
"Aku masih bisa bertarung, sepuluh ronde juga akan kulakukan, " Lirih Andreas sembari menyeka keringat bercampur darah dari lawannya. Ia tidak terluka parah, hanya memar sedikit padahal sudah lima kali ia bertarung hari ini dengan lawan yang badannya lebih besar darinya.
Ilyas tersenyum miring, lalu berbisik, "kau memang pantas disebut Raja Petarung. "
Andreas hanya mengangguk mengerti. Menurutnya, Ilyas adalah pria yang bodoh, mengapa seperti itu? Karena ia memasukkan musuh ke dalam lubang rahasianya.
Ilyas tidak tahu, jika Andreas sudah ditugaskan oleh Sean untuk memata-matai kehidupan Ilyas. Meski dengan bertarung liar, dan jadi tontonan para konglomerat, ia tetap melakukan karena hanya dengan cara ini ia bisa mengetahui segala rahasia Ilyas dari dalam.
"Apa kau akan pulang? " Tanya Ilyas yang kini berada di ujung pintu.
Andreas mengangguk, "apa kau butuh sesuatu? " Andreas berbalik bertanya sambil melepas pengaman di tangannya.
"Sedikit. Tapi, mungkin belum waktunya, " Ucap Ilyas sambil berlalu begitu saja.
Mengedikkan bahu, Pria berbadan kekar itu segera berkemas untuk pulang. Sebenarnya ia diberi ruangan pribadi oleh Ilyas, hanya saja Andreas menolak itu, karena alasan akan segera bertunangan. Padahal kekasih pun tak ada.
Saat keluar melalui pintu samping, Andreas melihat sekitaran Clube begitu padat, bisa dibayangkan bagaimana padatnya di dalam. Ia pun segera pergi dengan langkah santai menuju mobilnya, namun tiba-tiba saat hendak masuk ke mobil, tubuhnya diterjang oleh seorang perempuan.
Dengan sigap, Andreas menangkap tubuh perempuan itu, "Apa kau baik-baik saja, Nona? " tanya Andreas khawatir. Ia bisa melihat wajah cantik perempuan itu sedikit memerah.
"Ah ... Aku sedikit pusing saja, " jawabnya setengah sadar. Tubuhnya bergelayut di tubuh Andreas.
Tanpa aba-aba, perempuan itu masuk begitu saja ke mobil milik Andreas. Dengan wajah sayu seperti menahan sesuatu, ia menyuruh Andreas masuk. Seperti orang bodoh, pria tampan itu menurut saja.
"Bisakah ... Kau membantuku, Tuan?"
Andreas melongo mendengarnya lalu bertanya, "apa yang bisa kubantu, Nona? "
"Aku sedang kesal pada supirku, jadi aku menyuruhnya untuk pulang duluan," Jawabannya sambil mengusap lengan telanjangnya.
Andreas kemudian mengangguk seperti orang bodoh. Mereka kemudian pergi menjauh dari Clube, tanpa disadari ada seorang laki-laki yang sedari tapi memerhatikan mereka dari pintu masuk Clube. Ia adalah Mark, rupanya Mark masih penasaran dengan perempuan yang sudah mempermalukan dirinya tadi.
"Mengapa Lea pergi bersama Andreas? Lebih sexy juga aku, " Cibir Mark seraya kembali memasuki Clube.
Di tempat lain, Ilyas mulai merasa gelisah karena ia rindu sosok itu. Ia merindukan Seira, setelah dua kali bertemu, sepertinya dirinya kecanduan. Bayang-bayang wajah cantiknya terus saja mengganggu.
Tidak bisa begini, aku ingin melihatnya meski sebentar. Gumamnya
Ilyas pun segera pergi dari keramaian Clube-nya, lalu memasuki mobilnya tergesa-gesa. Erick yang mengejarnya bingung, mengedikkan bahu, ia pun kembali berpesta dengan para wanitanya.
Dalam perjalanan menuju tempat Seira, detak jantungnya begitu tidak beraturan. Tangannya yang terkepal memegang kemudi menampakkan otot-ototnya. Rasanya seperti sedang tersedot oleh magnet karena ia terus melesat menuju sesuatu yang menariknya.
Terlepas dari itu, hujan tiba-tiba turun begitu derasnya, membuat suasana hatinya semakin resah. Mungkin saja kini Seira sedang tidur lelap mengingat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ilyas tentu saja tahu, karena selama ini ia terus mengintai Seira dari kejauhan.
Setelah sampai, Pria tinggi rupawan itu keluar dari mobilnya tanpa menggunakan payung. Ia tidak peduli jika harus sakit, yang terpenting adalah bisa melihat gadis itu.
Senyum terukir dari bibirnya, tentu tanpa ia sadari. Melihat lampu kamar Seira yang masih menyala, itu menandakan jika gadis itu masih terjaga.
"Sedang apa? " Tanya Seira kebingungan. Wajahnya terus mengamati sosok Ilyas. Ia sendiri baru kembali dari rumah Rei untuk mengerjakan tugas. Seira terkejut melihat Ilyas sedang berdiri di pojok samping rumahnya tepat menghadap kamar Seira.
Ilyas tampak kikuk harus menjawab apa, ia ketahuan sekarang, "A—aku sedang menunggu seseorang, iya ... seseorang, " jawabnya gugup.
Gadis yang hanya memakai sweater, dan celana selutut itu mengernyit, kenapa tidak langsung masuk saja, pikirnya.
"Sedang hujan, masuklah. " Seira berjalan menuju gerbang, namun Ilyas menarik tangannya hingga kini Seira berada pelukannya. Payung yang Seira pegang kini berhamburan entah kemana.
"Sebentar saja, ini tidak akan lama, " Bisik Ilyas pada Seira yang kini masih terdiam membeku. Ia tidak peduli dengan pakaiannya sudah basah kuyup.
"Kau mungkin lupa, sedekat apa kita dulu. Ilyas mengeratkan dekapannya. Ia sudah kedinginan namun sekarang sudah lebih hangat.
"Siapa kau sebenarnya? " Seira pun bertanya.
Ilyas tersenyum lembut, diletakkan wajahnya ke ceruk leher Seira, mencoba meraup seluruh aroma dari gadis itu, "Aku adalah orang yang kau pukul dengan tongkat ajaib mainanmu,"
"Aku tidak mengerti, katakan lebih jelas, " Ujar Seira seraya melepaskan pelukan posesif Ilyas.
Pelukan mereka terlepas, pandangan mereka bertemu, wajah pucat mereka saling beradu, saling mencari-cari apa yang akan dikatakan.
"Ikutlah denganku jika kau penasaran, " Kata Ilyas sambil mengulurkan tangannya. Ia sebenarnya hanya bercanda, namun ternyata Seira menerima genggaman itu. Dengan penuh keyakinan, Seira menganggukkan kepalanya kuat.
"Kau yakin? Kau tidak takut padaku, Nona? " Ilyas mencoba meyakinkan diri jika ini adalah sebuah kesalahan.
"Cepatlah, aku sudah kedinginan, " Sergah Seira pada Ilyas, pria itu kini menyeringai, secepat inikah ia harus beradu argumen dengan gadis itu. Meski ia rindu namun sejujurnya hati, dan pikirannya belum siap.
Ilyas menuntun Seira masuk ke mobilnya, ia sempat memberi kode pada anak buahnya yang jauh dari mereka untuk merusak CCTV di area itu.
Sebenarnya kedua insan ini masih gugup, terlebih ini pertama kalinya bagi Seira bersentuhan dengan lawan jenisnya. Apalagi, ia tahu Ilyas itu siapa, namun rasa penasarannya lebih mendominasi.
Ilyas melajukan mobilnya perlahan namun pasti, tidak ingin mengebut, tentu ia ingin menikmati setiap detik bersama dengan Seira.
"Apa yang ingin kau tahu dariku, Nona? " Tanya Ilyas sembari memegang telapak tangan Seira yang dingin, "Aku begitu mengagumi, itu saja yang perlu kau tahu. "
Seira menundukkan kepalanya, ia begitu gelisah sekarang. Perasaan takut baru muncul dibenaknya, setidaknya ia harus berjaga-jaga jika Ilyas mencelakai dirinya.
"Kenapa ... Kau mengagumiku? Apakah kita saling kenal, atau pernah bertemu? " Tanya Seira beruntun. Gadis muda itu tidak berani menatap wajah tampan Ilyas, sekedar melepaskan genggaman pun ia tidak berani.
Raut wajah kecewa jelas terpancar pada Ilyas, senyum kecutnya tidak bisa ia tutupi. Dalam hatinya bergurau, mengapa kau melupakan diriku, membuat rasa benciku semakin besar.
"Kau dengar aku tidak? " Desak Seira sambil mencuri pandang pada Ilyas.
"Tidak ada yang perlu kau tahu," Ucap Ilyas parau membuat Seira kebingungan. Sikap Ilyas kini berubah dingin, "yang perlu kau tahu sekarang adalah ... Aku sedang menculikmu, Nona Seira, " Sambungnya menyeringai.