My Love The Maid

My Love The Maid
Pertama Kalinya ke Kota



Keesokan harinya


"Subhanallah, wizz gawat ini, ternyata kota rame dan indahe puuuolllll, banyak gedungnya juga"


Nayla menatap kagum kota A Setelah beberapa detik lalu baru saja turun dari bis yang ia tumpangi.


Ya. tadi malam begitu Nesa mengabarinya bahwa bibinya butuh pembantu cepat, Nayla pun segera membereskan pakaian-pakaian nya untuk pergi besok pagi ke kota, tentu sudah dapat izin dari ibu dan bapak, mereka bahkan berharap saat Nayla merantau dikota nanti bisa membawa pulang uang yang banyak.


dan hari ini, pukul 14.00, disinilah Nayla sekarang, dikota A.


Nayla benar-benar tidak menyangka, bahwa kota akan se-indah ini.


Sangat berbeda dengan dikampunya, yang ramai jika hari tertentu saja, seperti pasar malam Kamis, pasar sore, hajatan, pokoke bada lah kota sama desa.


"Permisi, apa benar ini dengan Nayla"


Nayla segera membalikkan badanya, ia sedikit kaget saat tiba-tiba dibelakangnya ada satu pria berbadan besar menggunakan baju serba hitam"Sampean tanya saya?" Nayla menunjuk dirinya sendiri.


Pria berbadan besar itupun mengangkat satu alisnya"Sampean itu apa?"


Nayla menepuk jidatnya, Astagfirullah ia lupa jika ini dikota, ia juga lupa pesan yang disampaikan oleh Nesa, bahwa dia harus menggunakan bahasa baku"Em.. maksutnya tadi anda berbicara padaku?"


Pria berbadan besar tersebut mengangguk"Benar, saya ditugaskan kemari untuk menjemput salah satu orang yang bernama Nayla Antasari yang akan bekerja sebagai pembantu dirumah tuan Ivawan"


Nayla segera mengangguk sembari menunjukkan dirinya sendiri dengan telunjuk"Iyo iyo eh m-maksutnya iya iya, itu saya tuan, saya Nayla


Antasari" Jawab Nayla dengan semangat


Kayak e kaya banget, pembantu aja sampe dijemput pake mobil Alphard....


Nayla melihat belakang pria berbadan besar itu, yang dimana terdapat mobil Alphard berwarna putih.


"Baklah, silahkan ikut dengan saya, saya akan membawa anda ketempat nanti anda bekerja"


Nayla mengangguk dan mengikuti pria tersebut sembari membawa tas yang berisikan baju-bajunya.


Beberapa menit kemudian.


Mata Nayla hampir copot saat mobil Alphard yang ia tumpangi ini memasuki area gerbang yang bertuliskan Ivawan, bahkan sebelumnya beberapa meter dari rumah ini ada gapura besar bertuliskan KAWASAN IVAWAN.


Nayla pun terkagum dalam hati kecilnya, whanjayyyyy orang kaya banget banget inimah ya, lebih kaya dari pada si Inem, musuh bebuyutannya sedari kecil.


Bahkan rumahnya pun ada empat lantai, beda dengan Inem yang hanya dua lantai tapi kecil.


"Sialahkan turun, nanti akan ada kepala pelayan yang bernama Wati yang akan kemari dan menunjukkan beberapa tempat untuk mengenalkan kepada anda, kurang lebih disebut sebagai peradabtasian"


Nayla mengangguk"Baik tuan, kalau begitu saya turun"


"Jangan panggil saya tuan, panggil dengan Mister Anson, anda bisa memanggil tuan pada tuan rumah disini, yaitu tuan Enzi"


Nayla mengangguk mengerti"Baiklah mister Anson, saya mengerti"


Nayla segera membuka mobilnya, baru saja turun ia sudah disusul oleh seorang wanita yang sudah berumur tapi masih keliatan segar, yang Nayla yakini itu adalah Wati.


Nayla segera membungkukkan tubuhnya, sebagai pertanda ia menghormati.


"Mari ikut dengan saya, saya akan mengenalkan beberapa tempat untuk kamu ketahui" Ucap wanita itu pada Nayla dengan suara dinginnya dan tidak bersahabat sama sekali.


Nayla menelan salivanya, sungguh perempuan tua didepannya ini benar-benar sangat judes banget, sama seperti Inem, musuh bebuyutannya, rasanya pengen Nayla gigit deh ni nenek tua.


"Ayo! jangan melamun, yang bekerja dikediaman Ivawan sangat dilarang keras untuk melamun apalagi lelet, begitu saya melihat kamu lelet atau melamun kembali, surat pemecatan akan menantimu!"


Nayla mengangguk"Maaf bik"


"Baik buk Wati"


Saat buk Wati mulai memasuki rumah yang megah itu, Nayla buru-buru menyusulnya dengan tangannya yang membawa tas pakaian, sebelum dia dimarahi kembali.


"Ini adalah tempat utama kau nanti akan bekerja, yaitu kitchen" Jelas Buk Wati pada Nayla dengan begitu detail.


Nayla melipat keningnya"Maaf buk, kitchen tu apa ya? maaf banget iki, soalnya kan Nayla dari kampung, gak terlalu ngerti bahasa Inggris, nilai raport juga gak bagus-bangus banget" Ucap Nayla dengan sejujur-jujurnya sembari menundukkan kepalanya karena merasa tidak enak dan malu.


"Ya saya mengerti, kitchen itu adalah dapur, tugasmu disini kan sebagai koki dan membersihkan bagian dapur, dan ini adalah tempat utama mu" Ucap Buk Wati yang sedikit agak melembutkan kata-katanya, tidak saat seperti pertama tadi yang lumayan dingin.


Nayla mengangguk, kemudian kembali mengikuti arah buk Wati yang kebelakang rumah.


"Itu adalah tempat tinggal para pelayan, rumah dengan dua tingkat itu, disana kau nanti akan diarahkan oleh Sisi, pelayan yang sudah lumayan lama bekerja disini" Ucap buk Wati sembari menunjuk rumah yang dibelakang.


Nayla mengangguk mengerti.


"Sekarang sampai disini dulu saja, kau istirahat lah, aku tau kau pasti lelah setelah seharian penuh diperjalanan, nanti pukul lima kau harus bangun dan menyiapkan makan malam untuk tuan Enzi dan tuan muda kecil"


Nayla mengangguk"Baik, makasih ya buk Wati, kalau begitu saya permisi, punten..."


Nayla berjalan melewati buk Wati sembari membungkukkan badannya.


"Permisi, maaf" Ucap Nayla pada dua orang yang saat ini sedang asik bermain Hp.


Dua orang tersebut pun melirik Nayla.


"Saya Nayla pembantu baru, mau tanya yang namanya ee...siapa ya tadi" Nayla kembali mengingat-ingat nama yang disebutkan oleh buk Wati tadi.


"Mbak Sisi?"


Nayla melototkan matanya sembari tersenyum"Nah iya, mbak Sisi"


"Ck..baru juga kerja udah pikun aja" Ucap salah satu pelayan itu dengan tatapan sengit pada Nayla.


"Yo namanya manusia, lagian kalian kenapa sih, sewot aja, cuman nanya begitu doang, orang syirik ya kaya gitu" Jawab Nayla membalas perkatan pembantu itu, karena dirinya tak terima jika disebut pikun.


"Wah, berani kamu sama senior! mau kamu dipecat ha?!"


Nayla melipat tangannya didada"Berani lah!, lagian Nayla mah enggak peduli mau senior apa bukan, tapi kalo mau baku hantam mah ayo!"


Nayla kemudian meletakkan tasnya dibawah, dan mulai melipat bajunya yang panjang itu sampai siku.


"Nantangin! ayo!" Salah satu pembantu yang tadi menyebut Nayla pikun itupun sama melipat bajunya hingga siku.


sedangkan pelayan satunya hanya terbengong sembari menyaksikan pertengkaran yang sepertinya seru.


Saat akan dimulai, tiba-tiba suara yang teramat keras pun mendatangi mereka, sehingga Nayla dan kedua pembantu itu menutup telinganya dengan begitu erat.


"WOIIIII"


TENG! TENG! TENG!


"MALAH PADA RIBUT!" Teriak seorang perempuan yang tak lain adalah Sisi dengan membawa panci dan kentongan.


"KALIAN BERDUA! SITI, HANI! MASUK KAMAR!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


My Love The Maid