My Lovely Seira

My Lovely Seira
Bab 3



Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Seira tertidur sangat pulas rupanya. Ia bangkit merasa harus ke kamar mandi. Rambut pirangnya acak-acakan seperti singa. Dia tidak tahu, rambut terawatnya telah di rusak oleh Cindy karena kesal sudah mencari dirinya setengah mati. Sedangkan orang yang dikhawatirkan sedang tidur pulas seperti orang mati.


  Kruyuuuk


     "Ah aku lapar sekali seharian tidak makan. " Seira bergegas keluar untuk ke dapur, masih dengan rambut singanya, dan juga wajah cemong karena tidak sempat melihat cermin.


Saat menuruni tangga, ia berpapasan dengan Sean yang menunjukkan wajah terkejut sekaligus menahan tawa, segera ia membuang muka ke samping. Seira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ingin  menegurnya namun Sean berlalu begitu saja.


      "Mungkin dia lelah habis kumpul kebo. " guraunya.  Sean yang mendengar gurauan Seira berhenti di balik tembok, melotot tak percaya. Bisa-bisanya adik kecilnya itu berpikir seperti itu. Sejak kemarin bicaranya ngawur terus. Apa jangan-jangan adiknya itu mengintip saat adegan itu terjadi? Tubuhnya merosot sambil memegangi dadanya.


         Adiknya masih 18 tahun yang lagi imut-imutnya. Berbahaya sekali jika sifat polosnya tercemar. Segera ia masuk ke kamarnya lalu merebahkan diri. Kejadian hari ini sungguh luar biasa heboh, ia sadar jika semua ini salahnya yang terlalu overthinking pada Seira.


Apa aku belikan dia ponsel ya? gumamnya dalam hati.


         Ah masa bodoh, nanti saja dipikirkan. Tubuh Sean masih lelah begitu pula otaknya. Sekarang Sean bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


        Di dapur, Seira begitu lahap memakan brownies yang ia temukan di lemari pendingin. Hampir semuanya ludes dimakannya. Setelah puas, Seira menuju ruang tv. Matanya sudah tidak mengantuk sekarang.  Seira masih belum sadar dengan penampilannya itu, mungkin  tidak ada cermin  di rumah Seira.


      Jemarinya menekan tombol remot berkali-kali, tanpa tahu ingin menonton acara apa. Gadis itu melihat jam besar di ruangan itu. Ternyata sudah pukul sebelas malam. Ia bangkit melangkahkan kakinya santai. Kesunyian begitu terasa di sana, orangtuanya masih belum kembali dari liburan.


Ting tong


      Seira menoleh kemudian berjalan menuju pintu. Siapa tengah malam begini bertamu. Apa mungkin itu Dracula? Pikir Seira merasa konyol.


Kriett 


       Pintu pun terbuka.  Orang yang bertamu terpaku melihat keadaan Seira. Gadis itu sedikit terkejut melihat sosok pria tinggi menjulang di hadapannya sedang tersenyum miring.


      Seira bertanya, "Anda sedang mencari siapa malam-malam begini?"


       "Ekhem, Saya sedang mencari Sean Rodrigues. Apakah dia ada, Nona? " sahut pria tinggi itu pada Seira. Mata elangnya menatap intens Seira. Dalam hati ia bersorak gembira, akhirnya dia bisa bertemu dengan Nona Seira Rodrigues secara langsung.


     "Aku pikir ini bukan jam untuk bertamu, Tuan. Bisa kau kembali besok? " Suara lembut itu menusuk ke telinga si pria. Ia suka, sangat suka.


     "Kau benar, aku hanya mampir sebentar saja kok, masa tidak boleh? " Pria itu mendekati Seira lalu membungkuk, "Sungguh, kau cantik sekali meski sedikit berantakan, " Katanya lagi, matanya tidak bisa berpaling dari Seira. Masih betah memandangnya.


   "Huh, dasar orang aneh. Tunggu sebentar, apakah kau orang yang sering dibicarakan Sean? Yang ingin membunuhku itu? Cepat jawab, aku tidak takut padamu, jangan diam saja dong, " Cerca Seira sambil berkacak pinggang.


     Sontak saja si pria menyunggingkan senyum mautnya. Gadis ini ada-ada saja, "Apa yang kau bicaran, Nona? Aku ini orang baik, dan aku adalah sahabat terbaik dari kakakmu, aku hanya rindu padanya, " sahut pria itu.


     Merasa malu sendiri, Seira pun mengangguk mengerti. Ia meminta Si tamu untuk menunggu sebentar di dalam. Si tamu pun menurut saja, sambil melihat-lihat sekitar kediaman Rodrigues yang tampak mewah namun tidak terlalu mencolok. Arsitektur kuno terasa kental memenuhi rumah ini, lukisan khas Yunani kuno bertengger di mana-mana masih sama tata letaknya dua puluh tahun lalu. Setelah puas melihat-lihat, ia memilih meninggalkan Seira yang masih belum juga keluar.


       Dengan susah payah Seira menyeret kakaknya untuk segera menemui Si tamu, "Cepatlah bangun bodoh, kau berat sekali seperti kingkong," gerutu Seira sembari menarik tangan Sean. Setibanya di ruang tengah, Si tamu sudah tidak ada di sana. Seira melepaskan pegangannya pada Sean, sontak saja kakaknya tersungkur di lantai.


        "Aw sakit tahu! Ah hidung sexy ku hampir saja masuk ke dalam. " Sean tidak habis pikir dengan tingkah Seira yang akhir-akhir ini menjengkelkan.


     "Tadi ada seseorang datang mencarimu, dia tinggi sekali seperti tiang listrik juga ganteng. " Seira sedikit tersipu mengatakan sosok pria yang ia sebut ganteng itu.


     Kini, kesadaran Sean sudah terkumpul. Ia melihat tingkah adiknya itu aneh, baru kali ini bisa memuji seorang lelaki. Biasanya Seira sangat acuh, dan tak peduli dengan makhluk sebangsanya.


      Berjalan untuk memeriksa ruangan, Sean tidak menemukan sosok yang dimaksud adiknya itu. Pintunya bahkan tertutup rapat namun tidak terkunci. Berarti Seira tidak sedang mengerjainya. Terus berjalan di lorong-lorong rumahnya Sean tidak menemukan siapa pun.


Bughh!


     "Aw apalagi ini, Kenapa memukul punggungku!?" Bentak Sean pada Seira yang sedang terkikik.


      "Mungkin saja orangnya sudah pulang, kau tidur seperti orang mati, " Maki Seira. Padahal yang seperti orang mati saat tidur itu kan dirinya.


      "Sudah-sudah, sana kamu balik tidur, biar aku periksa ke luar siapa tahu dia masih ada, " ucap Sean sambil mendorong adiknya naik ke atas tangga.


     Setibanya di luar rumah, Sean tidak menemukan siapapun, segera ia kembali masuk lalu menutup pintu kembali dan menguncinya. Ia segera ke ruangan pengecekan CCTV, Sean hampir saja lupa jika rumah ini dipenuhi dengan kamera pengawas. Saat berjalan melewati ruang televisi, Sean melihat sepotong sapu tangan di atas meja, segera diraihnya.  Di sana terdapat nama pemilik sapu tangan itu .


Ilyas Jovian


     Mata Sean terbelalak, diremasnya sapu tangan itu. Brengsek! Berani-beraninya bajingan itu datang kemari. Sean yakin, kedatangan Ilyas pasti memiliki maksud serius. Nyawa Seira sedang dalam bahaya. Segera ia membuang sapu tangan itu ke tempat sampah.


Cih! Bajingan tengik sialan. Gumamnya


    Kembali ke kamarnya, Sean segera menghubungi Ayah dan juga Ibunya jika Ilyas telah berkunjung.


                                            ***


       Sepasang suami istri tampak berjalan cepat menuju huniannya sembari membawa banyak sekali tas belanjaan dengan  merk ternama. Kedua pasangan paruh baya itu adalah Angela Rodrigues dan Mike Rodrigues. Mereka terpaksa harus pulang dari liburan karena mendapatkan kabar  kurang enak. Sebenarnya Mike masih ingin honeymoon, tapi mau bagaimana lagi istrinya yang langsung panik ketika mendapatkan kabar dari Sean tentu ingin segera pulang.


      "Mike sayang, jangan cemberut terus. Anak kita sedang dalam bahaya, mengertilah sedikit, Sayang, " ujar Angela merayu Sang suami yang sedari tadi melipat kedua tangannya di dada.


     Angela menggelengkan kepalanya lelah. Hatinya masih gelisah jika mengingat Seira, meskipun ia tahu Seira baik-baik saja. Mengetahui Ilyas sang musuh mulai bereaksi, sungguh meresahkan.


     Wanita paruh baya itu memegang sebuah artefak kuno yang sangat sulit ia dapat. Hanya di Bali Angela menemukan benda itu. Benda yang akan ia berikan sebagai hadiah untuk Seira.