
"Kok kau belum pulang? Mana Fredy? " tanya Ilyas pada Seira yang sedang berdiri di belakangnya.
"Aku tidak akan pulang. Kau yang bilang sendiri sedang menculikku, " sergahnya sembari berkacak pinggang.
Ilyas menghela napas kasar, gadis aneh ini rupanya ingin bermain-main dengannya, "aku berubah pikiran, sudah tidak berminat denganmu. Jadi, pergilah sebelum aku benar-benar melakukan sesuatu yang buruk padamu, Seira. "
Setelah mengatakan itu, ia pergi ke kamarnya dan tentu saja Seira masih membuntuti Ilyas. Sudah kepalang tanggung begini tidak mungkin Seira pergi begitu saja.
"Aku tidak akan kemana-mana, kau kan sudah bilang ingin mengatakan sesuatu, " ujar Seira kesal.
"Masih belum, " Kata Ilyas sembari akan menutup pintu kamarnya namun segera ditahan oleh Seira.
Sejujurnya, sedari tadi ia sudah menahan diri agar tidak terpesona dengan gadis di hadapannya itu. Wajah cantiknya selalu membayangi pikirannya, ingin rasanya ia memeluk tubuh mungil itu dengan erat, mengulum bibir merah muda itu hingga puas. Tapi itu hanya angan saja.
"Ku mohon pergilah. Jika sudah saatnya
... pasti akan aku ceritakan padamu, " Ucapnya lagi sembari menutup pintu meniggalkan Seira dalam keheningan.
"Dasar pria aneh, plin-plan juga. Huh! Lemah sekali, " gerutu seseorang di ujung lorong. Sontak saja Seira terkejut bukan main, pria penuh tatto sedang bersandar di tembok seraya bergumam sendirian.
Seira mendekati laki-laki itu lalu bertanya, "maaf, anda siapa? "
"Erick, namaku Erick, " jawab Erick sambil tersenyum lalu mengulurkan tangannya mengajak Seira bersalaman.
"Oh, baiklah ... permisi." Seira tidak menyambut uluran tangan Erick, malah ia berlalu begitu saja.
"Kupikir dia itu wanita panggilan, ternyata bukan. Tapi—cantik juga. " Erick tersenyum simpul. Ia segera memasuki kamar Ilyas yang tidak terkunci.
"Hey, Bro sedang apa kau? "
Tak ada jawaban, Ilyas tampak sedang berdiri menghadap jendela sambil memegang gelas bekas Seira minum tadi.
"Ternyata kau sudah besar ya, Dude. Sudah berani bawa perempuan ke rumah, " ucap Erick bangga pada sahabatnya itu.
"Apa maksudmu? " tanya Ilyas.
" Perempuan tadi, seleramu lumayan juga. Jika sudah bosan, kau bisa lemparkan padaku, "
Seketika Ilyas marah dan meraih kemeja atas Erick lalu menariknya kasar, "Dia milikku, hanya milikku. "
"O—okay, aku tidak akan merebutnya darimu, Dude. Tenanglah. "
Erick bingung dengan sahabat baiknya itu, akhir-akhir ini mood Ilyas sedang tidak baik sepertinya. Ia memilih keluar kembali dari kama Ilyas karena sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara santai.
"Mau kemana kau? " Tanya Ilyas mengangkat sebelah alisnya, "ada hal penting apa sekarang? " sambungnya.
"Uhm ... Ku pikir ini bukan waktu yang tepat, " jawab Erick sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau yakin? "
"Yeah! Nanti saja akan aku beritahu. " Segera saja Erick kabur dari sana. Saat turun dari tangga, Erick melihat Seira yang masih terduduk lesu tak bertenaga. Ia pun menghampirinya tanpa ragu.
"Manis, kau masih di sini? Mau ku antar pulang tidak? " tanya Erick yang kini duduk berhadapan dengan Seira.
Bukannya menjawab, Seira malah mengacuhkan Erick. Kejam sekali, batin Erick.
"Siapa namamu, Manis? " Erick bertanya lagi.
Seira masih acuh pada Erick yang kini semakin tertarik dengan sikap gadis itu. Menarik sekali, baru kali ini ia diacuhkan, biasanya Erick selalu dikejar-kejar para gadis bahkan popularitasnya melebihi selebritis.
"Okay, aku takkan bertanya lagi. Jika kau ingin pulang, mari ku antar, " ajak Erick sambil berdiri menjulang di hadapan Seira.
Erick pun menyerah dan kini berlalu begitu saja meninggalkan Seira sendirian di ruang tamu. Meski ia tertarik dengan gadis itu, namun sepertinya akan sangat sulit mendekati gadis spesial pilihan Ilyas.
"Apakah memang belum waktunya? " tanyanya pada diri sendiri. Yeah mungkin sebaiknya Seira menyerah untuk saat ini, ia akan pulang sebelum keadaan semakin kacau di rumahnya.
"Maaf ... bisa kau antarkan aku pulang? "
Fredy yang sedang membaca koran pun sedikit terkejut karena gadis itu tiba-tiba saja berada di hadapannya. Fredy tersenyum sekilas lalu mengangguk paham.
\*\*\*
"Bagaimana, Mike? Apakah belum ada kabar!? " tanya Angela masih mondar-mandir khawatir.
"Sudah, dia dibawa Ilyas. " Suara Mike terdengar gemeteran.
Angela menutup mulutnya tidak percaya, bagaimana mungkin dirinya bisa lengah. Seharusnya ia tidak mengizinkan anaknya pergi malam itu, jika saja Angela tidak berkata ya pada saat itu. Padahal besok adalah hari pernikahan Sean, sebagian dekorasi sudah selesai dlakukan, meskipun keadaan rumah sedang kacau karena hilangnya Seira.
Mike yang melihat istrinya tidak berhenti menangis mencoba menghibur dengan pelukan hangat. Ia tahu jika keluarganya selalu tidak tenang, Mike pun akhirnya memutuskan untuk memboyong keluarganya ke Jepang bulan depan. Itu pun jika Seira segera ditemukan, sedangkan Sean akan pindah bersama Cindy ke New Zealand setelah resmi menikah nanti. Ini keputusan mutlak, tidak ada yang bisa menghentikan itu.
"Daad!"
Seketika semua orang tertuju pada sumber suara yang berasal dari arah pintu utama. Seira sedang berdiri sambil tersenyum manis kepada meraka.
"Aku pulang, " ucapnya lemas.
Angela yang melihatnya pun langsung berhamburan mendekap tubuh Seira dengan eratnya. Tangisannya tersedu-sedu terasa begitu menyiksa.
Seira mengerti dengan semua keributan yang ada karena semua ini adalah ulahnya. Ia menyesal, ia juga berjanji takkan melakukan hal bodoh lagi.
"Maaf, Mom, jika aku selalu membuatmu menderita. " Dengan lembut, Seira mencium pipi Angela.
"Tidak, semua tidak benar, Sayang. Kau anugerah dari Tuhan untuk kami, " ucap Angela sambil tersenyum tulus, "jadi ... jangan berbicara seperti itu, ya? " sambungnya.
Gadis itu mengangguk mengerti. Ia pun segera menghampiri Mike yang sedari tadi menatap tajam dirinya. Sedikit takut, namun Seira memberanikan diri untuk mendekat. Tentu saja, Mike dengan sigap memeluknya dengan erat. Semua orang bisa bernapas lega kali ini.
Sedangkan Sean yang kini mengikuti Andreas dari belakang tampak kesulitan membuntutinya. Sahabatnya itu melarang dirinya untuk ikut terlibat dalam masalah ini. Namun bukan Sean namanya jika tidak penasaran pada apa yang akan terjadi dengan Andreas.
"Dasar! Hampir saja kehilangan jejaknya, " umpatnya ketika salah satu mobil menyalip menghalangi pandangannya.
Sean berhasil menemukan Andreas yang kini berada di sebuah gedung setengah jadi. Ia pun turun dari mobilnya kemudian masuk ke gedung tersebut diikuti dengan Sean yang mengendap-endap ikut masuk.
"Si bodoh ini, mau apa datang ke tempat seperti ini!? " lirih Sean menahan kekesalannya.
Saat tiba di dalam gedung itu, Andreas melihat sosok pria bertopi hitam serta pakaiannya juga serba hitam. Pria itu sedang berdiri sambil menghisap rokok berbau ganja. Andreas pun mendekati pria itu yang sendirian ditemani tong besar berisi kobaran api besar.
"Besar juga nyalimu," kata pria bertopi hitam itu tanpa menoleh pada Andreas.
"Tuan Jay, kau kah itu? " tanya Andreas penasaran.
"Ya, ini aku. " Jay pun menoleh sekilas lalu kembali memalingkan wajahnya ke depan, "penghianat tidak pantas hidup, " lanjutnya sembari membuang rokok itu lalu diinjak-injaknya.
"Apa maksud kata-kata anda, Tuan? Aku tidak mengerti, " sergah Andreas berpura-pura tidak tahu.
Jay menyeringai lalu terkekeh bak seorang iblis jahat, "penyamaranmu kurang rapih, jadi kau sudah game over. "
Andreas membulatkan matanya tidak percaya, bagaimana mungkin ia bisa ketahuan begini. Tanpa aba-aba lagi, Andreas menyerang Jay dengan tinjuan mautnya, tangannya sudah terlatih untuk bertarung. Sedangkan Jay bisa menahan pukulan itu dari wajahnya dengan sekali tangkis.
Kembali mereka saling menghajar satu sama lain. Sedangkan Sean yang menyaksikan keduanya sedang bertarung, tampak tidak tega melihat wajah Jay yang babak belur akibat serangan bertubi-tubi dari Andreas. Namun Sean tetap bertahan di balik tembok untuk memantau saja.
Jay sadar jika lawannya bukanlah orang sembarangan, lawannya adalah petarung sejati yang tidak pernah kalah satu kali pun. Tapi, ia juga tidak mau menyerah begitu saja dalam keadaan ini.