
Pria gagah rupawan itu berjalan mondar-mandir di dalam ruangan kantor miliknya. Jantungnya berdebar jika kembali ia ingat kejadian kemarin saat tubuh Seira menubruk dirinya. Baru kali ini Ilyas merasa suka berdekatan dengan lawan jenis, karena biasanya ia bersikap biasa saja.
Masih berjalan mondar-mandir Ilyas menghela napas beberapa kali, membuat salah satu sahabatnya terheran-heran. Sebut saja Jay, pria keturunan Indonesia-Newyork itu terus memerhatikan Ilyas. Berbeda dengan dua sahabat lainnya yaitu, Mark, dan Erick, mereka tampak asyik membicarakan acara besar-besaran malam nanti di Clube milik Ilyas.
"Kau tahu, Mark? Aku sungguh tidak sabar untuk bertemu para mantanku di sana. Mereka pasti tambah cantik, dan sexy. " Erick tampak sangat bersemangat membayangkan ia bercinta dengan para mantannya.
Mark pun tidak mau kalah, ia menyodorkan ponsel miliknya yang berisi percakapan para gadis sexy yang sudah tidak sabar bertemu.
"Mereka sudah tidak sabar, Rick. Aku juga sudah menegang sekarang, hahaha. "
Jay yang mendengarnya sungguh sangat jijik. Bagaimana mungkin ia bisa bersahabat dengan dua orang sinting itu. Jay pun memilih bermain game saja, daripada pusing melihat tingkah ketiga sahabatnya itu.
Di sisi lain, Ilyas mulai memikirkan cara agar bisa lebih dekat dengan Seira. Pria itu tampak kaku jika menyangkut perempuan, dan segala ***** bengeknya. Ilyas pun mendekati Mark dan Erick, mereka berdua kan playboy kelas kakap.
"Hey, Mark. Menurutmu apa yang disukai perempuan?" tanya Ilyas yang kini berdiri tegak di hadapan Mark dan Erick. Mereka berdua melongo begitu pula Jay yang tiba-tiba jadi patung.
Ilyas terdiam menunggu jawaban.
Ilyas menggaruk dagunya yang tidak gatal merasa itu akan jadi bahan ledekan mereka bertiga.
Hahaha!
Benar saja, semua orang di ruangan itu terbahak mendengar ocehan Ilyas. Mungkin bagi mereka ini sebuah lelucon, karena selama ini Ilyas adalah sosok pria yang tidak terlalu memikirkan perempuan, dan sekarang tiba-tiba menanyakan hal seperti itu? Tentu saja ini lucu.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Kalian ini, bukannya membantu malah meledekku, ku habisi saja kalian, huh! "
"Ampun Baginda Ilyas, kami menyesal, ampuni kami. " Erick serta Mark sedang bersujud sambil menangkupkan kedua tangannya meminta ampun. Sedangkan Jay? Jangan tanya, pria perfeksionis itu hampir saja tertawa namun sekuat tenaga ia tahan.
Ilyas berkacak pinggang, lalu menyisir rambutnya frustasi. Baru kali ini hatinya gelisah, ingin rasanya sekarang membawa Seira ke pangkuannya.
Mark dan Erick saling bertatapan, mereka tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Mencoba meminta bantuan Jay, namun pria itu malah asyik menonton saja.
"Hey kaka—wan, aku tidak tahu jika kau ini sedang jatuh cinta, lebih baik mari kita bicarakan ini dengan kepala dingin, " Kata Erick mencoba menghibur Ilyas.
"Iya benar, kau kan tahu ... Kita ini sudah terbiasa dengan perempuan," Ujar Mark.
Ilyas memejamkan matanya sejenak, lalu mengangguk pelan. Jay yang sedari tadi diam pun mulai tertarik dengan pembicaraan mereka. Ia menaruh ponselnya lalu ikut bergabung bersama ketiga sahabatnya.
"Kenapa kau kemari? Kau bukan sahabat sejati kami, " Ujar Erick kesal.
Jay hanya menyeringai, "Kalian memang pantas mendapatkannya. "
Erick mengerucutkan bibirnya hampir seperti bebek. Mark yang melihat pun langsung menampar pipi sahabatnya itu.
"Langsung saja, kau sedang menyukai seseorang gadis, begitu? " tanya Mark pada Ilyas.
Ilyas mengangguk namun sedetik kemudian menggeleng. Mark, dan lainnya tampak bingung. Lalu Ilyas ini kenapa? Batin ketiganya.
Erick yang lebih pecicilan tampak sekuat tenaga menahan tawanya, pipinya hampir mengembung. Sedangkan Jay, begitu tertarik dengan ekspresi wajah Ilyas yang gelisah, ia mulai menerka jika Ilyas ini sedang jatuh cinta.
Mark pun kembali bertanya, " Jadi—apa yang terjadi denganmu, Kawan. Katakan saja tidak perlu ragu, hem? "
Ilyas menghela napas dalam-dalam kemudian berjalan mendekati mejanya, dan mengambil sebuah foto dari laci mejanya. Terlihat seorang gadis kecil sedang memeluk seorang anak laki-laki begitu mesra, lalu ia memberikan foto itu kepada ketiga sahabatnya yang sedari tadi melongo seperti orang bodoh.
"Aku bertemu dengannya, Gadis yang ada di foto itu, aku menguntitnya kemarin, " Lirih Ilyas.
Ketiga sahabatnya menatap foto itu berebutan, "Kau pedofil? " Tanya mereka serentak.
Pletak! Pletak! Pletak!
Mark, Erick, dan Jay meringis kesakitan memegangi kepala masing-masing.
"Anak laki-laki itu kan aku, " Ujar Ilyas membuat ketiga sahabatnya mengangguk, dan merasa bodoh.
"Dia putri dari keluarga Rodrigues. Seira Rodrigues. Gadis itu, akhirnya aku bisa bertemu dengannya secara langsung, " ucap Ilyas menerawang.
"Jadi, kau tertarik padanya, begitu? " Tanya Jay yang masih memandangi foto itu.
"Entahlah ... Aku hanya—merasa aneh saja. " Suara Ilyas berubah dingin.
Ilyas terdiam. Bayangan saat Seira dan dirinya kembali hadir. Dulu, memang ia pernah bertemu Seira dua kali, foto itu menjadi bukti jika mereka memang pernah dekat. Ilyas masih ingat masa itu, terapi Seira sepertinya lupa.
"Aku belum pernah bertemu dengan putri dari keluarga Rodrigues. Dilihat dari foto masa kecilnya ... Sepertinya sangat cantik," ucap Jay masih memerhatikan foto itu.
Mark pun berdiri dari duduknya, menghampiri Ilyas yang sedang bingung, " Kau ini sudah lewat masa pubertas, harusnya langsung saja kau ajak dia tidur, " Kata Mark.
Ilyas terbelalak, tidak mungkin hal seperti itu terjadi, mustahil baginya. " Dia bukan gadis seperti itu, dia gadis yang dijaga oleh keluarganya. " Ilyas mendongakkan wajahnya ketika Jay menepuk pundaknya. Jay masih belum mengerti situasi yang dihadapi sahabatnya.
Erick yang sedari tadi terbawa suasana pun hampir meneteskan air matanya karena merasa kasihan pada Ilyas yang belum pernah tidur dengan perempuan. Berbeda dengan dirinya yang setiap malam akan berkeliaran mencari mangsa untuk diikat.
"Apa kau tahu rumahnya? Datangi saja lalu ajak dia kencan, mudah kan, " ucap Jay.
Mark, dan Erick mengangguk setuju dengan ide Jay. Namun sepertinya Ilyas masih belum yakin akan hal itu. Ilyas memilih pergi meninggalkan ketiga pria tampan itu yang sedang melongo.
" Sia-sia saja ternyata, " Ujar Mark merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Begitu pula dengan Jay, ia kembali bermain game mengabaikan Erick yang sedang mengusap pelupuk matanya yang tidak berair.
***
Di kediaman Rodrigues terlihat Seira sedang memegang sebuah buku, namun ia malah melamun di taman bunganya, pikirannya masih terbayang kejadian kemarin. Ia memegangi dadanya yang saat ini berdebar, entah bagaimana caranya ia berhasil pulang.
Siapa dia sebenarnya, kenapa sering muncul, ya? Batin Seira.
Menutup bukunya lalu merebahkan tubuhnya di atas rumput. Matanya terpejam sesaat, tiba-tiba munculah bayangan Ilyas sedang tersenyum, segera ia membuka matanya,dan kembali duduk.
Sepertinya aku sudah tidak waras. Seira mengutuk dirinya dalam hati.
Gadis cantik bergaun selutut itu memilih untuk menemui Sean, ia akan menceritakan kejadian kemarin. Seira juga ingin tahu, motif apa yang membuat Ilyas ingin membunuh dirinya. Apa salahnya? Seingat dia, belum pernah pun bertemu dengan Ilyas.
Saat tiba di ruang keluarga, di sana sudah ada Sean, dan kedua orangtuanya. Seira lalu duduk di hadapan mereka. Seira tampak ragu, tangannya meremas buku yang ia pegang.
Angela mengernyit, kenapa putrinya terlihat begitu tegang. "Apa kau baik-baik saja, Nak? "
Sean yang sedang fokus pada laptopnya pun mendongakkan kepalanya. Begitu pula dengan Mike.
Seira masih ragu, namun rasa ingin tahunya lebih mendominasi sekarang.
"Ilyas itu—siapa?"
Deg
Mike, Angela, dan Sean terkejut mendengar pertanyaan Seira. Mereka tidak menjawab, masih terdiam.
"Kenapa? Aku pernah mendengar percakapan kalian, jika ada sekelompok anak muda yang ingin membunuhku, apakah itu dia? "
Belum ada jawaban dari mereka membuat Seira sedikit kecewa. Seira menundukkan kepalanya, lalu berjalan cepat keluar lagi.
"Bagaimana dia tahu jika orang yang bertemu dengannya itu Ilyas? " tanya Mike pada Sean.
Sean menggeleng lemah, kemudian ia teringat sesuatu. Sapu tangan, benar sekali, pasti Seira menemukan sapu tangan Ilyas yang ia buang di tempat sampah.
Segera Sean berlalu ke dapur, dan mencari tempat sampah, namun sudah kosong. Tentu saja, itu sudah beberapa hari yang lalu.
Sean kemudian berlari mencari Seira. Gadis itu berada di tamannya, terduduk lesu sambil memandangi selembar kain bertuliskan Ilyas Jovian. Sean pun merebut sapu tangan itu secara tiba-tiba membuat Seira tersentak. Sean membakar sapu tangan itu dengan pematik miliknya. Seira melongo melihat kakaknya marah.