
Setelah selesai makan Enzi langsung meninggalkan meja makan tanpa sepatah katapun, ia bahkan tak berpamitan atau mengucapkan good night pada anaknya.
Nayla yang melihatnya entah kenapa jadi kesal sendiri.
.
.
.
.
.
.
Prang!
"Deddy huaaaaa......" Tangis Denis kembali pecah yang dimana membuat seisi rumah keluar serta para pelayan.
Mereka semua melihat kejadian itu radi bawah, yang dimana pertengkaran itu sedang berlangsung didepan kamar Denis.
"Kenapa kau jadi anak sangat nakal! Sudah daddy bilang tidur! Kenapa kau sangat bandal hah!!" Ucap Enzi dengan amarah yang memuncak pada anknya yang sangat susah untuk diatur.
Denis berjongkok memungut mainan miniatur kapal selam, miniatur yang baru saja dilempar oleh daddynya hingga rusak dan berhamburan kelantai.
"Hiks...hiks...hiks..daddy kenapa sangat jahat" lirih denis sembari mengusap miniatur yang sudah tak berbentuk"ini adalah miniatur yang mommy berikan"
"Oh jadi ini adalah pemberian mommy?" Enzi maju, dan tanpa diduga.
Krek..krek..krek
"Deddy!!!! Huaaaa... hentikan dad!! Please dad!" Denis memegangi kaki daddynya yang menginjak-injak miniatur nya.
Bruk!
Nayla mendorong tubuh Enzi dengan sekuat tenaga hingga membuat Enzi terjatuh.
"Kau!" Enzi menatap Nayla dengan begitu tajam sampai matanya berubah menjadi merah.
"Kau adalah ayah terburuk yang pernah aku lihat! Kau adalah daddy yang egois!!!" Nayla segera menarik Denis untuk berlindung dibelakang tubuhnya.
Enzi bangun"Siapa kau berani ikut campur urusanku hah!"
Nayla mundur, begitupun dengan Denis yang ketakutan saat Enzi melangkahkan kakinya mendekat kearah Nayla.
Nayla memberanikan diri menatap mata yang memerah itu"Aku Nayla yang baru dua hari ini bekerja tapi sudah melihat pemandangan yang membuat hatiku tergores, seorang ayah yang tega memarahi bahkan menampar anaknya, yang lebih parah lagi anda merusak benda kesayangan anak anda sendiri?" Kata demi kata nayla ucapkan pada Enzi si ayah yang menurut Nayla buruk dengan penuh kesedihan.
"Lepaskan Denis! Dia anakku, kau tidak berhak ikut campur!" Enzi yang akan mengambil anaknya segera Nayla cegah dengan menggigit tangan kekar milik Enzi.
"Arghhh!...kau!"
"Tidak akan kubiarkan kau menyakiti anak sekecil ini! Sadarlah Tuan Enzi...saya mohon sadarlah sebelum anda kehilangan harta berharga yang anda miliki satu-satunya ini..." Lirih Nayla dengan memohon sembari terus memegang tangan Denis dibelakangnya.
Mata Enzi kini semakin berapi-api saat mendengar perkataan Nayla"Berikan anakku!"
Nayla menggeleng.
"Aku bilang berikan anakku!!!" Teriak Enzi yang membuat seisi rumah saling berpelukan karena takut.
Wasis yang berdiri tak jauh dari Nayla pun segera menyilangkan tangannya"Nayla berikan tuan muda Denis, saya mohon...cintailah nyawa mu Nayla"
Nayla menatap sus Wasis yang berada tak jauh dibelakangnya"Tidak mbak, aku akan menyelamatkan anak ini dari iblis jahat sepertinya" Nayla menatap Enzi dengan tajam seolah ia tidak takut dengan apa yang Enzi akan lakukan.
"Tak apa aku dipecat,tapi anda harus ingat! Aku, Nayla, tidak akan membiarkan seorang anak kecil disakiti oleh orang sepertimu! Apa lagi saat aku tahu bahwa dirimu adalah ayah kandungnya, jika anda terus memarahinya dan menganggap Denis sebagai anak nakal, kenapa tidak sekalian ada masukkan saja dipanti asuhan? Sama saja bukan?"
Enzi mengepalkan tangannya, dan tampa diduga ia mengelurkan sesuatu dibalik bajunya, yang dimana membuat seluruh pelayan yang melihatnya dari bawah segera berlari keluar rumah, tapi tidak dengan Wasis.
Nayla memundurkan tubuhnya saat benda itu Enzi arahkan padanya.
"Denis, cepat lari bersama sus Wasis nak"
Denis menggeleng"Tidak kak, aku akan menemanimu" lirih Denis yang menolak.
"DENIS KAKAK BILANG KELUAR CEPAT!! MBAK BAWA DENIS!" Perintah Nayla pada Wasis.
Sus Wasis segera menuruti kemauan nayla untuk membawa Denis pergi menjauh kebawah.
"Sus aku tidak mau!" Ucap Denis dengan memberontak.
Nayla semakin memundurkan langkahnya saat Enzi terus maju kearahnya"Tuan anda jangan gila! Turunkan pistol itu!"
Ya. Benda yang saat ini sedang Enzi arahkan ke nayla adalah pistol yang ia selalu bawa kemanapun bahkan saat tidur sekalipun.
Nayla melirik kebelakang yang ternyata sudah mentok dipagar tangga"Tuan turunkan pistol itu!" Pekik Nayla dengan ketakutan.
"Aku akan membunuhmu!"
Srek!
Enzi memegang tengkuk Nayla dengan kuat dan menempelkan pistol itu dikening Nayla.
"Tuan saya mohon..." Nayla memejamkan matanya ia menangis histeris saat pistol itu menempel di keningnya.
"Bersiaplah nyawamu akan hilang dalam beberapa detik terahir ini" Ucap Enzi pelan ditelinga Nayla.
Nayla yang mendengar itu merinding dibuatnya, ia tidak menyangka bahwa majikannya ini sungguh gila.
"Satu...dua...ti-"
Bruk..!
Enzi menjatuhkan pistol yang ia tempelkan dikening Nayla dan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit, seperti akan pecah.
"Argghhhh! Sakit..."
Nayla yang melihat itu menutup kedua mulutnya"Tuan Enzi anda kenapa"
Enzi duduk dengan terus memegangi kepalanya yang terasa berdenyut"Sakit!"
"Buk Wati! Buk!! Tolong!!!!" Pekik Nayla dengan sedikit khawatir, ditengah ke khawatiran itu Nayla segera mengambil pistol yang terjatuh itu dan memasukkannya kedalam bajunya.
Buk Wati segera datang dengan membawa dua orang laki-laki berbadan besar, Kebetulan tadi buk Wati sedang kedepan untuk meminta bantuan para bodyguard Ivawan saat tuannya sedang menodongkan pistol dan berusaha membunuh Nayla.
"Nayla apa yang terjadi?" Tanya buk Wati saat melihat tuannya terduduk sembari terus merintih kesakitan.
Nayla menggeleng"Nayla tidak tahu buk, sekarang cepatlah angkat tuan Enzi kedalam! Dan panggil dokter secepatnya!"
Dua bodyguard itu pun segera mengangkat tuan Enzi yang terus berteriak dan merintih kesakitan.
Sedangkan buk Wati saat ini sedang menelepon dokter pribadi untuk ssgera datang kemari"Dokter Yohan, tolong segera kemari, tuan Enzi tiba-tiba merintih kesakitan dibagian kepala, cepatlah!"
Buk Wati mematikan saluran telepon itu dan mendekat kearah Nayla"Apa kau baik-baik saja?"