My Love The Maid

My Love The Maid
Gangguan mental



Nayla menggeleng"Iya buk, aku baik-baik saja" Jawab Nayla sembari membenahi rambutnya yang berantakan akibat tuan Enzi yang memegang tengkuknya dengan lumayan kuat.


"Buk Wati saya sangat yakin sekali jika tuan Enzi terkena gangguan jiwa, atau stress berat buk, saya tahu ciri-ciri ini, saya yakin tuan Enzi sangat stress, tidak mungkin seorang ayah tega berbuat seperti itu pada anaknya"


Buk Wati memandang pintu kamar Enzi dengan sendu, yang dimana suara teriakan Enzi masih terdengar hingga keluar"Saya juga berfikir seperti itu, hanya saja saya tidak berani mengambil resiko, saya tidak merani untuk menyuruh tuan memeriksa kondisi kedokter"


"Sejak kapan buk?"


"Sejak kepergian nyonya Mawar dua tahun lalu, sejak saat itu sikap tuan Enzi berubah, dari yang awalnya penyayang sekarang dia sangat emosional pada semua orang, termasuk tuan muda Denis"


Nayla menggeleng, ia dapat merasakan apa yang saat ini Denis rasakan, pasti hatinya sakit melihat perubahan sikap ayahnya"Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus memastika jika tuan Enzi benar stress atu tidak buk, saya takut akan ada korban nantinya"


Buk Wati menganggukkan kepalanya"Dokter Yohan yang akan memeriksa"


"Permisi, buk Wati?" Tanya dokter Yohan yang baru saja sampi dan langsung naik keatas.


"Tolong cepat, apa kau tidak dengar, tuan Enzi berteriak! Cepatlah masuk, dan periksa dia lebih dalam" Ucap buk Wati pada Dokter Yohan.


Yohan pun menuruti perintah daei buk Wati, si kepala pelayan itu. Walaupun dia penasaran ingin bertanya, mengapa sampai para pelayan dirumah ini keluar dari dalam rumah malam-malam begini, apa teriakan Enzi benar-benar horor? Tapi Yohan tepis itu semua dan memilik untuk menjadi dokter yang harus profesional.


Nayla dan buk Wati pun menunggu didepan kamar Enzi.


"Nay, saya akan kebawah menyuruh para pelayan yang diluar untuk masuk kedalam, karena sekarang sudah malam"


Nayla menganguk"Iya buk"


Beberapa menit kemudian.


Ceklek!


Dokter Yohan keluar dari kamar Enzi"Dimana buk Wati?" Tanya Yohan pada wanita didepannya yang ia yakini adalah seorang pelayan baru.


"Buk Wati sedang dibawah, sekarang katakan apa yang terjadi?"


"Kau siapanya? Biar nanti tunggu buk Wati saja"


"Kenapa harus nunggu? Kan ada aku" Tanya Nayla.


"Yoh, bagaimana keadaannya?" Tanya buk Wati yang baru saja datang.


"Emm begini buk, Enzi keadaannya sudah cukup stabil sekarang setelah saya menyuntikkan obat nyamuk, eh ralat maksutnya obat tidur dan infus juga, tapi.."


"Tapi apa?" Tanya Nayla dengan penasaran.


"Setelah saya periksa lebih dalam, ternyata tuan Enzi sudah lama mengalami stress berat sehingga emosionalnya tidak terkontrol, bisa dibilang juga gangguan mental lebih tepatnya, dan penyakit ini memang kadang sering kambuh secara tiba-tiba,dan akibat emosi yang berlebihan itu lah yang membuat kepalanya sakit yang luar biasa"


Nayla dan buk Wati saling berpandangan, merasa iba dengan kondisi tuan Enzi yang cukup parah.


"Lalu kami harus bagaimana?" Buk Wati kini meneteskan air matanya, ia adalah orang yang paling sedih dari semua yang ada disini, karena buk Wati adalah orang yang mengerti semua tentang Enzi, termasuk keluarga Enzi yang berada di Dubai.


Buk Wati mengangguk, mengerti maksud dan penjelasan dari dokter Yohan.


"Baiklah kalau begitu, saya mohon izin pulang, karena ada beberapa pasien yang harus saya tangani kembali dirumah sakit, jika terjadi sesuatu kembali pada tuan Enzi segera hubungi saya"


Buk Wati dan Nayla menganggukkan kepalanya.


Setelah kepergian dokter Yohan, Nayla yang melihat buk wati akan pergi memegang tangan buk Wati"Buk mau kemana?"


Buk Wati tersenyum lebar"Saya akan menelpon nyonya besar, ini sudah waktunya..."


"Maksutnya buk?"


"Saya akan menelpon keluarga tuan Enzi yang berada di Dubai, apakah saya bisa minta tolong padamu? Tolong kau masuklah kedalam, tunggu tuan Enzi sampai bangun, saya percaya padamu..." Sebelum pergi buk Wati mengelus pundak Nayla.


"Em, baiklah"


Ceklek...


Nayla memasuki kamar Enzi dengan perlahan, kamar dengan aroma maskulin bercampur obat bius itu begitu rapih di penglihatan Nayla.


Perlahan Nayla berjalan mendekati tuan Enzi yang sedang menutup matanya dengan tangannya yang terpasang infus.


Nayla mengambil kursi yang tak jauh darinya, dan duduk disamping pria yang menurut Nayla sebelumnya adalah pria jahat.


"Huh untuk aku enggak jadi mati tuan, udah deg-degan tau tadi, saya bingung mau makasih atau kasihan tadi waktu kepala anda sakit Haha, kayaknya sih Alhamdulillah ya..."


Setelah mengucapkan itu kemudian mata Nayla beralih pada wajah tampan nan sempurna milik majikannya"Enggak nyangka ternyata anda terkena gangguan jiwa berat, seberat apa sih masalahmu, Nay jadi kepo deh"


"Tau ga sih tuan? Padahal kan Nay baru kerja dua hari lho disini, tapi tuan udah mau bunuh Nay aja, tapi saya maklumi sih, kan anda lagi sakit..."


Malam ini Nayla terus mengelurkan unek-unek nya pada Enzi, si ayah jahat menurut Nayla, dari mulai tamparan terhadap Denis, kenapa terus memarahi Denis, apa salah Denis, kenapa bisa stress dan gangguan mental?, Kenapa bisa depresi?, Semua pertanyaan dan unek-unek Nayla ia keluarkan, walaupun sebenarnya ia tahu tuan ini tidak akan menjawab, gimana bisa jawab orang matanya merem, aneh...


Perlahan seiring berjalannya waktu, karena jam sudah menunjukkan dini hari Nayla pun tertidur disamping Enzi, dengan kepalanya ia letakkan diatas kasur dan dirinya duduk dikursi.


Fiuh!...


Entah saking apanya, mungkin saking capeknya dan pegelnya Nayla hari ini, ia sampai mengorok.


Mau denger enggak suaranya?


Readis: Mauuu!!!


Ngok...ngok...ngok...


Eh, bener enggak ya itu suaranya, soalnya ini pake indra keenam haha...


Kayak kenal itu suaranya? Yang biasanya dibuat tes kriuk bukan sih? Eh tapi enggak boleh gitu deng, dosa nge-bully Nayla tau xixixi😂😂