My Lovely Seira

My Lovely Seira
Bab 2



Setibanya di kediaman Andreas, pria gagah itu tanpa permisi mendobrak gerbang milik sahabatnya dengan mobilnya. Andreas yang menyaksikan kejadian itu kesal bukan main. "Dasar manusia lucknut, " ucapnya sembari berjalan menuju ke arah Sean.


     Dengan tergesa-gesa Andreas siap melayangkan bogem mentah untuk Sean. Namun sayang sekali, pukulannya meleset. Lawannya lebih gesit darinya.  Sean pun menendang kaki Andreas dengan mudah. Andreas mengangkat kakinya kesakitan. "Sialan! Mau apa kau kemari, huh?!" bentak Andreas.


      "Aku butuh bantuanmu, Seira menghilang," kata Sean langsung pada intinya. Tidak ada waktu untuk berbasa-basi.


      "Ya! Tapi tidak harus merusak gerbangku dong!" balas Andreas kesal setengah mati. Andreas sangat tidak suka jika barang miliknya dirusak atau diganggu. Pria bermata biru tua itu terkenal dengan kepelitannya.


      "Habis, kamu tidak mengangkat teleponku, aku kesal, dong."  Begitu mudahnya Sean berkata. Sejujurnya ia tidak menelpon, hanya alasan saja.


    Hampir saja umpatan kasar keluar dari mulut Andreas. Sebenarnya bukan hal pertama Seira menghilang. Hanya saja sikap Sean selalu berlebihan menurutnya. Andreas tahu gadis manis itu terkadang juga ingin bermain bersama teman sebayanya. Kehidupan Seira terlalu diatur oleh keluarganya, sehingga ia terkadang memilih kabur atau bersembunyi di tempat rahasianya.


     Andreas mendekati Sean perlahan,"Jika bisa kuhitung, ini sudah ke  lima ratus kali Seira kabur, " ujar Andreas memberi lima jari di depan wajah Sean yang kini sudah bertambah kesal.


      Masa bodoh pikir Sean. "Cepat dong cari jejaknya. Retas semua CCTV-nya di sekitar rumahku dan jalanan sekitar, " ucap Sean tidak sabar.


       Astaganaga. Kasihan sekali nasib Andreas ini, pagar rumahnya hancur, kakinya membiru, dan sahabatnya ini semakin kacau, lengkap sudah.


      "Baiklah... Akan aku bantu." Andreas menyeret kakinya menuju mobil Sean. Ia tahu Seira berada dimana sekarang, sudah waktunya sangat kakak mengetahui tempat persembunyian sangat adik. Sudah cukup petak umpetnya, sudah cukup pula barang miliknya rusak. Semua karena ulah Sean.


     "Kemana? Kan sudah aku perintahkan untuk cek—"


      " Diam kau bocah sialan! " Sean merasa sedang di hakimi oleh sahabatnya. Andreas sangat menyeramkan jika sedang marah. Seperti bapak-bapak.


    


       "Akan aku ganti semua kerugi—"


      "Kubilang diam! " bentak Andreas lagi. Kenapa sih Andreas ini marah-marah tidak jelas seperti wanita yang sedang datang bulan. "Hey, kau tahu kenapa aku sekesal ini padamu?" tanya Andreas yang jawab gelengan polos Sean.


     Damn!


      "Kau itu terbuat dari apa sih, Sean?" Andreas sudah tidak sanggup lagi jika begini. Kenapa sahabatnya ini bisa lupa jika sekarang adalah hari ulang tahun orangtua Andreas. Padahal sudah diberi undangan dari jauh hari.


     "Aku terbuat dari apa? Kau tanya itu? Tentu saja aku terbuat dari spe—"


     Pletak


     Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil milik Sean. Menghela napas, "Hey, beri Seira smartphone, aku bisa memasang GPS disana," ucap Andreas tiba-tiba. Pria asal Jerman  ini tidak habis pikir, mengapa Seira tidak memiliki benda canggih itu.


    "Kamu kan tahu, itu sangat membahayakan nyawanya, " tukas Sean. Bukannya tidak ingin, hanya saja itu beresiko.


     "Tentu saja aku mengerti, Bro. Tapi itu setidaknya membantumu mencarinya dengan mudah tanpa harus merusak rumahku, " ucap Andreas yang masih kesal.


       Sean menggeleng kuat. Ini bukan solusi tepat baginya, "Bagaimana kalau pasang alat pelacak saja di leher putihnya itu, Bro? Pasti bagus seperti di film. " Sontak saja ucapan Andreas membuat Sean segera menepikan mobilnya lalu menghajar sahabatnya itu membabi buta.


       Di tempat lain. Cindy masih penasaran dengan hilangnya Seira. Ia pun kini sudah berada di rumah Seira, mungkin saja dia bisa menemukan petunjuk. Berjalan perlahan, Cindy menyusuri taman kecil di samping rumah keluarga Seira. Sahabatnya itu sangat menyukai bunga, maka dari itu Seira membuatnya sendiri bersebelahan dengan kamarnya. Kini Cindy menengok ke arah kamar itu, jendelanya terbuka lebar. Gadis kurus itu pun segera menutup jendela kamar itu perlahan.


What the—


     Terlihat seorang gadis berambut pirang sedang tertidur. Matanya tertutup rapat, seakan menandakan tidurnya sangat nyenyak. Deru napas Cindy begitu memburu. Segera saja ia menghampiri Seira di kamarnya, sambil mulutnya berkomat-kamit berisi umpatan.


     Ingin rasanya Cindy memukul bokong Seira saat ini juga, namun ia tahan. Sebuah ide muncul di otaknya. Cindy mencari lipstik di meja rias, tidak ada. Hanya liptint  merk Comel yang ia temukan, "Baiklah, rasakan pembalasanku. " Cindy mulai melukis wajah Seira dengan liptint itu, sembari terkikik geli melihat wajah Seira yang cemong. Kemudian sentuhan  terakhir yaitu mengacak-acak rambut Seira, Ia sangat puas sekarang. Pembalasan yang sempurna baginya.


       Setelah puas mengerjai Seira, ia segera menelpon kekasihnya, Sean.  Ia yakin jika Sean masih kebingungan saat ini.


     Sean dan Andreas sedang duduk di tepi jalan. Wajah mereka babak belur, terutama Andreas yang terlihat parah. Luka Sean tidak seberapa, wajah tampannya masih terpancar jelas.


     "Kau tahu, Bro? Ini perkelahian yang seru, kalau saja tadi orang-orang tidak mengira kita sedang bercinta, mungkin kau sudah kalah, " ujar Andreas sambil menyalakan rokoknya.


     Sean tersenyum miring, "Kamu tidak akan menang melawanku, dari kecil sampai sebesar ini. " Sean menenggak air mineralnya lalu menyiramkan sisa air itu ke wajahnya.


    Andreas mendengus, sikap sombong Sean sungguh keterlaluan. Ia bangkit untuk segera melanjutkan perjalanan mencari Seira.


    "Ayo kita pergi. Bukannya tadi kau panik seperti orang gila? " cemooh Andreas.


    "Dia ada di rumah. Barusan Cindy menelpon. Sedang tidur seperti putri tidur. "


    Mulut Andreas menganga sempurna, "What the hell! "


    Dengan wajah polosnya, Sean tersenyum geli melihat sahabatnya berkali-kali mengumpat.