My Love The Maid

My Love The Maid
Tertawa



"Aaaaaa!!!!! Aku meriang, aku meriang, aku meriang aku butuh duit sayang...." Nayla bernyanyi sembari setengah berteriak, sesekali ia memainkan rambutnya centil dibelakang Enzi. Yah bagaimana lagi, daripada ia kembali melihat tuannya memarahi Denis.


"Jay!"


Jay yang sedang didepan bersantai pun segera berdiri dan berlari.


Ya. Jay memiliki indra ke enam, ia bisa merasakan jika ada yang memanggil namanya, oleh sebab itu ia diterima menjadi pengawal dirumah Ivawan.


"Sap tuan!" Jay kemudian menatap aneh pada perempuan yang sedang bernyanyi itu"Tuan ada apa?"


Enzi menggelengkan kepalanya"Kau bawa dia keluar dari rumah ini! Kau jemur dia dibawah matahari agar segera sadar"


"Aku meriang...aku meriang...aku meriang merindukan belaian sayang..." Nayla masih tak menyadari bahwa Jay akan bersiap untuk membawanya keluar.


Nayla membuka matanya saat tiba-tiba tangannya diseret oleh seseorang"Eh kenapa diseret! Tuan...kenapa Nayla diseret, tolong!!!! Hey lepaskan aku!" Nayla terus berteriak di sisa-sisa dirinya hampir dibawa keluar.


"Tuan jangan sakiti Denis!!!" Teriak Nayla.


Brak!


Denis yang melihat itu berusaha menahan tawanya, kemudian kembali merubah ekspresi nya saat daddy nya memandangi nya.


Enzi memandangang anaknya.


Beberapa detik kemudian.


"Pppftttt AHAHAHAHA....AHAHHAHA...." Sepasang ayah dan anak itu tertawa lepas, karena terlalu lucu dan tidak bisa ditahan.


Denis memegangi perutnya yang terasa kram, begitupun dengan Enzi.


"Ded itu adalah pelayanmu! Hahaha...."


"Ya. Deddy rasa daddy salah memilih pelayan Ahahaha..."


Para tuan rumah dan tuan muda tidak menyadari bahwa tawa mereka banyak yang merekam dari balik dinding, siapa lagi jika bukan para pelayan-pelayan yang ada sekitar sepuluh orang itu, mereka merekam itu dari balik dinsing dengan perasaan bahagia.


Bahagia akhirnya ayah dan anak itu dapat tertawa tanpa nyonya Mawar.


Ya. Mereka adalah pelayan senior yang sudah bekerja sekitar lima tahun lalu, dimana mereka dulu sering melihat keluarga harmonis yang membuat pelayan senior itu iri dengan keharmonisan keluarga bahagia itu, tapi keluarga yang menurut mereka diimpikan itu tiba-tiba lenyap dan hilang begitu saja setelah nyonya Mawar di umumkan meninggal akibat bunuh diri.


"Denis kenapa kau tidak sekolah" Pertanyaan itu muncul dari mulut Enzi setelah tertawa kurang lebih setengah jam.


Denis memegangi perutnya yang masih terasa kram"Sorry dad, sus tadi bilang hari ini Denis jangan sekolah dulu, besok Denis akan sekolah"


Enzi kemudian mengangguk, kemudian ia mengkode Denis untuk mendekat ke arahnya"Kemarilah"


Walaupun agak sedikit takut tapi Denis tetap menuruti perintah daddynya, ia berjalan begitu lamban.


Para pelayan yang mengintip dibalik dinding pun jadi ikut takut dan ngeri, padahal lima menit lalu baru saja selesai tertawa bersama.


"Aduh, semoga tuan Enzi tidak marah lagi..." Begitulah yang dikhawatirkan oleh para pelayan yang sedang mengintip.


"Maafkan daddy tadi malam, itu diluar kendali daddy, apakah miniatur itu masih kau simpan hmm..?" Tanya Enzi dengan memegang pundak anaknya.


Denis mengangguk"Emmm.. Denis simpan dikamar"


"Kau bawa miniatur itu kekamar daddy, akan segera daddy perbaiki"


Denis mengangguk.


Enzi tidak mau kekamar Denis karena kamar Denis itu berwarna putih, Denis tidak menyukai kamar bernuansa putih dan terang, ia lebih suka kegelapan semenjak...ah semenjak itu.


.


.


.


.


Sementara itu diteras rumah Ivawan.


"Buka dong pintunya!" Nayla terus berdiri didepan dua pintu besar itu, kmeudian ia melirik kearah laki-laki yang tadi menyeretnya keluar.


"Hay! Buka kek pintunya!" Teriak Nayla pada laki-laki yang berusia sekitar 40 tahun itu. namun yang diteriaki malah asyik dengan musik yang sedang disetel, yaitu TANTE CULIK AKU DONG.


🎵🎶Tante tante culik aku dong, enggak mau malem minggu cuman bengong....~~


🎵🎶Tante, tante ajak dugem dong, hatiku galau teman semua pada sombong.....~~


🎵🎶Tante, tante hibur aku dong, hatiku sedih kalu dirumah sendirian..~~~


🎵🎶Tante, tante ajak gila dong, hilangkan galau ayo kita senang-senang...~~~


🎵🎶Tante, tante culik aku dong...~~~


🎵🎶Hatiku galau teman semua pada sombong....~~~


🎵🎶Tante, tante hibur aku dong, hat-~~~


Nit!


Nayla mematikan radio mini itu"Om! Bukain kek, Nayla dari tadi teriak loh!" Ucap Nayla yang kesal pada laki-laki didepannya.


Jay yang sedang asyik mendengarkan musik malah dimatikan pun membuka matanya"Maaf, tapi tuan Enzi belum menyuruh saya untuk membukakan pintu untuk anda, kadi tunggulah sampai tuan menyuruh saya" Lalu Jay pun segera kembali menyalakan radio yang tadi dimatikan oleh Nayla.


Nayla menghentakkan kakinya dilantai, karena kesal dengan Om-om jelek ini"Om, tolong lah.."


Hiiiii~~~


"Astagfirullah!"Nayla dan Jay sama-sama kaget dengan suara hantu yang tiba-tiba muncul diradio kecil itu.


"Maaf, itu suara dering ponsel" Jay segera mengangkat panggilan telepon"Ya mang, kumaha? Oh bisa atuh, ya..."


"Om orang Sunda?" Tanya Nayla yang dari tadi menguping pembicaraan ditelepon.


"Eh, tunggu!" Cegah Nayla, kemudian mengambil radio kecil itu.


"Mbak tolong kembalikan"


"Hey ayolah buka pintunya dulu, kita ini saudara loh, saya orang Sunda juga, plise lah akang gelis pisan ih..." Ucap Nayla yang memohon disamping Jay yang sedang enak duduk.


"Emang gelis artinya apa?"


"Gelis teh ganteng atuh, saya asli sunda, ya pasti tau" Ucap Nayla dengan PD nya.


"Mbak kembalikan!" Jay kemudian mengambil paksa radio nya yang dipegang oleh Nayla"Tunggu sampai tuan Enzi menyuruh saya membukakan pintu"


Tente, tente culik akuh dong...


Hatiku galau teman semua pada sombong...


Nayla pun mengerucutkan bibirnya"Ish dasar orang sedeng! Enggak mau bantuin sesama suku! Eh tapi bener enggak sih gelis artinya ganteng?" Gumam Nayla yang tiba-tiba bingung.


Nayla kemudian berjalan kembali kedepan pintu"Tuan....bukain atuh" Teriak Nayla dengan menggunakan nada sunda, supaya si Om-om itu percaya bahwa dirinya memang orang sunda.


.


.


.


.


.


Sementara itu dikamar Enzi.


Enzi saat ini sedang fokus dikasurnya untuk membenarkan miniatur yang tadi malam yang ia rusak, ia membenarkan itu dengan melihat tutorial di YouTube, karena sebelumnya ia belum pernah memainkan ini.


"Arghhh..." Enzi menjatuhkan satu potongan miniatur itu, ia memegangi kepalanya yang kembali sakit.


Perlahan tangannya bergerak menuju meja kecil disamping kasur, Enzi membuka laci itu dengan segera.


Enzi mengeluarkan obatnya dan melahapnya bersamaan dengan air mineral.


Enzi memejamkan matanya dengan tangannya yang meremas sprei, untungnya perlahan obat yang ia minum sudah mulai bereaksi dan sakit kepala Enzi mulai reda.


Enzi berdiri dan berjalan menuju ruangan rahasia didalam kamarnya.


Ceklek


Enzi berjalan mendekati foto besar yang dibingkai dan memenuhi dinding ruangan itu.


"Aku membencimu!"


Dor!


Prang!


Enzi menembak mata perempuan yang ia pajang di dinding, hingga kaca bingkai itu pecah sebagian dan berhamburan kelantai.


"Aku membencimu!"


Dor!


Prang!


Enzi menembak satu mata lagi digambar seorang perempuan itu.


"Kau persetan!"


Dor!


Prang!


Enzi menembak gambar mulut perempuan itu.


"Kau yang membuatku seperti ini!"


Dor!


Prang!


Enzi menembak gambar bagian jantung perempuan itu.


Kini gambar besar itu sudah hancur dengan kaca-kaca itu yang berserakan dilantai.


Enzi meletakkan tembakan nya dilantai, kemudian perlahan mendekati gambar yang sudah rusak, Enzi berjongkok dan mengambil salah satu serpihan kaca itu, kemudian berdiri.


Srek!


Kaca itu Enzi goreskan gambar diwajah perempuan itu, hingga menyebabkan bekas goresan.


"Aku membencimu..." Lirih Enzi.


"Aku membencimu my wife..."


"I hate my wife!" Gambar yang baru saja Enzi rusak adalah gambar Mawar Abbas. Dia lupa jika surat perceraian kematian itu sudah keluar.


Enzi mengusap gambar perempuan yang dulu ia sangat cintai itu dengan wajahnya yang sudah dipenuhi air mata.


"Aku membencimu..." Enzi mengucapkan itu dengan suara paling menyedihkan.


.................


Hay readis kenalin namaku nona lutfi😁 aku sugar baby nya boss Enzi💋 sekian terimakasih 💜🥰