
"D-daddy" Ucap Denis dengan gugup, Denis menundukkan kepalanya karena ia melanggar peraturan daddy nya untuk tidak memeluk sembarang orang, termasuk para pelayan dirumah ini.
"Masuk!" Suara dingin itu keluar dari mulut Enzi.
Perlahan Denis turun dari kursi panjang itu sembari membawa bingkai foto mommy nya dan pergi meninggalkan tempat nya.
Sedangkan Nayla yang melihat dan merasakan akan ada badai petir tanpa hujan pun segera perdiri, ia bersiap untuk kabur.
"Siapa yang menyruhmu pergi?"
Glek...
Nayla menelan salivanya saat mendengar suara dingin dan penuh dengan aura mencengkeram, Nayla seketika menghentikan langkahnya, kemudian berbalik badan mengahad Enzi.
Enzi berjalan mendekati Nayla dengan tatapan mematikan nya, sedangkan Nayla yang melihat tuannya itu berjalan mendekat dirinya mundur.
"Jangan beraninya kau menyentuh anakku! Sekali lagi aku melihat dirimu memeluk anakku aku tidak akan tinggal diam! Panggil anakku dengan tuan muda Denis! Ingatlah dengan posisimu yang hanya seorang pelayan, sekali lagi aku mendengar kau berbicara tidak sopan dengan anakku nyawamu taruhannya!"
Setelah mengucapkan kata mematikan kepada Nayla Enzi segera pergi meninggalkan Nayla.
Nayla memegangi dadanya, entah kenapa seakan jantungnya berhenti berdetak"Ya ampun sampe bawa-bawa nyawa, inget penggil anekku dengan tuan muda denis..."Nayla mengulagi kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Enzi dengan nada mengejek.
"Cih, orang Denis nya aja enggak keberatan, bapaknya aja ribet, huh rasanya pengen deh Nayla jejek mulutnya yang pedes itu, kepanjangan kali pak manggilnya harus tuan muda Denis, enggak sekalian tuan muda Denis Ivawan bin Enzi Ivawan yang terhormat gitu biar sekalian panjangnya..."
Nayla kudian menyelipkan anak rambutnya yang berantakan"Huh gara-gara kata anak kecil itu jadi kangen ibu sama bapak, mending kekamar deh mau terfon ibu, nanya kabar"
Nayla perlahan meninggalkan tempat itu, buat apa juga lama-lama yang ada dia kaya orang gila nanti sendirian.
"Assalamualaikum buk, gimana kabarnya..." Sapa Nayla lada ponselnya yang ada gambar ibunya yang sedang menonton televisi.
"Waalaikum salam nduk, ibuk kabarnya baik, gimana disana? Betah enggak Nay?" Tanya ibunda Nayla disana.
Ya. Nayla memutuskan untuk Video Call saja ibunya, karena ia selalu teringat tentang pesan Denis, bocah yang dikiranya sangat dewasa itu, Nayla juga takut jika ternyata dia dan orangtuanya akan berpisah karena ajal, buat kenangan yang banyak sebelum terlambat...
Nayla mengangguk"Alhamdulillah Nayla betah buk, ini juga berkat bibinya Nesa, Nayla belum sempet bilang makasih, soalnya tugasnya beda"
"Alhamdulillah kalo betah Nay, Jangan lupa kalo udah ketemu bilang makasih yang banyak Nay.."
"Iya, Buk!" Panggil Nayla.
"Apa toh"
"Nay kangen pengen peluk ibuk huhuhu..."
"Ibuk yo kangen sama kamu, tapi yo gimana Nay, cuman kamu harapan satu-satunya ibu, bapak, sama Galih, kamu tau kan?"
Nayla menganguk sedih"Iya buk, do'akan Nayla yah biar cepet dapet uang yang banyak buat biaya operasi Galih biar cepet sembuh"
"Aminn ya Allah, makasih Nay udah ngertiin, ibuk sayang Nay, anak ibuk, anak kesayangan ibuk" ibu Nayla meneteskan air matanya dengan senyuman.
"Ojo nangis to buk! Nay jadi ikut sedih ni lo....Udah jadi tugas Nay juga buat bantu ibuk sama pabak.." Nayla mengusap air matanya yang jatuh dipipinya.
"Jangan tinggalin Nayla sebelum Nayla ketemu sama ibuk sama bapak lagi ya, tunggu Nayla pulang"
"Ibuk tunggu Nay!"
Nayla menggeleng"Enggak buk, tadi Nayla dikasih tau sama Buk Wati katanya majikan Nayla makan diluar, anaknya juga yang buat makanan baby sitter nya, nanti malem Nayla masaknya"
.
.
.
.
.
.
"Sus apa kau mengenal perempuan bernama kak Nayla? Kira-kira dia tidur disebelah mana sus?" Tanya Denis yang saat ini sedang berada dibalkon, sedang duduk sembari melihat kebawah karena balkon itu transparan jadi Denis bisa melihatnya walau duduk.
Sus Wasis pun mengingat-ingat nama Nayla"Sus rasa sus tidak kenal tuan muda, tapi nanti coba sus tanya pada pelayan lain, sus pikir dia adalah oelayan baru karena sus baru mendengar nama itu"
Denis mengangguk"Baiklah, sus aku mau itu" Denis menunjuk anggur yang berada dimeja samping Wasis.
Wasis segera mengambil anggur itu dan menyuapkan nya pada Denis.
Denis melahap anggur itu, kemudian netra matanya memandang langit-langit disore hari yang masih cerah itu.
"Sus coba lihat!" Denis msnunjuk langit yang masih berwarna biru dan putih itu.
Sus Wasis pun mengikuti arah tangan tuan muda Denis.
"Itu seperti mommy Mawar, dia sedang tersenyum melihat Denis" Ucap Denis antusias.
"Apa mommy bahagia disyurga sus? Kenapa dia tersenyum manis seperti itu?"
Sus Wasis tersenyum lebar mendengar perkataan tuan muda Denis"Iya, mommy bahagia disyurga sana, mangkanya Denis juga disini harus bahagia, jangan sedih lagi, jika Denis sedih maka mommy akan ikut sesih juga"
Denis tersenyum menampakkan gigi yang rapihnya"Benarkah? Ah..kalau begitu aku jadi ingin menyusul mommy"
"No, kenapa tuan muda berbucara seperti itu, jika tuan muda menyusul mommy, lalu daddy dengan siapa? Apa denis tega meninggalkan daddy sendiri?" Ucap Wasis pada Denis sembari menyuapkan potongan buah apel.
"Daddy? Biarkan dia sendiri, daddy bahkan sudah berubah semenjak mommy pergi, dia tidak sayang padaku sus, jadi biarkan saja dia sendiri disini, aku ingin menemani mommy saja, aku yakin jika bersama mommy aku akan bahagia, tertawa setiap hari bersama mommy..."
Sus Wasis meletakkan piring yang berisi buah-buahan itu dimeja dan segera memeluk tuan muda Denis"Hey, jangan berbicara seperti itu, sus yakin sebenarnya daddy sangat sayang pada tuan muda"
"Tapi kenapa daddy menamparku? Jika aku tahu bahwa mommy sudah pergi, aku tidak akan menanyakan itu, daddy bahkan tidak tau betapa hancurkan aku saat dia menamparku untuk pertama kalinya, bahkan panasnya masih terasa sekarang"
Wasis melepas pelukannya, astagfirullah ia bahkan melupakan luka tadi malam, luka akibat tamparan tuan Enzi"Tuan muda..." Lirih Wasis.
"Maafkan sus, maaf sus lupa dengan luka tuan muda, akan segera sus obati, tunggu sus akan kedalam mengambil air dingin untuk mengobatinya" Wasis segera berdiri daei duduknya dan berlari kedalam untuk segera mengambil es batu untuk di kompres.
Setelah mendapatkan nya, wasis segera menuju kamar tuan muda Denis dengan perasaan yang begitu khawatir.
Wasis mengompres pipi Denis dengan sangat pelan-pelan walau kadang Denis meringis menahan sakit.
Wasis mengeluarkan air matanya secara tiba-tiba"Tuan muda, kenapa nasibmu seperti ini, sus sangat sangat rindu dengan senyuman dan tawa lepasmu dua tahun lalu, semoga tuan muda cepat kembali ceria dan tertawa lepas seperti dulu walau tanpa nyonya Mawar.."