My Lovely Seira

My Lovely Seira
Bab 1



Musim gugur sepertinya sudah tiba. Terlihat pasangan muda-mudi yang sedang menikmati suasana di taman kota ini. Berbeda dengan Seira. Gadis itu tampak sendirian bahkan  wajahnya murung. Bukan karena ingin memiliki kekasih juga, hanya ia rindu Ayah dan Ibunya yang kini sedang berbulan madu di Bali.


    Seira terus menggerutu kesal, sudah tua bangka masih saja berbulan madu. Tanpa ia sadari beberapa pasangan merekamnya secara langsung. Dengan caption, 'Gadis musim gugur yang kesepian'. Jika saja Seira tahu, ia pasti bertambah murka.


      Seira mendongakkan wajahnya ketika seorang pria muda tampan berdiri tegak di hadapannya. "Mau jus, Non? " tawar pria tampan itu sambil tersenyum miring. Seira mendengus kesal, pria itu Kakaknya sendiri, Sean yang sebentar lagi akan menikah.


    Ia meraih jus mangga kesukaannya itu dengan wajah cemberut, "Kenapa kau kesini? Tidak kumpul kebo sama Cindy?" timpal Seira membuat sang Kakak hampir tersedak minumanya sendiri.


Pletak!


     Seira meringis memegangi kepalanya yang kesakitan. "Kamu ini kalau ngomong suka benar,  Hahaha!" tawa Sean membuat Seira semakin jengkel. Gadis itu kembali menundukkan kepalanya mengingat kembali bahwa Sean akan segera menikah bulan depan. Membuat otaknya tidak bisa berpikir dengan benar. Ada ketakutan sendiri baginya.


     "Bisa tidak kakak tunda pernikahan dulu sampai aku sudah punya anak? Aku nggak rela kakak duluan yang punya anak. Ini nggak adil buatku, Kak. " suaranya lirih namun serat akan kekecewaan. Sebenarnya itu hanya akal-akalan Seira saja mengingat hanya Seanlah orang yang bisa mengerti keadaannya.


     Melihat raut wajah adiknya yang masih cemberut, Sean ingin tertawa namun ia urungkan. Ia sadar adik kesayangannya ini sangat membutuhkan perhatian lebih. Mengusap kepala Seira lembut Sean berjanji dalam hati bahwa ia akan  selalu menjaga adiknya walaupun sudah menikah nanti. Seira adalah adik tersayangnya.


     "Sudah siang, ayo kembali aku akan belikan es krim vanilla kesukaanmu," ujar Sean mulai bangkit dari duduknya sembari menarik Seira ke dalam pelukan, "Jangan sedih terus, kakak akan selalu ada buatmu. " Mereka berdua akhirnya pulang.


      Seira melihat sekeliling taman yang sudah sangat sepi. Seira tidak tahu, beberapa pasangan masih merekam kakak beradik itu dari balik pohon. Sean tersenyum sambil memberi tanda little love, dan memeluk adiknya erat. Sontak beberapa pasangan terkesima. Sedangkan Seira masih belum menyadari perbuatan  kakaknya, ia masih larut dengan pikirannya sendiri.


    Setibanya di rumah, mereka sudah ditunggu Cindy si calon kakak ipar  sekaligus sahabat Seira sejak kecil. Dengan terang-terangan Seira merengkuh leher Sean seakan-akan mereka akan melakukan ciuman. Sontak Cindy menarik paksa kekasihnya itu namun masih lebih kuat tenaga Seira. Adegan tarik menarik pun tidak terhindarkan.


    Sean muak sekali dengan kedua harimau ini. Melepaskan tarikan tangan pada gadis-gadis itu, Sean memeluk mereka berdua dengan eratnya sambil menciumi wajah mereka bergantian. Membuat Seira dan Cindy tertawa terbahak.


     "Kalian ini padahal sahabat sedari kecil, masih saja seperti bocah merebutkanku. " Sean menjewer telinga mereka berdua dengan gemas. Cindy dan Seira meringis memegangi telinga mereka.


      "Habisnya aku merasa dihianati. Kakak lebih memilih Macan itu, " ucap Seira sembari menghentakkan kakinya keras.


     Dengan santai Sean meninggalkan Seira dan Cindy. Suara dering telepon menggugah dirinya yang hampir ingin duduk. "Halo? " Tak ada jawaban, "Halo? " Masih belum ada jawaban. Sean menggelengkan kepalanya menutup gagang telepon itu masih ada saja orang iseng di jaman  modern ini.


    Sean mendongakkan kepalanya memandang langit-langit. Sekelebat ingatan kembali datang ketika ia duduk di taman tadi bersama Seira. Orang itu, orang yang menginginkan Seira ada di sekitar tempat ini. Sean sebenarnya tidak tahu jika Seira berada di taman saat itu. Ia tanpa sengaja melihat rekaman siaran langsung  di ponselnya. Pada saat itu Sean panik setengah mati. Bahaya sedang menuju adiknya kala itu.


    Ia berlari seperti dikejar maling. Bahkan Sean menyadari jika beberapa mobil yang terparkir adalah mobil milik orang-orang itu. Bertambah panik pula dirinya. Namun syukurlah, Seira baik-baik saja. Sean mengatur napasnya agar tidak terlihat mencurigakan. Bahkan ia membeli minuman di pinggir jalan agar bisa melihat adiknya itu. Pandangannya tidak lepas dari Seira dan sekeliling taman.


      "Sean! Seira menghilang!" ujar Cindy panik. Seketika lamunan Sean buyar. Sean segera bangkit menuju Cindy di ambang pintu. Pria gagah itu mendekat sambil memeluk Cindy yang hampir menangis, "tenanglah... Ayo kita cari sama-sama, " ucap Sean dingin. Raut wajahnya tampak menyeramkan.  Cindy


tidak berani menatapnya jika seperti ini. 


     Mereka sudah mencari keberadaan Seira namun tidak mendapatkan hasil apapun. Sean frustasi, rambutnya acak-acakan tapi itu terlihat sexy menurut Cindy. Andai saja Seira tidak menghilang pasti sekarang mereka sedang kumpul kebo.


     "Cindy, dimana kamu melihat Seira terakhir kali? " tanya Sean. Cindy tampak sedang mengingat bahwa terakhir ia mengejar Seira sampai belakang rumah.


     "Aku berlari di belakang rumah, dan sampai pada gudang itu. Setelah beberapa saat, aku pun kehilangan jejak Seira, " jawab Cindy sedikit ketakutan melihat mata Sean berkilat. Oh demi dewa, meskipun menyeramkan Cindy sangat tergoda sekarang. Ingin  rasanya ia memeluk tubuh kekar itu lalu mencumbunya liar.


      "Baiklah." Sean menghela napas gusar. Ia berlari menuju bagasi. Sebisa mungkin  pria tampan itu bersikap tenang. Menarik tangan Cindy kasar untuk masuk ke dalam mobilnya. "Aku antar kamu pulang, ya? " Cindy mengangguk lemah, otaknya harus segera dicuci agar pikiran kotor itu sedikit mereda. Gadis berambut hitam legam itu tahu kekasihnya sangat khawatir.


     Setelah mengantarkan Cindy, Sean melajukan mobilnya menuju rumah Andreas. Ia tahu hanya Andreas yang bisa membantunya saat ini. "Dimana kamu Seira... Kalau sampai terjadi sesuatu, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, " lirihnya


       Di tempat lain, Cindy terlihat sedang menghubungi para tetua namun ia urungkan. Cindy tahu jika ia menghubungi para tetua, Sean pasti akan murka. Ia pun terduduk lemas meratapi kebodohannya. Seharusnya Cindy mengalah saja untuk dijahili Seira dan tidak mengejarnya.