My Love The Maid

My Love The Maid
Dipecat Oleh Tuan Pedes



Pagi harinya Nayla sedang berkutat dengan peralatan masak, ia akan memasakkan tuan rumah sup yang super spesial.


Saat bangun tadi Nayla melihat bahwa tuan Enzi belum bangun juga, Nayla pikir obat itu akan habis jika sudah enam jam, menurut pengalamannya, karena adiknya yang terkena kanker itu juga pernah diberi obat penenang+ obat tidur, jadi akan lama bangunnya.


Setelah selesai memasak sop itu Nayla mengambil nasi itu di magicom dan menaruhnya dipiring, sop itu Nayla letakkan di mangkuk, Nayla akan membawa sarapan ini keatas.


Tapi sebelumnya Nayla berheti didepan kamar Denis yang sedikit terbuka, ternyata Denis sedang sholat.


"MasyaAllah..." Nayla tersenyum kagum pada anak kecil itu, ia suka pada orang yang apapun keadaannya selalu ingat Allah.


Kemudian Nayla kembali berjalan memasuki kamar pria sakit"Tuan.."


Panggil Nayla yang belum ada sautan sama sekali, Nayla meletakkan nampan berisi sop dan nasi putih itu dimeja samping tempat tidur.


Nayla tersenyum melihat tuan Enzi yang masih menutup matanya"Lihatlah, anak anda sungguh pintar, dia tidak pernah lupa dengan tugasnya, tuan saya yakin jika anda sembuh pasti anda tidak akan marah-marah lagi kan pada Denis? Kalau iya, saya akan membantu anda untuk sembuh...."


Selama beberapa menit Nayla duduk dikursi sembari menunggu tuan Enzi bangun, memang bosan, tapi bagaimana lagi?


Enzi mengerjapkan matanya yang terasa sangat berat, Enzi membuka matanya secara perlahan.


Pertama yang ia lihat adalah buram, seperti orang yang minus, tapi selamg beberapa detik matanya kembali normal dan melihat ada seorang perempuan yang berdiri disampingnya dengan wajah khawatir.


Saat Nayla mslihat bahwa tuan Enzi bergerak, Nayla segera berdiri dari duduknya"Tuan..anda baik-baik saja?" Tanya Nayla dengan khawatir.


"Haus..." Ucap Enzi dengan suara yang lemas.


Nayla dengan cekatan mengambil air mineral yang berada disamping nampan yang berisi sarapan.


"Ini" Nayla kemudian mebantu Enzi untuk bangun dnegan memegangi bagian punggungnya.


Enzi menerima air minum itu dengan baik, karena tubuhnya benar-benar sangat lemas.


Enzi menyusahi minumnya saat dirasa sudah cukup, kemudian ia menyingkirkan tangan Nayla yang sedang memegangi punggungnya"Lepaskan!"


Nayla segera menyingkirkan tangannya dan menaruh gelas dengan isi setengah air.


"Tuan, anda ingin apa?" Tanya Nayla saat enzi berusaha melepas infus yang terpasang ditangan kekar itu.


"Bukan urusanmu!" Suara Enzi dingin.


"No! Jangan dilepas dong, infusnya belum habis" Ucap Nayla dengan cemas, kemudian reflek memegang tangan Enzi dan menjauhkan tangan kirinya yang akan melepas infus itu, karena Enzi sedang lemas akhirnya Nayla dengan mudah memindahkan tangan besar itu.


Enzi menatap sinis pada perempuan disampinya yang sudah berani menyentuhnya"Lancang!"


Nayla tersenyum"Sorry, sekarang anda sarapan yah, biar saya suapkan makanannya"


Nayla mengambil nasi putih yang sudah ia bawa dari bawah, kemudian mencampurkannya dengan sayur sop.


"Aku tidak mau! Siapa kau mengaturku!"


Nayla melirik Enzi"Huh...tuan masa anda lupa sih, saya tuh Nayla yang super cantik"


Enzi kembali mengingat-ingat nama itu, sepertinya ia tidak asing"Kau!...kenapa masih hidup?"


Nayla duduk"Ish tuan, kok ngomongnya gitu, bikin hati Nay jadi mellow, kan tuan enggak jadi nembaknya, padahal emang nayla pengen ditembak cowok, tapi bukan nembak pake pistol, nembaknya pake hati, tuan mau gak nembak Nayla lagi?"


Nayla segera diam saat melihat tuan Enzi yang menatapnya dengan tajam, tapi anehnya justru matanya berkaca-kaca, Nayla tidak melihat ada kemarahan dimata tajam itu"H-hanya bercanda Tuan"


Enzi segera memalingkan wajahnya kearah jendela"Siapa yang berani membuka kordennya.."


"Maaf tuan, kamar anda kan warna serba abu-abu dan hitam, jadi Nayla buka deh, soalnya gelap, sekarang anda sarapan yah, supaya anda ada tenaga..." Ucap Nayla dengan lembut, kemudian mengarahkan sendok yang berisi makanan itu ke tuan Enzi.


"Tutup!"


"Tapi.."


"Saya bilang tutup!" Perintah Enzi sekali lagi.


"Tuan makan ya, saya mohon.."


Enzi melirik Nayla, kemudian ia berusaha untuk duduk, tapi Nayla yang khawatir berusaha untuk menolong"Tidak perlu" Enzi menepis tangan Nayla.


"Biar saya makan sendiri,"


Nayla menggelengkan kepalanya"Emmm...jangan tuan, tangan anda kan sedang di infus, biar saya suapi ok"


Nayla kembali mengarahkan sendok itu kemulut Enzi"Aaaa"


Enzi sesaat terdiam dan memandang sendok itu, lalu melihat Nayla.


Nayla tersenyum dan mengangguk.


Mau tidak mau Enzi pun membuka mulutnya dan melahap makanan tersebut.


"Kenapa anda pintar tuan xixi..." Nayla tertawa bahagia saat tuan Enzi mau makan suapan darinya.


"Saya bukan anak kecil, jadi berikan piring itu!" Entah kenapa Enzi tidak suka merasa diperlakukan seperti anak kecil.


"Eh, maaf bukan bermaksud kok, cuman saya senang saja, maaf kalo berlebihan ya.." Ucap Nayla dengan penuh kelembutan.


Biar bagaimanapun saat sekolah ia pernah berkunjung ke perpustakaan dan membaca buku tentang psikolog, dan menurut buku itu, orang yang terkena gangguan mental atau depresi ini harus diperlakukan secara lembut, dan salah satu penyebab gangguan seperti ini biasanya karena mengalami trauma atau kejadian buruk dan sakit hati yang begitu dalam dimasa lalu.


Enzi menatap tajam Nayla.


"Apa? Tuan kenapa menatapku seperti itu? Apa tuan jatuh cinta pada Nayla? Ayo katakan....Jika iya, buat Nayla kagum dan jatuh cinta pada tuan"


Nayla kemudian kembali diam, saat tuan Enzi semakin menatapnya dengan tajam.


Nayla kembali menyuapkan makanan itu kemulut tuan Enzi dengan hati-hati.


Beberapa menit kemudian"Tuan" Panggil Nayla saat baru saja menyuapkan makanan kemulut Enzi.


Enzi hanya melirik.


Nayla menarik nafasnya" Nay benar-benar tidak tau kejadian apa dimasa lalu yang anda alami, tapi percayalah Nayla akan membuat tuan sembuh"


"Kau ini bicara apa?"


"Apa tuan sayang pada Denis?" Tanya Nayla dengan hati-hati, karena takut jika berbicara tentang Denis akan kembali mengamuk.


"Kenapa kau berbicara seolah aku ini orang tua yang jahat hah!" Bentak Enzi pada Nayla.


Nayla memegangi dadanya yang kaget.


Apa dia pikun? Tidak mungkin kan habis sakit kepala langsung hilang ingatan, ajaibnya kelewatan, bukannya kalo amnesia itu kalo kepala kita kejedug atau ketabrak ya....


Pikir Nayla.


"Em,... bukan begitu tuan, hanya memastikan, oh ya ini makan lagi, tinggal satu sendok lagi lho" Nayla segera menyiapkan makanan terakhir itu kemulut tuan pedes.


"Kau dipecat!" Ucap Enzi setelah menghabiskan makanannya yang ia kunyah.


Nayla yang sedang membereskan piring dan mangkok pun melototkan matanya"Hah?! Kenapa dipecat tuan?"


"Kerjamu buruk! Bukankah tadi malam aku sudah bilang, bahwa dirimu dipecat! Sekarang kau keluar dan bereskan barang-barang mu" Perintah Enzi yang menunjuk kearah pintu, kode bahwa Nayla harus keluar.


Nayla mengerucutkan bibirnya lucu, kemudian ia mendekat, berniat untuk memegang tangan tuan pedes itu, tapi segera ditepis oleh Enzi.


Karena ditepis, Nayla menggenggam tangannya dan mengangkatnya didada, ksmudian mengedip-ngidipkan matanya sembari tersenyum"Tuan....jangan pecat dong, kalo dipecat nanti Nayla cari kerja dimana dongs..."


"Terserah" Ucap Enzi cuek, kemudian ia menarik selimut tebal berwarna abu-abu itu, dan akan kembali untuk tidur.