
Sore ini Nayla sedang berada didapur dengan Hana, kali ini dirinya sedang membereskan makanan dan minuman yang berada dikulkas, membuang semua minuman, makanan, dan sayuran yang tidak layak, ralat bukan tidak layak, tapi memang tuannya ini menurut Nayla agak sedikit lebay.
"Hana, ini padahal masih sedikit doang yang busuk, yakin mau dibuang?" Tanya Nayla sembari mengangkat sawi yang menurutnya masih lumayan bagus.
"Ya yakin lah" Jawab Hana kemudian kembali membuang sisa sayuran yang lain kedalam plastik besar.
"Mubazir doang Han, dikampung aku tuh kaya gini maish seger tau, maish bisa dimakan, bahkan dikampung pun enggak ada yang namanya makanan sisa, ssmua dimakan"
"Ck..Nayla, itu dikampung, ini kan kota, yang ada kalau tuan rumah dikasih sayuran kaya gitu bakal masuk rumah sakit nanti"
Nayla mengangkat alisnya"Ah masa sih, itu sih lebay kalo sampe masuk rumah sakit" Ucap Nayla yang tetap saja ternyata setelah mendengar ucapan Hana dirinya membuang sawi itu.
Hana menggelengkan kepalanya"Terserah kamu deh Nayla"
"Han, yang bener aja, ini minuman Exp kan masih bulan depan, masa mau dibuang sih" Omel Nayla yang sepertinya ibu-ibu.
"Huh, kan itu mendekati Exp Nayla, jadi memang harus dibuang" Hana yang akan membuang minuman itu pun dicegah oleh Nayla.
"Eh jangan, kalo gitu biar Nayla simpan dikamer, biar Nayla aja yang minum, bener-bener yah, orang kaya tuh mubazir banget, tau gak dikampung mau seminggu exp pun masih diminum, bahkan waktu tanggalnya pun masih diminum, yang penting kan enggak lewatin tanggal exp"
Nayal kemudian mengambil plastik besar yang kosong, dan memindahkan semua minuman kaleng maupun botol itu kedalam plastik, untuk ia bawa dikamar.
"Yah namanya juga orang kaya" tanggap Hana.
"Kayaknya perlu diajarin majikan kita nih han, cara gimana jadi orang jangan mubazir dan boros"
Hana yang mendengar itu ocehan Nayla yang tidak penting itu memilih mengabaikannya dan berfokus pada sayur-sayuran yang harus ia pilih mana yang dibuang dan mana yang tidak.
"Eh Han"
"Apa?" Jawab Hana.
"Ngemeng-ngemeng, tuan rumah disini itu yang tinggal cuman dua orang itu?" Tanya Nayla dengan penuh penasaran.
"Iya, sebelumnya sih tiga orang sama nyonya Mawar Abbas, istri tuan Enzi, setelah nyonya Mawar meninggal kadi cuman dua orang" Jawab Hana.
Sejenak Hana terdiam, ia tiba-tiba saja rindu dengan suasana rumah dua tahun lalu, dimana rumah ini pasti setiap harinya ramai jika ada nyonya Mawar.
"Terus keluarga yang lainnya?"
"Kalo keluarga inti Ivawan itu ada di Dubai, di mansion besar, kalau disini hanya tuan Enzi saja, enggak ada keluarga lain"
"Jauh banget di dubai"
Hana menagngguk"Yang aku denger sih, alasan tuan Enzi pindah kemari karena dia menikah dengan Nyonya Mawar, yang orang asli sini. sebelumnya pernikahan mereka tidak direstui oleh orang tua Tuan Enzi, tapi tuan Enzi terus bersikeras untuk menikah hingga dia memutuskan untuk kawin lari demgan nyonya Mawar, dan keluarga Ivawan marah besar terhadap tuan Enzi, hingga sepuluh tahun lamanya belum pernah kesini menengok tuan Enzi, aku rasa mereka sudah membuang tuan Enzi, udah ah malah jadi ngerumpi.."
Nayla mengerucutkan bibirnya"ih lanjutin dong Han, aku masih penasarn nih sama ceritanya, masa cerita setengah-setengah gitu, snggak seru"
"Shhttt...nanti deh dilanjutin, setelah selesai sama kerjanya, nanti malem aku kekamar kamu"
Nayla mengangguk"bener ya! Aku tunggu nanti malem loh"
"Iya"
Tak...Tak...Tak...
Suara sandal seseorang turun dari tangga membuat pandangan Nayla dan Hana beralih pada orang tersebut.
Ternyata itu adalah Enzi, dia turun dari ruang kerjanya menuju kulkas untuk mengambil air soda.
Enzi berjalan melewati Nayla begitu saja, bahkan melirikpun tidak sama sekali, Enzi membuka kulkas pintu empat itu dan mengambil dua soda dingin.
Kemudian kembali menutup pintu kukas itu dan kembali berjalan melewati dua orang itu.
Jika Hana biasa saja saat tuan Enzi tidak mengetahui keberadaannya, berbeda dengan Nayla.
"Dasar tuan muda sombong! Tuan muda jahat" Ucap Nayla pelan saat Boss nya itu berjalan melewatinya begitu saja.
Enzi menghentikan langkahnya.
Hana yang mendengar itu segera membekap mulit Nayla dengan erat.
"HhMmppmm..." Nayla memberontak saat Hana membekap mulutnya.
Enzi membalikkan tubuhnya"Siapa yang berbicara barusan"
"Habis lah kau Nayla" Batin Hana.
Hana membuka bekapan Nayla kemudian menggelengkan kepalanya, daripada dia nanti yang kena imbasnya dituduh dia yang berbicara.
Sedangkan Nayla memejamkan matanya, merutuki kebodohan yang baru saja dia lakukan.
"Nayla tuan! Nayla yang berbicara, tolong jangan pecat saya" Seru Hana.
Nayla melototkan matanya terhadap Hana.
Hana yang dipelototi Nayla seakan tidak peduli, daripada dirinya yang dipecat kan?.
"Lagi lagi kau membuat masalah! Surat peringatan pemecatan 1 akan diberikan kepadamu!"
Enzi segera berbalik dan kembali berjalan menuju kamarnya.
Setelah melihat tuan Enzi pergi Hana menjitak kepala Nayla"Bodoh banget sih Nay!"
Nayla mengusap kepalanya"Ya maap, aku kira enggak denger tadi dia, ternyata masih berfungsi, badahal loh tadi akutu ngomongnya pelan banget suwer..." Nayla mengkat jarinya dua.
"Sepelan apapun tuan Enzi bakal denger, dia itu punya indra ke enam, dia bisa denger sekecil apapun suara kamu, semut ngomong aja dia denger"
"Masa sih?"
"Enggak tau juga, kayaknya gitu sih"
"Jadi kamu ngarang?.."
"Iya"
"Is is is.."
.
.
.
.
.
Malam harinya seperti biasanya Nayla akan melakukan pekerjaan nya seusi dengan tugasnya yaitu memasak.
Nayla menyajikkan makanan yang sudah ia buat diatas meja makan, walaupun agak deg-degan karen sudah ada tuan besar, masih inget Nayla mah sama ancaman bos yang tadi sore sama tadi pagi.
Gila aja dua kali dia diancem, ck emang Nayla tuh hebat.
Nayla menyajikan makanan itu dengan menundukkan kepalanya"Silahkan tuan dinikmati" Ucap Nayla dengan senyuman palsunya.
Enzi hanya diam, seperti biasa jika makan ia akan menunggu Denis terlebih dahulu.
Beberapa detik kemudian Denis bersama sus Wasis pun turun, Denis sedikit menarik bibirnya saat melihat kak Nayla yang sedang berdiri disamping meja makan.
Denis kemudian kembali menarik bibirnya yang semua tersenyum karena tatapan tajam dari sang daddy.
Denis duduk dikursi dan mulai menyantap makanannya setelah diambilkan oleh sus Wasis, begitupun dengan Enzi yang juga menyantap makanannya.
Sunyi. Itu yang dirasakan Nayla saat dia berdiri cukup lama disamping tuan Enzi, karena menurut buku yang dia baca memang harus seperti itu.
Buset sunyi banget, enggak ada percakapan antara ayah dan anak gitu? Greget banget...
Entah kenapa jadi Nayla yang greget sendiri, ya memang dalam agama manapun kalo makan ya diem, tapi jangan terlalu diem banget juga kan?
Karena kebiasaan Nayla yang biasanya dikampung jika makan selalu sambil mengobrol bersama ibu bapak dan Galih.
"Sus Denis mau minum" Ucap Denis setelah menghabiskan makanannya.
Wasis segera mengambilkan air putih yang berada tak jauh dari Denis.
"Sus aku ingin air dingin.."
Nayla yang mendengarnya pun segera mencegah sus Wasis yang akan pergi ke kulkas"Ee biar saya saja yang mengambilnya, mbak biar disini"
"Jangan memberinya air dingin, Denis kau minum air putih!"
Suara dingin itu membaut Nayla menghentikan langkahnya, kemudian ia menatap sus Wasis.
"Baiklah, sus aku ingin air putih saja" Ucap Denis tanpa perlawanan.
Sus Wasis pun mengambilkan air putih yang berada tak jauh dari Denis dan menuangkannya kegelas.
Nayla kemudian kembali berbalik dan menepati posisi semula"Aduh nak...kamu ini terlalu nurut, harusnya ada penolakan kaya anak-anak diusia kamu saat orang tua melarangnya, ini langsung nurut aja, terlalu takut yah?? Seandainya aku jadi ibunya pasti deh aku bolehin, kan cuman sedikit" Batin Nayla yang merasa kasihan.