
Kini Sean sudah berada di depan gerbang milik Andreas yang masih tertutup, tentu inginnya ia langsung dobrak saja gerbang itu seperti waktu lalu namun ia urungkan karena pasti Andreas akan mengamuk lagi.
Para penjaga yang melihat Sean pun segera saja membuka gerbang itu lalu menunduk memberi hormat. Sedikit berlari Sean menghampiri Andreas yang sedang memakan buah anggur hijau.
Sean langsung merebut buah itu lalu melahapnya sekaligus. Andreas hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah sahabatnya itu, dia tidak habis pikir pada Sean yang selalu saja berulah menyebalkan.
"Ada apa lagi sekarang? " tanya Andreas malas.
"Seira diculik lagi, " jawab Sean gelisah.
Andreas memutar bola matanya malas, "Kan sudah kubilang, beri dia smartphone! "
"Iya aku sudah belikan. Tapi Seira keburu hilang jadi ini bukan salahku kan? " Sean duduk dengan kasar di bangku taman milik Andreas.
"Aku sampai bosan mendengar adikmu itu hilang, Sean. " Pria berkulit kecoklatan itu berdiri lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Tiba-tiba seorang perempuan berpakaian casual menghampiri mereka, Sean yang pertama kali melihat hanya melongo saja karena di leher si perempuan terdapat bekas kemerahan cukup banyak.
Andreas yang masih sibuk dengan ponselnya tidak menanggapi cubitan Sean berkali-kali di pinggangnya. Ia sedang menghubungi Jean, seorang mata-mata juga yang sedang bertugas menjadi salah satu pengawal Ilyas, tentu saja itu hanya penyamaran.
"Hei, Bro. Apakah terjadi hal menarik? " sapa Andreas pada Jean.
"Apa maksudmu? Hal menarik apa itu? " tanya balik Jean dengan nada berbisik.
Andreas mengernyit kebingungan mendengarnya, biasanya Jean akan langsung to the point jika dirinya bertanya, namun mengapa sekarang terdengar mencurigakan.
Sedangkan Jean yang saat ini sedang ditawan oleh Jay tampak tidak berdaya, tubuhnya sudah berlumuran darah segar, wajahnya penuh luka sayatan.
"Bisakah kau datang kemari, Je? " tanya Andreas lagi sedikit meringis karena Sean mencubitnya lumayan keras di tempat yang sama.
Jean tidak menjawab hanya membisu, mulutnya dijejal dengan cairan beracun yang membuatnya mati seketika. Jay sangat puas sekarang, ia sudah mencurigai jika Jean adalah penyusup.
Jay mengambil alih ponsel milik Jean lalu berkata, "game over, Dude. " Jay langsung mematikan sambungannya lalu membakar ponsel itu bersamaan dengan dibakarnya tubuh Jean di dalam tong besar.
"Dia pikir, sedang berhadapan dengan siapa, " lirih Jay sambil menyesap cerutunya dalam.
Andreas terdiam mematung sampai ponselnya terjatuh ke bawah. Sean yang sedari tadi mencubitnya ikut mematung saat perempuan itu mendekati Andreas dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Hey, apa yang terjadi? " tanya perempuan itu khawatir.
Sean pun sedikit menggeser menjauh dari tempat mereka berdiri, ia masih penasaran dengan sosok perempuan cantik itu. Apakah itu kekasih Andreas yang terbaru? Batin Sean.
"Le—lea, kau sudah bangun? " tanya Andreas gugup karena ada Sean di sana sedang kebingungan. Tentu saja Sean akan bingung, mengingat sahabatnya itu tidak memiliki teman wanita.
Sean menatap Andreas penuh pertanyaan sekaligus sedikit mengintimidasi, "kau ingin jelaskan yang mana dulu, Bro? " Sean pun bertanya.
"Akan aku jelaskan tentang Seira terlebih dulu. Aku sudah menghubungi orangku yang bekerja pada Ilyas. Tapi sepertinya terjadi masalah, " jawabnya sedikit khawatir, "lalu, aku juga tidak tahu apakah Seira dibawa pada mereka atau tidak, " sambungnya.
"Tentu saja, tentu. " Andreas pergi sembari menarik tangan Lea. Membuat Sean semakin kebingungan, nanti saja Sean tanya jika semua sudah beres.
Sean pun memilih untuk pulang, ia berharap Seira tidak benar-benar diculik atau hal buruk terjadi pada orangtuanya.
Sementara itu, Andreas bersiap membawa mobilnya ke Clube milik Ilyas. Tapi ia juga harus mengantarkan Lea pulang terlebih dahulu, masalahnya sekarang adalah perempuan ini tidak ingin pulang. Ia ingin tetap ikut dengan Andreas kemana pun lelaki itu pergi.
Andreas sendiri sebenarnya tidak masalah, bahkan ia suka, semenjak kejadian malam kemarin yang melibatkan mereka harus bergelut di atas ranjang yang panas membuat keduanya saling bergantung satu sama lain.
Lea adalah perempuan kesepian yang selalu dimanfaatkan oleh lelaki karena kekayaannya yang berlimpah. Tidak ada laki-laki yang benar-benar menginginkan dirinya, berbeda dengan Andreas, pria yang baru ia kenal semalam itu sudah membuat dirinya yakin jika jodohnya adalah Andreas.
Begitu pula dengan Andreas yang tidak terlalu memikirkan masalah wanita, hidupnya terlalu pusing untuk dilibatkan dengan kaum hawa itu. Namun semua itu sirna ketika mata Lea mendambanya, ia juga ingin lebih dan tidak ingin melepaskan wanita itu.
"Ini sangat berbahaya, kau di rumah saja, aku akan segera kembali, okay? " Andreas mencoba meyakinkan Lea yang masih bergelayut manja padanya.
"Segeralah pulang, " pinta Lea dengan tatapan khawatir. Andreas mengangguk sambil mencium kening Lea dengan lembut.
\*\*\*
Saat ini Seira tampak sedang menikmati pancake buatan Ilyas. Ternyata pria itu bisa memasak juga rupanya, Seira cukup terkejut saat Ilyas menyuruhnya untuk keluar. Ia pikir akan dibunuh saat ini juga.
"Kau suka? " Tanya Ilyas mengangkat sebelah alisnya membuat ketampanannya bertambah dimata Seira.
"Suka, " jawab Seira singkat sembari melahap pancake itu. Ia tidak tahu apa yang sedang pria itu rencakan, sebenarnya ada rasa takut namun rasa nyaman lebih mendominasi.
Ilyas mengangguk sembari berjalan ke dapur mengambil segelas susu untuk Seira, "setelah ini aku akan mengantarmu pulang. "
Ukhuk!
"Kau baik-baik saja? " Tanya Ilyas khawatir seraya menepuk-nepuk punggung Seira.
"Uh, iya aku tak apa, " balas Seira sedikit meringis karena merasa malu dengan jarak yang begitu dekat antara dirinya dan Ilyas.
Ilyas mundur lalu duduk di hadapan Seira sambil berujar, "aku tidak akan menyakitimu sekarang, kelak aku akan berusaha untuk tidak baik lagi dengan dirimu. " Ilyas pergi begitu saja dan menyuruh supir pribadinya untuk mengantar Seira kembali.
"Ta—tapi aku suka tempat ini, " sergah Seira berdiri mendekati Ilyas di atas tangga, "kau juga belum menceritakan apapun padaku, " sambungnya.
"Tidak sekarang, pergilah. " Dengan langkah cepat Ilyas menaiki tangga berlalu begitu saja.
Seira merasa sedang dibodohi sekarang. Ia yakin jika keluarganya sedang kelimpungan mencari dirinya yang menghilang dibawa Ilyas, musuh besar keluarganya. Tapi dengan mudahnya pria itu menyuruhnya pergi tanpa menepati janji untuk menjelaskan semua yang ia janjikan.
"Mari, Nona. " Fredy, supir pribadi Ilyas membuyarkan lamunan Seira. Pria setengah baya itu tersenyum tulus melihatnya yang tampak sedih.
"Aku ingin tetap di sini, jadi jangan menghalangiku. " Gadis itu pergi mengikuti Ilyas. Ia tidak takut dengan ancaman dari pria itu, justru semakin tertantang.
"Anak muda jaman sekarang kalau bertengkar begitu cukup lucu juga, " kekeh Fredy sambil berlalu keluar.