
"Turunlah!"
Denis hanya diam membeku disamping daddy nya, yang terdengar hanya Isak tangis bocah 7 tahun itu.
"Denis keluar!"
Denis menggeleng.
"Kau bilang ingin bertemu dengan mommy bukan? sekarang akan daddy tunjukkan dimana mommy mu"
Denis melirik jendela diluar, yang dimana itu sangat gelap, ia juga dapat melihat bahwa ini dipemakaman umum.
Perlahan Denis membuka mobilnya, menuruti kemauan daddy Enzi"Dad kenapa ke pemakaman?"
Enzi yang baru saja keluar dari mobil melirik anaknya"Kau bilang ingin bertemu mommy? daddy hanya menuruti kemauanmu agar kau stop untuk membahas mommy!"
Denis diam, ia sedang mencerna perkataan deddy nya.
"Ikut daddy!" Perintah Enzi.
Denis pun menurutinya, ia berjalan dibelakang daddy nya, diikuti oleh Wasis dibelakangnya yang selalu siap siaga.
Setelah beberapa menit melewati beberapa pemakaman, Enzi menghentikan langkahnya disalah satu pemakaman bertuliskan Mawar Abbas.
"Dad kenapa kita kesini? aku hanya ingin bertemu mommy, bukan untuk ziarah ded"
"Seharusnya diusiamu yang ke tujuh tahun kau lancar membaca batu nisan yang tertulis disini"
Denis mengarahkan pandangannya pada batu nisan dipemakaman didepannya.
Mawar Abbas
Gumam Denis pelan, untuk sesaat ia masih loading dengan tulisan itu.
Kemudian Denis menggelengkan kepalanya"No! No! mommy tidak mungkin ada didalam sini kan dad! dad tolong bilang padaku, bahwa ini bukan mommy!!!"
Denis terus menggoyangkan pinggul milik Enzi, menolak dan berharap bahwa itu bukan mommy nya.
Enzi melepas tangan anaknya dari pinggulnya, dan berjongkok, kemudian mengarahkan jari telunjuknya pada nama dibatu nisan"Mawar Abbas, kau lihat tanggal lahir dibawah? kau ingat tanggal berapa mommy ulang tahun?"
Denis mulai meneteskan air matanya, menolak keras bahwa yang didalam situ pasti bukan mommy nya, tapi kenyataan membuatnya putus cinta, tanggal lahir itu sama dengan tanggal lahir mommy.
"23 April" lirih Denis.
Enzi mengangguk"Good boy, ternyata kau pintar, jadi terima kenyataan bahwa mommy sudah tenang disana"
Denis perlahan meruntuhkan tubuhnya, ia duduk didepan makam yang bertuliskan Mawar Abbas, yaitu mommy nya.
Perlahan Denis membelai makam yang sudah dikramik itu, mencoba untuk menerima kenyataan"kenapa kau pergi begitu cepat? Mom a'm sorry, aku belum bisa menjadi anak baik..."
Sunyi. hanya ada tangisan seorang anak kecil di tempat pemakaman itu.
Lima belas menit kemudian.
"Kurasa cukup, sekarang kita pulang, Wasis kau pergilah kemobil terlebih dahulu"
Wasis mengangguk dan segera pergi menuruti perintah tuan Enzi.
"No dad, aku masih rindu pada mommy hiks...hiks.." Lirih Denis sembari memeluk makam itu dan mencium batu nisan mommy nya.
"Pulang atau daddy tinggal!" Enzi segera pergi meninggalkan anaknya sendirian yang masih menangis dimakam.
Denis kemudian berdiri dari duduknya"Mom Denis minta maaf, Denis juga takut pada kegelapan, lain kali Denis akan mampir kesini lagi, daddy jika berbicara tidak pernah bohong, dia pasti akan meninggalkan ku jika aku berlama-lama disini, dia benar-benar jahat padaku, dia tidak membiarkan kita bersama lebih lama lagi"
Denis berbalik, sebelum benar-benar pergi, ia melambaikan tangannya pada makam mommy nya"Bye mom, Denis akan segera kembali kesini, aku senang bertemu denganmu walau aku tidak bisa melihat wajahmu, aku adalah laki-laki kuat, aku berjanji akan menjadi laki-laki hebat seperti mimpimu waktu itu mom"
"Dad!!" Teriak Denis saat mobil daddynya itu mulai berjalan meninggalkan dirinya, Denis berlari mengejar mobil daddynya.
Enzi segera menghentikan mobilnya dan membuka pintu mobil.
Denis berlari menyusul mobil itu yang sudah lumayan jauh, kemudian ia segera masuk dan langsung disambut pelukan oleh sus Wasis.
"Tuan muda tidak apa-apa?" Tanya Wasis dengan khawatir sembari mengusap kepala Denis, wanita yang berumur itu begitu khawatir akan kondisi tuan muda yang barusan berlari mengejar mobil.
Denis tersenyum dan mengangguk pada sus nya.
Enzi segera menjalankan mobilnya, karena hari sudah larut malam.
"Tuan muda tidur saja ya dipelukan sus, sus yakin jika tuan pasti sangat lelah" Ucap Wasis dengan begitu lembut, sembari terus mengelus kepala Denis.
Denis mengangguk dan memeluk erat sus Wasis, beberpaa manit Kemudian dirinya pun sudah menutup matanya.
Saat sampai Wasis yang berniat untuk mengangkat Denis dan membawa kekamarnya pun ditahan oleh Enzi.
"Biar saya yang membawa Denis kedalam, kau istirahatlah"
Wasis mengangguk"Baik tuan" perlahan Wasis memindahkan kepada Denis agar tidak terbangun.
Setelah Wasis pergi, Enzi membuka pintu mobilnya dan membuka pintu mobil penumpang, perlahan ia mengangkat tubuh Denis dengan pelan, agar anaknya tidak terbangun.
"Maaf"
Satu kata yang terucap dari bibir Enzi setelah menidurkan anaknya dikasur, kemudian Enzi mematikan lampu kamar dan keluar dari kamar Denis.
.
.
.
.
.
Sementara itu dikamar pelayan.
Nayla menggigit jarinya, ia mondar mandir keliling kamar, karena begitu khawatir akan tuan muda kecil.
"Aduh, kira-kira tuan muda kecil diapa-apain lagi gak ya Sam tuan Enzi resek itu.."
Nayla terus mondar mandir dikamarnya.
Dug!...
"Au.." Nayla mengusap keningnya yang baru saja menabrak dinding.
"Ish..gara-gara si Enzi itu ih, kan jadi kejedot aku nya, ck..biar Nayla sumpahin tu laki-laki duda jelek jadi impoten! burungnya enggak berfungsi lagi!"
Ya. Nayla sudah mengetahui bahwa tuan Enzi adalah seorang duda, itu karena cerita dari Hana, orang yang beberpa jam lalu bertengkar dengannya, sekarang sudah menjadi friend.
Dan juga, Enzi itu bertengkar dengan anaknya perkara anaknya nyariin mommy nya dimana.
Jadi Nayla menyimpulkan bahwa tuan kecil itu tidak tahu bahwa mommy nya sudah enggak ada, tentu saja yang salah menurut Nayla adalah Enzi, duda resek itu.