My Lovely Seira

My Lovely Seira
Bab 4



  "Kalian sudah sampai? Kenapa tidak meneleponku?" tanya Sean setibanya Angela dan Mike datang. Bukannya menjawab, mereka berlalu begitu saja melewati Sean yang masih merentangkan tangannya di udara.


    "Yang benar saja, aku di abaikan? Kalau tahu begini aku tidak akan memberi tahu kalian. " Sean  memilih pergi ke dapur untuk untuk membuat kopi.


    Sementara Angela sedikit terkejut melihat Seira yang wajahnya masih belepotan. Wanita cantik itu tersenyum geli lalu mengambil tisu basah dari tas kecilnya. Angela mulai membersihkan wajah anak kesayangannya itu dengan lembut, takut jika Seira terbangun.


      Mike masih berdiri di ambang pintu sembari menghisap cerutunya dalam. Semua masih terkendali pikirnya.


       "Kau sangat ketakutan tadi, apa sekarang sudah lebih baik? " tanya Mike mulai mendekati istrinya lalu sedikit memijat punggung Angela lembut.


      "Yeah, kau tidak tahu perasaan seorang Ibu, Mike. Aku begitu mencintainya lebih dari nyawaku. " Suara Angela sedikit bergetar. Bulir-bulir bening mulai menetes satu persatu. Ia menahannya sedari kemarin.


      "Kita sudah menjaganya lebih dari kemampuan kita, Sayang. Seira pun sudah tumbuh menjadi gadis dewasa sekarang. " Mike dapat melihat raut wajah istrinya yang kini tersenyum lega.


       "Ayo, biarkan dia istirahat, kita juga butuh ranjang sekarang, " lanjut Mike.


     Mereka pun pergi meninggalkan kamar Seira. Sean yang tak sengaja mendengar percakapan mereka ikut terharu, meski Seira bukan adik kandungnya, Sean sudah menganggap Seira saudaranya sendiri.


                                               ***


     Hari semakin terik, sinarnya cukup menusuk ke wajah gadis yang kini mulai terusik tidurnya. Dengan terpaksa ia bangun, langkahnya gontai hampir saja menabrak tembok.


     Setelah hampir satu jam di kamar mandi, kini Seira sudah tampil cantik bak putri dari negeri dongeng. Ia menuruni tangga dan di sana sudah ada Sean, serta kedua orangtuanya. Seira sedikit heran sebentar, namun  ia sudah bisa menebak jika kakaknya lah pelaku yang membuat mereka pulang lebih cepat.


        "Lihat, Putri Seira sudah bangun dari tidur panjangnya, " kekeh Sean.


     Seira memukul Sean pelan, kakanya ini sungguh memang menjengkelkan. Dengan hangat, Seira  memberi kecupan kepada Mike dan Angela, "Kalian pulang lebih awal, sampai jam berapa, kok aku enggak tahu, " ucap Seira yang kini mulai menggeser tempat duduknya.


      Angela tersenyum, "subuh tadi, kamu masih tidur, dan sekarang baru bangun. "


     "Jangan begadang terus, lihat matamu seperti panda habis melahirkan. " Kini giliran Mike membeo. Seira mengerucutkan bibirnya.


     "Semalam aku tidak bisa tidur, Dad. " sahut Seira.


       Mike mengangguk, "Baiklah, jangan memikirkan hal tidak penting,kau minta apa saja akan Dad berikan. Yang penting kamu senang, Nak. " Mike tersenyum hangat membuat Seira merasa bersalah. Seharusnya anak gadis tidak boleh bangun kesiangan.


      Sean yang mendengar sang ayah bicara seperti itu sangat bahagia, "besok aku akan begadang lalu bangun kesiangan, dan akan meminta yacht baru. Bolehkan, Dad?


Pletak!


       " Aww! Apa-apaan kau Dad? Menyebalkan, " gerutu Sean sambil memegangi keningnya yang habis di sentil oleh Mike.


       Semua orang di sana tertawa melihat kelakuan anak dan ayah itu. Mike ingat jika bulan lalu Sean membeli Yacht baru di Colombia, dan sekarang ingin membeli lagi? Sean pantas untuk disentil.


      "Seira mencoba menjadi anak yang baik untuk kalian, " ucap Seira tiba-tiba, membuat orang-orang di sana menatapnya bingung.


      Alis Sean bertaut, "sepertinya anak gadis kalian sudah besar. Biasanya dia kan acuh sekali. "


      Seira menyenggol lengan Sean membuat sarapannya hampir jatuh. Semua orang tertawa melihat tingkah mereka.


      "Kau sudah lihat hadiahmu, Nak? " tanya Angela.


    Seira mendongak lalu mengangguk. Angela tersenyum senang membuat keriput di wajahnya semakin terlihat.


      "Hadiahku mana? Masa cuma Seira, " ujar Sean sambil menadahkan kedua tangannya di depan Mike dan Angela.


     Tingkah Sean yang manja malah membuat orangtuanya jengkel, mereka tahu jika Sean adalah sosok yang serius, dan jarang bercanda. Namun, jika dia sedang berhadapan dengan Seira, lain lagi sikapnya. Itu semata-mata hanya untuk membuat sangat adik merasa nyaman.


       Sean juga tidak ingin Seira tahu jika mereka bukanlah saudara kandung, cukup mengetahui bahwa Sean begitu menyayanginya.


     Setelah selesai sarapan, Seira segera beranjak untuk melihat kembali hadiah dari ibunya. Benda langka itu akan ia gunakan sebagai penelitian bersama Rein, ia berharap akan mendapatkan nilai bagus, dan bisa masuk ke Universitas ternama di London.


       "Bentuknya aneh, sebuah bunga dikelilingi oleh banyak ular kobra, mengesankan. " Seira terkagum dengan benda itu. Dalam bayangannya apakah benda ini ada makhluk lain. Seira menggelengkan kepalanya, sepertinya otak Seira masih belum sadar.


         Siang ini, Seira bersiap ke rumah Rein, sahabatnya, sembari membawa benda itu untuk dijadikan  bahan penelitian mereka. Seira hanya bejalan kaki saja karena rumah Rein tidak terlalu jauh dari rumahnya.


      Di tengah perjalanan, Seira tidak sengaja menangkap siluet tinggi besar di seberang jalan. Seira menyipitkan matanya, namun sayang sekali sosok itu sudah pergi. Seira mengangkat bahunya, dan melanjutkan perjalanan.


        Ilyas berhasil bersembunyi di toko bunga, hampir saja ketahuan. Sedari tadi Ilyas memang memantau Seira dari kejauhan, beruntungnya ia dapat melihat kembali gadis manis itu. Senyum sinisnya tanpa terasa terukir, sejak malam itu, Ilyas terus memikirkan Seira, pikirannya penuh dengan gadis itu. Entah apa yang terjadi Ilyas begitu rindu dengan sikap acuh Seira.


      "Tuan, apakah anda ingin membeli bunga? " tanya penjual bunga itu. Ilyas membalikan badannya, ia terkejut karena di belakangnya sudah berkumpul para gadis sedang terkagum-kagum dengan ketampanannya.


                                                ***


      Di tempat lain, Sean tampak sedang  asyik dengan Cindy. Mereka sedang memilih wedding dress mereka.


       "Tolong ambilkan yang jangan menonjolkan bagian yang tidak menonjol, " sembur Sean pada beberapa karyawan di sana. Mereka mengangguk mengerti.


       "Kau itu bicara apa? 38 apa kurang menonjol?"  Cindy cukup kesal dengan Sean yang sedari tadi tampak tidak serius.


       Sean memalingkan wajahnya malas, ia hanya tidak ingin Cindy terlihat sexy di mata para tamu undangan nanti. Sean tidak sudi jika harus berbagi keindahan itu dengan orang lain.


        "Pokoknya—aku mau yang simpel namun elegan, bila perlu yang sangat tertutup sekali jangan ada celah sedikitpun. Itu saja, Sayang, " ucap Sean lalu bangkit hendak ke toilet.


       Cindy  dibuat melongo karena sifat posesif Sean, padahal ia hanya ingin tampil sempurna di acara pernikahannya nanti. Cindy menghentakkan kakinya kesal, sudah berapa potong gaun yang gagal masuk kriteria Sean. Ia lelah sekali, ingin segera pulang dan berendam air hangat.


                                           ***


        Seira kini sudah berada di kamar Rein, gadis berkacamata, dan juga begitu gembul badannya. Rein adalah sahabat kedua setelah Cindy. Rein tampak kagum dengan benda yang dibawa Seira.


      "Seira, jika begini, kita akan mendapatkan nilai yang bagus, " ucap Rein begitu bersemangat memandangi benda itu, "berkilau sekali, " Lanjutnya.


     "Yeah, Ibuku mendapatkannya dari Indonesia, keren bukan? "


      Rhein mengangguk berkali-kali kemudian mereka saling berpelukan. Tujuan mereka agar mendapatkan benda langka sudah tercapai, itu juga memudahkan mereka untuk masuk Universitas ternama di London.


        "Hey, kemarin aku lihat Live streamingmu di Acebook, kalian berdua berhasil membuat para penonton iri, tahu! " Seru Rein sambil membayangkan adegan Sean memeluk posesif Seira.


Seira terdiam.


      "Sudah ditonton beribu-ribu kali, loh, " lanjut Rein seraya menangkup pipi Seira.


       "Apa yang kau bicarakan, Rein? " tanya Seira bingung.


      Kemudian Rein pun menunjukkan rekaman video itu dari smartphone-nya.


        Seira melebarkan matanya terkejut. Gadis itu melihat dirinya sedang melamun di taman , lalu Sean datang, dan mereka berpelukan layaknya sepasang kekasih.


      Seira meremas ponsel milik Rein, bukan marah atau kecewa, melainkan terpaku pada setiap komentar di sana.


@Babyzoo Wahh! Mesra sekali, aku iri pada gadis pirang itu❤.


@Lonely23 Ada yang tahu tidak akun Acebook gadis itu?


@Hanny ❤


@Joe45 Jika ada yang tahu akun Acebook-nya si pirang, tolong DM saja.


@Leon Aku seperti sedang melihat bidadari.


     Begitu banyak komentar yang memuji kecantikan Seira, hatinya sedikit bergetar. Selama ini Seira tidak pernah diizinkan memiliki benda canggih itu. Gadis itu di awasi begitu ketat, bahkan memilih sahabat pun harus persetujuan dari Sean.


       "Apa kamu baik-baik saja? " tanya Rein yang melihat wajah Seira sedikit sendu.


      Seira menggelengkan kepalanya lemah, "Aku harus pulang, Rein. Ada urusan mendadak. "


     Rein mengangguk mengerti, lalu segera beranjak untuk mengantar sahabatnya itu ke pintu keluar.


     Dalam perjalanan pulangnya, Seira berpikir cukup keras. Melihat kejadian tadi, Orang-orang membicarakan dirinya di sosial media, ia juga penasaran bagaimana rasanya bisa bercakap dengan mereka.


Jika aku meminta ponsel, apakah boleh? Batin Seira.


       Dalam lamunannya, tanpa sengaja Seira melihat sosok pria yang sedang dikerumuni para perempuan. Seira mengernyitkan dahinya bingung, karena pria itu melambaikan tangan padanya.


Ia pun memilih mengabaikan lambaian itu lalu melanjutkan perjalanannya. Tapi, saat akan berbelok, tubuh Seira tersenggol oleh seorang pria tinggi besar. Si pria itu segera memutar tubuhnya agar menghadap ke arah Seira.


Bruuuk!


      Semua mata tertuju pada mereka berdua, adegan terjatuh tadi seperti  slow motion di sebuah film.


       Debaran keduanya begitu kencang, tanpa sadar tangan Seira mencengkram kerah baju Ilyas. Yeah, pria itu adalah Ilyas, sosok laki-laki yang kini berada di bawahnya sedang memeluk erat dirinya.