
Malam semakin mencekam ketika dua lelaki perkasa itu saling beradu kekuatan untuk sebuah pembuktian pastinya. Andreas yang semakin ganas pun tidak melepaskan kesempatan saat Jay sudah mulai kelelahan menghadapinya sedari tadi tanpa ada yang membantu. Ia sengaja tidak menyuruh anak buahnya untuk datang, Jay penasaran dengan Andreas yang tak pernah kalah dengan lawannya itu.
Jay rasa memang pantas jika Andreas dijuluki Raja petarung sejati dan pantas juga bagi dirinya untuk menjadikan pria itu sebagai tamengnya. Tentu sepertinya terlihat sulit karena Andreas adalah bagian dari keluarga Rodrigues. Jalan satu-satunya adalah Jay harus beraliansi dengan keluarga Rodrigues.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Tiga pukulan keras menghantam betis kiri Jay yang sedari tadi sudah menjadi incaran Andreas. Wajah bengisnya merasa belum puas karena dirinya mengincar ulu hati milik Jay.
Sean masih terdiam menyaksikan keduanya tanpa berpikir untuk bergabung karena ia belum tahu apa yang sebenarnya Andreas incar. Setelah merasa kehadirannya sia-sia saja Sean pun memilih untuk kembali mencari keberadaan adiknya itu. Mungkin dengan dia mendatangi rumah Ilyas bisa menemukan petunjuk penting.
Krakk! Krakk!
Aaaargghh!
Teriakan Andreas menggema ke seluruh penjuru gedung tatkala Jay berhasil menarik tangan kanan milik Andreas yang sudah geser sedari lama.
"Apakah sesakit itu, Dude? Ku pikir sudah kau betulkan, " cemooh Jay sembari menyeka darah dari sudut bibirnya yang robek.
"Sialan kau! " geram Andreas mencoba menahan rasa sakit yang sudah lama ia lupakan.
"Hahaha! Kau ingat aku, kan? "
"Tentu saja, kau orang itu, orang yang membuatku hampir cacat." Sedikit melupakan kesaktiannya, Andreas pun berjalan mendekati Jay dengan gontai.
"Ah, aku tak suka saat kata-kata itu kembali terlontar. Sudah hampir lima jelas tahun berlalu kejadian itu, Man. " Sembari tersenyum miring, Jay pun meraih pundak lawannya lalu direngkuhnya. "Akhirnya kau kembali mengingatku, Kakak, " ucap Jay lembut .
"Jika kau tidak menyentuh lukaku, mungkin aku tidak mengingatmu. " Suara Andreas lemah diiringi tetesan air mata.
Keduanya saling menepuk pundak masing-masing merasakan rindu antara kakak dan beradik. Sudah hampir dua puluh lima tahun mereka tidak bertemu sebagai saudara. Jay yang menyadari lebih dulu jika Andreas adalah Kakaknya itu tentu sangat terkejut, terlebih lagi yang Jay tahu jika Andreas sudah tewas karena sebuah kecelakaan hebat pada masa itu. Jasad Andreas memang tidak ditemukan namun seluruh anggota keluarganya tewas kecuali Ibunya yang berhasil diselamatkan.
Andreas mulai menceritakan kejadian menakutkan itu pada adiknya. Kala itu, sang ibu berniat pergi ke luar kota untuk menghadiri acara penting, tempatnya memang sedikit terpencil karena meski melewati jalanan aspal ternyata jalanan itu di kelilingi hutan di sebelah kiri jalan, sedangkan sebelah kanannya adalah lautan lepas. Tiba-tiba si supir tidak bisa menekan rem karena jalanan yang menurun tentu ia harus mengatur remnya.
Sayangnya kecelakaan terjadi begitu cepat sehingga mereka terguling menuju hutan lebat. Andreas remaja berhasil selamat dari tergulingnya mobil itu setelah ia menyelamatkan sang ibu yang terjepit. Sang ibu setengah sadar menyalahkan Andreas dan menyuruhnya untuk menjauh dari kehidupannya. Andreas dengan kepolosannya tentu menurutnya saja tanpa bertanya mengapa.
Kaki kurusnya terus menyusuri jalanan tanpa kendaraan yang melewati dirinya. Meski tertatih-tatih, tapi ia terus berjalan tanpa tujuan pasti.
Tubuhnya kekurangan cairan, matanya buram, seluruh badannya kesakitan, namun ia masih bertahan saat malam menjelang.
Bruukk!
Tiba-tiba saja tubuhnya ambruk dan ia kehilangan kesadaran.
Sebuah mobil mewah melintas di jalanan itu, lalu mobil itu berhenti saat melihat tubuh Andreas terkulai lemas di tengah-tengah jalan aspal itu.
Tanpa membuang waktu, sepasang suami istri muda turun dan menghampiri Andreas yang terluka parah. Keduanya terkejut melihat tubuh Andreas penuh luka, bajunya compang-camping tak beraturan. Mereka pun merasa iba melihatnya dan mereka yakin jika anak laki-laki ini korban perdagangan manusia mengingat jika jalan ini hanya di kelilingi hutan belantara saja.
Mereka sepakat untuk membawa Andreas untuk segera diselamatkan.
Kembali ke masa sekarang, Andreas menceritakan itu sambil terus mengusap air matanya. Ia kini sudah memiliki keluarga baru yang menyayangi dirinya seperti anak sendiri yaitu Keluarga McCartney.
Andreas pun berkata, "jangan kau suruh aku untuk bertemu dengannya, bagiku ... Dia sudah mati saat kecelakaan yang kau buat itu. Kau paham, Jay? "
Mendengar perkataan Kakaknya, Jay sedikit kecewa sebenarnya namun ia mencoba memahami kakaknya itu. Tentu ia juga sadar dengan ketidak sengajaan dirinya merusak rem mobil ayahnya yang mengakibatkan kecelakaan itu.
"Aku mengerti, " balas Jay tersenyum tulus.
"Jangan kau lupakan, Joe Levine sudah tidak ada, yang ada hanya Andreas McCartney. Kau mengerti, Jay? "
Jay memutar bola matanya malas, " Gue paham, " jawabnya menggunakan bahasa modern orang Indonesia.
Andreas terkekeh geli melihat adiknya masih saja mengingat bahasa dari kampung halaman mereka itu.
"Kau masih belum membenarkan tulangmu yang bergeser itu? " tanya Jay penasaran.
"Tidak, aku sengaja, karena jika aku benarkan—mungkin kita takkan bisa seperti ini, " jawab Andreas mengulurkan tangan kirinya. Ia ingat jika tangannya bisa seperti itu akibat Jay yang tidak sengaja membuatnya jatuh dari atas pohon kelapa. Jay remaja yang melihatnya malah tertawa sedangkan Andreas kesakitan.
Meraka pun memutuskan untuk pulang masing-masing namun Jay sekali lagi meratapi ketidak kesengajaannya itu.
"Tunggu, " cegah Jay saat Andreas akan pergi.
Andreas mengernyit bingung, "apa? "
Ragu-ragu Jay berkata, " Maaf, orang suruhanmu sudah ku bakar, " katanya sembari menunjuk tong berisi kobaran api itu.
Andreas hanya mengangguk saja lalu kembali berjalan, tapi ia sadar seketika jika dirinya datang ke tempat ini untuk mencari Jean.
"Kau Psikopat ulung! " Andreas memukuli Jay lagi dan lagi. Ia marah besar karena Jean adalah partner kerjanya yang terbaik namun sekarang sudah mati terbakar dan menjadi abu.