhasil, bisa ia lihat ekspresi berbinar di mata Doni begitu terpancar. Doni Hwang adalah seorang pengedar sekaligus pemakai Narkoba. Selain itu, ia juga pemilik perusahaan properti terkenal di kotanya.
" Bagaimana, Kau suka? " Tanya Ilyas.
" Sebegitu inginnya kau membunuh gadis itu sendirian? Baiklah, tidak masalah. Sogokan ini aku terima, Kawan. " Doni pun segera menutup kembali koper itu lalu pergi begitu saja tanpa berpamitan.
Ilyas menghela napas lega, " Akhirnya dia pergi juga. "
" Jadi, gadis yang kau sukai itu adalah orang yang ingin kau bunuh? Namun kamu mulai jatuh cinta padanya, iya? " Cecar Jay yang sedari tadi diam.
Ilyas menatap Jay serius, ia tidak tahu harus jawab apa.
"Mengapa kau ingin membunuhnya? " Tanya Jay lagi.
Ilyas masih terdiam membuat Jay gemas, " Ya sudah kalau memang tidak ingin menjawab. Aku ingin pulang, sedari tadi sudah bosan gara-gara kau, " Ungkap Jay setengah kesal. Sahabatnya ini seperti sedang menutupi sebuah rahasia besar.
Dengan langkah cepat, Jay meninggalkan Ilyas sendirian di kursi atas clube. Pikiran Ilyas sebenarnya sudah dipenuhi oleh wajah Seira. Ia rindu, ia ingin memeluk Seira lagi meski itu sebuah kesalahan.
Di tengah lamunannya pada Seira, Ilyas melihat keributan pada kerumunan manusia itu di area dance floor. Ia bisa menduga jika itu perbuatan Erick. Tidak ingin ambil pusing, Ilyas pergi ke ruang bawah tanah.
Di sana sudah ada seseorang dengan wajah berkeringat, dan juga babak belur karena habis bertarung. Ya, itu adalah tempat bertarung profesional. Tidak ada yang mengetahui selain Ilyas serta ke tiga sahabatnya itu, karena ini ilegal.
"Apa kau lelah, Andreas? "
Note : Andreas pernah muncul di Bab 1 ya guys. Dia itu sahabatnya Sean. Kok bisa Andreas ada di sana ya 🤔.