My Love The Maid

My Love The Maid
Rencana Agar Tuan Tidak Marah



"Tuan, anda enggak kasihan to sama Nayla, jauh-jauh datang kesini dari desa, baru dua hari loh kerja, masa udah dipecat, tuan mau denger enggak cerita Nayla?"


Nayla menarik nafasnya, ia merubah ekspresi wajahnya menjadi sedih"Itu karna adik Nayla lagi sakit kanker darah, katanya kalo dioperasi kankernya bisa ilang, trus tiap bulan juga wajib cuci darah, kasian ibu sama bapak cari uang dikampung, Nayla juga udah gede, udah jadi tugas saya cari uang buat adik Nayla Galih, jadi jangan pecat Nayla ya..."


Krik....krik...krik...


Sunyi. Enzi tak menjawab, ia menutup matanya.


"Tuan, ish kok tidur, tuan denger kan tadi?? Gini deh, kalo tuan enggak pecat Nayla, Nayla janji bakal selalu masakin tuan yang enak-enak, suapin tuan, buatin kopi, bangunin tuan, apa aja deh, diluar kerjaannya Nayla juga enggak papa asal tuan jangan pecat Nayla..."


Kasian juga...


Batin Enzi yang sedang berpura-pura tidur.


"Tuan..." Panggil Nayla"Kalo enggak dijawab Nayla cium nih ya, satu..." Nayla memajukan tubuhnya.


"Dua..." Nayla semakin memajukan tubuhnya dan memonyongkan bibirnya.


Gila!


Enzi membuka matanya, kemudian ia langsung menjauhkan wajah perempuan gila itu dari pandangannya yang sudah dekat"Terserah, aku pegang janjimu yang tadi!" Kemudian Enzi segera menutup matanya kembali.


Nayla mengusap wajahnya yang sakit karena dorongan pria pedes itu"Janji yang mana ya tuan?"


"Kau dipecat!"


"Eh, iya iya, Nayla tepatin kok yang itu kan,Nayla janji bakal selalu masakin tuan yang enak-enak, suapin tuan, buatin kopi, bangunin tuan, apa aja deh, diluar kerjaannya Nayla juga enggak papa asal tuan jangan pecat Nayla, itu kan?" Tanya Nayla setelah Nayla kembali mengulang janji yang tadi.


"Hmm"


"Tapi gajinya nambah kan ya? Kan tugas Nayla makin banyak" Tawar Nayla yang kelewatan batasan, di iya-in malah makin ngelunjak.


"Kau dilecat!" Ucap Enzi sembari menutup matanya.


Nayla mendengus kesal"Ish iya-iya, enggak jadi deh, izin taro piring kebawah"


Nayla kemudian berdiri dan pergi meninggalkan kamar tuan pedes dengan membawa piring kotor dan mangkuk.


Saat Nayla sedang mencuci piring bekas tuan pedes, mata Nayla melirik orang yang sedang berada didekat meja makan, mencari sesuatu, ternyata itu adalah Denis.


"Hey Denis!" Sapa Nayla setelah selesai mencuci piring.


Denis hanya diam, tak menanggapi ucapan dari Nayla.


"Tidak usah takut, Deddy sedang tidur, dia tidak akan tahu jika kakak berbicara dengan mu"


Denis kemudian tersenyum kearah kak Nayla, Nayla membalasnya dengan senyuman.


"Kamu cari apa?"


"Denis lapar kak"


Nayla menepuk jidatnya"Ah, kakak lupa, cuman ada sayur sop didapur, biar kakak masak dulu ya"


"Denis makan dengan sayur saja kak kalau begitu"


"Em tidak apa-apa?" Ucap Nayla dengan ragu.


Denis mengangguk.


"Em ya sudah kalau begitu, Denis tunggu dikursi ya, biar kakak gendong" Nayla segera mengangkat tubuh Denis untuk duduk dikursi karena kursi itu luamayan tinggi, lumayan berat sih, tapi Nayla strong kok wkwk.


Nayla kemudian mengambilkan satu centong nasi untuk Denis dan mencampurnya dengan sayur sop.


"Ini makanlah" Nayla menyajikan makanan itu didepan Denis.


Denis mengangguk dengan senyuman dibibirnya"Kak, duduklah"


Nayla menggeleng"Tidak apa, kakak tunggu disini saja"


Denis mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah" Ucap Nayla yang menyerah, Nayla duduk disamping Denis.


Denis kemudian tersenyum senang, dan langsung menyantap sarapannya.


"Denis, apa hari ini enggak sekolah?"


Nayla mengangguk.


"Kak" Panggil Denis sembari mengunyah makanannya.


"Iya?"


"Apa Daddy sudah membaik?" Tanya Denis dengan ekspresi khawatir."Aku ingin kekamar daddy untuk melihat kondisinya, tapi Denis takut jika daddy akan marah lagi padaku"


Nayla yang melihat kesedihan diwajah Denis pun tersenyum, kemudian ia mengusap kepala Denis"Mmm..daddy baik, tadi kakak sudah kesana memberinya sarapan"


Denis menatap Nayla dengan antusias"Benarkah?"


Nayla mengangguk bahagia.


"Apa daddy tidak marah pada kak Nayla?"


Nayla segera menggelengkan kepalanya"Tadi juga kakak menyuapi daddy mu tau"


"Benarkah? Daddy disuapi olehmu?"


Nayla menganggukkan kepalanya"Iya sayang, kakak bener-bener bangga dengan Denis, karena Denis udah mau dewasa sama keadaan, pokoknya jempol dua untuk kamu Denis..."


Denis tersenyum"Makasih kak atas pujianmu, Denis sebenarnya juga ingin seperti teman yang lain, disayang oleh orang tua, tapi Denis takut untuk mengadu pada daddy tentang perasaan denis, daddy bahkan sikapnya sudah berubah padaku, dia beda dengan yang dulu sebelum mommy masih ada..."


Mata anak kecil itu berkaca-kaca, dan Nayla dapat melihat itu.


"Denis rindu dengan daddy yang dulu, Denis ingin daddy yang ceria seperti dulu, Denis ingin daddy bermain bola lagi ditaman denganku, pokoknya Denis ingin sikap daddy yang dulu, yang tidak pemarah"


Nayla mengusap kepala Denis"Aminnn, diiringi dengan doa ya, kakak yakin daddy sebentar lagi akan sembuh, daddy seperti itu karena sedang sakit saja"


"Sakit?" Denis menatap bingung pada Nayla.


"Dokter bilang daddy sakit, dia butuh perhatian dari orang sekitar, jadi jika Denis bertemu dengan daddy, tanyakan apapun yang membuat daddy merasa disayang olehmu oke.."


Denis semakin bingung dengan ucapan Nayla barusan"Emang daddy sakit apa kak? Tidak berbahaya kan?"


Nayla tertawa mendengar ucapan Denis"Tidak kok, tidak sampai menggigit hahaha, pokoknya sakit, dan Denis harus yakin bahwa daddy pasti sembuh"


"Denis!!"


Denis menatap Nayla dengan wajah panik"Kak menjauh dariku!"


Nayla pun berdiri, dan berlari menghampiri tuan pedes yang sedang menuruni tangga.


"Tuan, kenapa anda turun? Kemana infus itu? Kenapa dilepas" Tanya Nayla dibawah tangga.


Enzi mengabaikan pertanyaan dari Nayla dan kembali berjalan dengan memanggil nama anaknya"Denis!"


Melihat tuan pedes yang akan melewati nya Nayla segera membentengkan kedua tangannya"Tuan!"


"Minggir, kau ini apa-apa an, kau menghalangi jalanku! Aku ingin bertemu Denis"


Nayla memandang wajah tuan pedes itu, kemudian memajukan tubuhnya.


Enzi yang melihat tingkah laku aneh itu pun segera memundurkan tubuhnya"Kau ini kenapa?"


Nayla menghirup aroma maskulin dari tubuh pria didepannya"Tuan...anda mandi?"


"Kau pikir tubuhku tidak berbau! Aku tidak tahan dengan itu! Sekarang minggirlah wanita gila!"


Nayla melototkan matanya"ih, tuan kenapa enggak panggil saya, pasti sakit habis di infus, kan bisa minta tolong buat mandiin..." Ucap Nayla dengan wajah yang hampir berkaca-kaca.


Enzi memandang Nayla dengan wajah aneh"Perempuan gila! Ternyata kau mesum juga! Kenapa? Karena ingin melihatku bertelanjang hah?!..." Enzi segera menyingkirkan tangan Nayla dan berjalan melewati Nayla.


"Eh, bukan begitu, tapi Nayla juga sering kok dulu sebelum kakek meninggal mandiin dia" Ucap Nayla yang mengikuti tuan pedes.


"Aku bukan kakek mu! Denis!" Panggil Enzi lagi pada anaknya.


"Iya ded" Jawab Denis yang baru saja selesai dari dapur untuk menaruh piring kotor.


Pasti tuan pedes ini akan marah lagi, gimana ini, Nayla harus ngelakuin sesuatu...


"Aaaaaaa!!!!"


Enzi dan Denis menatap arah suara itu, yang dimana Nayla sedang berteriak seperti orang gila.