My Love The Maid

My Love The Maid
Kesedihan Denis(Part 2)



Pagi harinya, Nayla keluar dari rumah Ivawan menuju taman yang berada dibelakang rumah tersebut.


Nayla mengikuti tuan muda Denis, karena saat selesai sarapan tadi pagi, anak itu pergi menuju belakang rumah.


Nayla melihat dari kejauhan, ia merasa iba saat melihat anak kecil itu sedang terduduk dikursi panjang dengan wajah sedihnya.


"Eh Nay Mau kemana?" Hana memegang tangan Nayla, mencegah agar Nayla tidak menyusul kesana.


"Ya mau ke tuan muda lah"


Hana menggeleng"Jangan, nanti kamu kena pecat loh" Cegah Hana.


Nayla perlahan melepas tangan Hana yang memegang tangannya"Han, aku itu manusia yang punya hati, coba kamu lihat..."


Nayla mengarahkan pandangannya pada Denis, tuan muda dirumah ini, yang dimana Hana pun mengikuti pandangan Nayla.


"Anak sekecil itu baru aja tadi malem ditampar oleh ayahnya sendiri, aku...sebagai manusia yang punya hati merasa iba, apalagi dia masih kecil, masih butuh kasih sayang, pliase dong, hati orang mana yang enggak perih, paling cuman orang-orang yang gak punya hati nurani"


"Nay, kamu pikir semua pelayan disini enggak merasa iba? Semua juga sama Nay, mereka juga pengen nolong Denis, si tuan muda yang kehilangan kebahagiannya dan senyumannya dua tahun lalu, tapi kita ini cuman pelayan yang dibayar untuk tugas masing-masing, kita bisa apa si Nay?"


Nayla menggeleng"Seenggaknya kita bisa hibur, jangan cuma diam dan liatin, dia itu anak kecil yang butuh kasih sayang, bukan disiksa kaya gitu, aku enggak tega Han"


Hana menggelengkan kepalanya"Jangan, kamu bakal dipecat Nay!"


"Karena apa? Dipecat cuman karena masalah aku mau hibur? Itu berarti dia manusia paling buruk, ayah paling buruk yang pernah aku liat dan temui, sekarang minggir! Jangan halangi aku untuk hibur anak itu!"


Nayla mendorong Hana dengan kuat hingga Hana sedikit oleng, kemudian Nayla berjalan mendekati Denis, si anak malang.


Nayla tersenyum saat melihat anak itu sedang menangis dalam diam dan memeluk bingkai foto.


"Hai" Sapa Nayla dengan pelan.


Denis melirik Nayla dengan mata sembab nya, kemudian kembali memeluk foto itu dan mengabikan Nayla.


Nayla tersenyum lebar saat melihat kaki pendek yang menggantung sembari diayunkan dikursi panjang"Boleh enggak kakak duduk disini?" Tanya Nayla dengan hati-hati.


Denis melirik dengan sinis"Pergi! Jangan dekati aku! Aku tidak suka dengan seorang yang caper!" Seru Denis pada Nayla, karena menurutnya orang didepannya ini hanya ingin caper karena ingin mendekati daddynya, sama seperti pelayan yang pernah bekerja disini.


Nayla melototkan matanya, terkejut dengan ucapan anak kecil didepannya, bisa-bisanya dirinya disebut caper.


"Eh, kakak enggak caper kok, disini kakak tu mau nolong kamu, kakak disuruh malaikat untuk nolong anak tampan kaya kamu yang lagi sedih..." Ucap Nayla dengan senyumannya pada Denis.


"Bohong! Sekarang kau pergilah! Aku tidak ingin diganggu oleh perempuan caper sepertimu!" Bentak Denis pada Nayla.


Nayla menggelengkan kepalanya"Enggak! Kakak enggak akan pergi sebelum kamu ceria lagi!"


Kemudian Nayla duduk disamping Denis, walaupun agak-agak takut dan was-was kalau Denis nanti ngamuk, tapi enggak apa-apa lah, yang penting dia berusaha.


"Wah ternyata kau tidak denger!! Denis bilang pergi!!!! Mau Denis gigit tangan mu!!!" Denis pun berisiap untuk menggigit tangan Nayla dengan memamerkan gigi-giginya yang rapi itu.


Nayla panik"Eh jangan dong, kalau digigit nanti berdarah, kakak cuman pengen kenalan sama kamu, kakak cuman pengen hibur kamu, sekarang kakak pengen tau siapa namamu?" Nayla tersenyum sembari menjulurkan tangannya, walaupun sebenarnya takut jika benar nanti akan digigit.


Denis menatap tangan Nayla cukup lama dengan tatapan tajamnya, tanpa diduga denis menerima uluran tangan Nayla.


Nayla tersenyum senang, ia sungguh bangga karena anak kecil ini mau berkenalan dengannya"Nayla! Panggil aku kak Nayla ya!"


Denis segera melepas tangannya dan menganguk dingin, kemudian kembali dengan bingkai gambar yang tadi ia peluk.


Nayla melirik Denis yang sedang memandnagi foto dibingkai"Itu siapa Denis?"


"Mommy"


"Oh itu mommy kamu? Cantik banget" Puji Nayla dengan jujur saat melihat foto itu.


Denis mengelus bingkai foto itu"Benar, mommy ku memang cantik, dia adalah wanita tercantik didunia versi Denis, dia adalah mommy terbaik, perempuan terbaik didunia ini, Denis tak akan pernah lupa kenangan yang dibuat mommy dulu, akan selalu Denis simpan dimemori otak Denis"




Nayla sedikit terkejut dengan ucapan anak tujuh tahun ini, bahkan kata-katanya seperti orang dewasa, orang yang sudah mengerti segalanya tentang permasalahan hidup.


"Apa kak Nayla ingin tahu apa kenangan yang mommy buat?" Tanya Denis tanpa mengalihkan pandangannya pada foto itu.


Nayla segera mengangguk"Iya kakak sangat penasaran, ceritakan padaku"


"Mommy selalu menghiburku saat deddy memarahiku, mommy pernah membuat kapal selam dari kertas saat deddy tidak memberiku izin untuk membeli mainan kapal yang berada dimall, tapi kapal kertas yang dibuat mommy itu sudah rusak"



Nayla yang mendengar cerita Denis pun menjadi sedih, ia jadi teringat pada ibunya yang dikampung, dan memang benar wanita terbaik didunia ini hanyalah ibu, tidak akan pernah bisa menggantikan sosok ibu sekalipun.


"Apa kak Nayla masih punya mommy?"


"Iya, kakak masih punya mommy dikampung" Jawab nayla dengan cepat.


"Jangan sia-sia kan waktu itu yang kak, karena saat kita sudah benar-benar kehilangannya itu akan menyesal seumur hidup, seperti Denis yang sangat menyesal belum menjadi anak yang baik untuk mommy"


Nayla meneteskan air matanya, kemudian menggleng"Tidak, kau anak baik, siapa yang bilang jika kau anak nakal hah?" Nayla kemudian menarik tubuh Denis dan reflek memeluknya karena terlalu mellow.


Nayla benar-benar baper alias bawa perasaan akibat kata-kata anak didepannya"Kau adalah anak hebat!"


Denis menerima pelukan itu dengan hangat, entah kenapa dia rasanya seperti dipeluk oelh mommy Mawar.


Untuk beberapa menit mereka berpelukan dengan diam tanpa ada suara, hingga tiba-tiba suara aura dingin itu terdenagr ditelinga Nayla dan Denis.


"Denis!"


Denis segera melepas pelukannya, ia bsgitu takut akan suara dingin itu.


"D-daddy" ucap Denis dengan gugup.


"Masuk!"