
Kini Seira dan Sean duduk termenung, entah apa yang dipikirkan mereka. Sean memalingkan wajahnya ketika Seira mencoba menyentuh telapak tangannya. Ternyata sang kakak masih marah. Seira masih belum mengerti mengapa kakanya begitu marah saat ini. Pagi itu memang tanpa sengaja ia menemukan sapu tangan itu di tempat sampah, kemudian ia memungutnya lalu menyimpannya.
Di saat itu pun, Seira mendengar percakapan antara Sean, dan kedua orangtuanya membicarakan pria yang datang di tengah malam itu. Semenjak Seira tahu, ia jadi penasaran dengan sosok Ilyas, apalagi kemarin ia bertubrukan dengannya.
"Sejak kapan kamu menyimpan sampah itu? " tanya Sean mengejutkan Seira dari lamunannya.
Seira takut, belum pernah melihat Sean yang marah seperti ini.
"Untuk apa kamu menyimpannya? Kan sudah aku buang, " Sergah Sean lagi.
Seira masih terdiam, takut untuk menjawabnya.
Sean menyisir rambutnya frustasi. Ia tahu jika Seira hidup dalam ketidaknyamanannya. Gadis lugu ini bahkan menuruti saja apa yang keluarga Rodrigues perintahkan. Tidak ada bantahan bahkan kekecewaan.
"Redakan dulu emosimu, Kak. Aku akan ke kamar saja, " Ucap Seira sembari bangkit dari duduknya. Ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan dari Sean.
Sean yang melihatnya hanya pasrah, tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Emosinya masih tertahan, Sean butuh seseorang untuk dihajar.
Dari lantai atas, tampak Mike dan Angela sedang memerhatikan. Tatapan mereka sayu, Angela bisa saja mengatakan yang sesungguhnya pada Seira jika Ilyas adalah orang yang ingin membunuhnya. Tapi, Mike melarang. Masih belum waktunya, Mike takut jika putri kesayangannya akan tertekan.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan? " Tanya Angela.
Mike berbisik pada Angela, "Kita harus memperketat penjagaan untuk Seira. Aku akan menghubungi BS(Black Sniper) dari China. "
Angela menyeringai kemudian mengangguk mengerti.
\*\*\*
Di tempat lain, Jay sedang menuju kediaman Ilyas, ada hal yang harus ia bicarakan tentang acara besar-besaran malam nanti. Karena Jay tahu, jika Ilyas sedang tidak bersemangat.
Di tengah perjalanan, ia memberhentikan mobilnya untuk membeli Mie Cup di Minimarket. Jay memang sangat menyukai makanan instan itu, ia berniat untuk memakannya di rumah Ilyas. Saat turun dari mobilnya, Jay melepas kacamata hitamnya membuat beberapa orang terpaku akan ketampanannya. Wajah khas asia itu berhasil menyihir para gadis, dan wanita di sana.
Dengan santai, Jay melewati mereka dengan sopan, namun tiba-tiba seorang gadis bertubuh gemuk menyenggol lengannya cukup keras hingga dirinya hampir tumbang. Jay melongo saat gadis itu berjalan seenaknya tanpa menoleh sedikitpun.
Jay mencoba mengejar gadis gemuk itu, namun tiba-tiba pula si gadis berhenti, dan Jay pun menabrak tubuhnya sampai mereka berdua jatuh bertumpuk.
"Hay, apa-apaan kau? Jalan pakai mata dong, dasar tidak sopan! " Seru gadis gemuk itu.
Jay mencoba bangkit sambil membantu gadis itu bangkit, "Kau yang tiba-tiba berhenti, kau juga tadi menyenggolku sampai aku mau jatuh. "
Si gadis malah mengerucutkan bibirnya sembari berjalan menjauh, dan mengangkat jari tengahnya ke udara. Jay yang melihatnya tertawa masam, baru kali ini ia diperlakukan tidak sopan. Pria dengan profesi Binaragawan itu masih menjunjung tinggi sopan santun dari Ibunya yang berasal dari Indonesia.
"Yang benar saja. " Jay kesal namun ia mencoba menutupi. Orang-orang yang tadi memerhatikan kejadian itu mulai mencari-cari keberadaan si gadis gemuk, namun tidak ada di sana. Jay pun mencoba menenangkan kemudian segera keluar dari Minimarket , ia tidak jadi beli Mie Cup karena moodnya rusak.
Segera ia memasuki mobilnya, dan melajukan dengan kecepatan tinggi. Wajahnya memerah menahan emosi.
Sialan! Umpatnya.
Di sisi lain, gadis gemuk itu baru keluar dari toilet, sedari tadi ia sudah kebelet sampai beberapa orang ditabraknya.
"Hey, Babi! Dasar tidak tahu diri, orang jelek memang sesuai dengan perilaku jelek ya, Babi?" Cecar sekumpulan wanita-wanita sexy.
"Sudah jelek, tidak sopan, tenang sekali hidupmu, ya! " Seru wanita lainnya.
"Jika aku jadi kau, lebih baik tidak dilahirkan, " Ucap wanita berambut merah.
Tidak ada jawaban dari gadis itu, ia masih terdiam menunduk.
Tiba-tiba suasana menjadi ramai kembali.
Woaaah! Tampan sekali!
Keributan kembali terjadi setelah Pria dengan tato hampir seluruh tubuh datang ke Minimarket tersebut. Sepertinya, Manager Minimarket itu sedang hoki sekarang, buktinya sudah dua pria tampan datang ke tempat ini.
Wanita-wanita sexy yang sedang mem-bully gadis gendut, kini mendekati pria bertato itu. Dia adalah Erick, sehabis mentato tubuhnya, tiba-tiba saja ia ingin ke Minimarket. Mungkin ingin membeli \*\*\*\*\*\*.
Ia mengabaikan kerumunan para wanita di sana lalu melewati nya dengan berjalan ala model, Erick menghampiri si gadis gemuk itu, "Kau baik-baik saja, cutie, Siapa namamu? "
Gadis itu mendongakkan wajahnya begitu tinggi, pria di hadapannya itu sangat tinggi.
"Na—namaku Rein, " Ucapnya sambil membenarkan kacamata tebal miliknya.
Erick mengangguk sembari menunjukkan smirk mautnya, " Kau mau beli sesuatu, Rein?" Tanya Erick lagi yang kini sudah menyudutkannya di tembok.
Rein hanya mengangguk kikuk, pipi bulatnya memerah karena malu, Erick pun gemas hingga mencubit pipi kiri Rein. Semua mata yang melihat kejadian cubit-cubitan itu merasa sangat iri, mereka juga ingin dicubit seperti Rein. Para wanita itu pun pergi berlalu meninggalkan Erick, dan Rein dengan rasa kecewa.
"Maaf, Tuan, sebenarnya anda ini siapa,mengapa tiba-tiba baik kepadaku? " tanya Rein sambil memegangi ujung sweaternya.
Erick tersenyum miring, melihat orang gemuk mengingatkannya pada diri sendiri. Dulu saat masih kecil, Erick memiliki tubuh yang subur, karena itu pula ia sering di-bully. Namun Erick selalu dilindungi oleh Ilyas, karena itulah pria berambut coklat tua ini paling tidak suka dengan bullying.
"Baiklah, sepertinya sudah aman sekarang. Aku harus pergi, Cutie. See ya. " Erick pun berlalu meninggalkan Rein yang kaku seperti patung, jantungnya seperti sedang maraton sekarang.
"Semoga saja aku bisa bertemu dengannya lagi, " Lirihnya sambil memegangi dadanya.
Di waktu itu pula, Jay sudah sampai di kediaman Ilyas dengan perasaan masih jengkel. Ia menghempaskan bokongnya di sofa dengan kasar. Ilyas yang sedang pura-pura tidur pun menengok ke arah samping. Sebenarnya Ilyas ingin tidur seharian ini, namun ternyata ada tamu yang tidak diundang.
"Mood memburuk, huh? " Ejek Ilyas. Dengan malas ia bangun dari ranjangnya, "Ada apa? " lanjutnya.
Jay menggeleng kemudian ia menyalakan ponselnya untuk bermain game. Partner gamenya sudah menunggu. Ilyas pun merasa kesal, untuk apa kemari kalau hanya menumpang bermain game. Ilyas hanya geleng-geleng kepala,dan berlalu menuju kamar mandi
Sesaat kemudian Erick pun tiba dengan senyum sumringah menampilkan lesung pipinya. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Ilyas, pria itu belum menyadari jika Jay sudah ada di sana.
Erick bahkan bersenandung riang lalu bangkit, dan menari ala balerina. Jay yang sedari tadi merekam aksi sahabatnya itu membekap mulutnya dengan satu tangan, matanya sampai berair menahan tawa.
Ilyas muncul dengan handuk melingkar di pinggangnya, melongo menyaksikan Jay yang sedang menahan tawa, dan Erick menari dengan riang gembira. Ilyas memilih masuk kembali ke kamar mandi dengan malas lalu membuka pintu darurat yang terhubung ke ruang pribadinya. Ia lelah melihat kelakuan kedua sahabatnya itu. Ia juga tidak mau ketularan gila seperti mereka.
Setelah memakai kaos hitamnya, Ilyas berdiri di depan cermin besar. Bayangan akan wajah Seira kembali berkeliaran di otaknya, ingin rasanya ia bertemu kembali, dan meraih rambut pirang yang panjang itu. Mata Ilyas terpejam seakan merasakan kehadiran Seira, namun bayangan jika ia harus membunuh Seira kini datang membuat ia berkeringat. Tubuhnya merosot ke lantai, jika boleh memilih, Ilyas ingin melupakan kenangan kelam itu bahkan ia ingin kembali dekat dengan Seira. Ilyas pun menangis dalam diam, meratapi segala penderitaan ini sendiri.