My Love The Maid

My Love The Maid
Tamparan



"Nayla sekali lagi minta maaf ya, memang dua pembantu itu jika ada junior agak julid sedikit"


Nayla tersenyum"Enggak apa-apa kok mbak Sisi, saya suka baku hantam juga"


"Haha...bisa aja, ya udah klo gitu biar mbak anterian kekamar ya"


Nayla mengangguk.


"Wihh kamer pembantu aja segini gedenya, dua kali lipat lebih gede dari kamer Nayla dikampung"


Nayla terus memperhatikan kamarnya, netra Nayla kemudian menatap kasur spring bed yang berada didepannya.


"Kasurnya juga kayaknya emping banget, betah nih lama-lama kalo gini" Nayla kemudian menutup mulutnya sembari tertawa cekikikan.


Tok...tok...tok...


Nayla perlahan membuka matanya"huamm..Siapa sih ganggu tidurnya Nayla" gumam Nayla dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Nayla! Buka pintunya!"


"Ck iya.. iya sabar kenapa sih" Nayla segera bangun dan turun dari kasurnya.


Ceklek!


"Kenapa?" Nayla melihat orang yang sudah mengganggu tidurnya itu dengan tatapan sengit, bagaimana tidak orang yang mengganggunya saja adalah orang yang sama, yang sudah menyebutnya pikun tadi yang bernama Hani.


"Pake nanya, saya juga sebenarnya enggak sudi sih, cuman buk Wati menyuruh saya untuk bangunin kamu yang kaya kebo klo tidur! liat jam berapa"


Nayla melihat kedalam, kemudian ia melototkan matanya saat melihat ternyata sudah sangat sore"astoge jam setengah enam sore..."


Karena panik Nayla segera mengambil tali rambut yang berada tak jauh dari kasur dan segera menutup pintu kamarnya, kemudian berlari melewati Hani begitu saja.


"Heh Nayla!"


Nayla menghentikan langkahnya, kemudian melirik kebelakang"Apa sih"


"Pake baju pelayan lah, ni udah aku bawakan"


"Emang harus?"


"Mau kamu kena marah buk Wati?!"


Nayla pun kembali mudur dan mengambil baju yang dipegang oleh Hani"Makasih, ternyata sampean perhatian juga"


.


.


.


.


.


"Pokoknya saya tidak mau ada keterlambatan lagi! jika kamu bangun terlambat maka saya tidak akan segan-segan memulangkan kamu dan juga Wina, karena dia sudah memasukkan orang yang lelet seperti kamu"


Nayla mengangkat kepalanya"Jangan buk, jangan bawa-bawa mbak Wina, mbak Wina enggak salah, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi, suwer deh.."


Buk Wati pun menarik nafasnya pelan"Baik saya terima permintaan maaf, sekarang kerjakan tugasmu sebelum tuan Enzi datang, jangan membuat dia kecewa dihari pertamamu bekerja, buat dia bangga padamu"


Nayla mengangguk senang"Siap!"


Nayla pun melakukan tugasnya dengan sangat baik dan sempurna, ia malam ini akan memasak sayur sup, perkedel dan sambal goreng serta ikan goreng, seperti yang sudah ia baca dibuku yang dikasih oleh buk Wati, apa saja yang tuannya suka dan tidak suka.


Walaupun dapur itu menggunakan kompor listrik, tentu saja Nayla bisa menggunakannya walau ia dari kampung, karena dikampunya juga pernah ada yang punya kompor listrik, yaitu tetangganya, jadi ya luamyan lah sedikit berpengalaman, enggak malu-malu in.


"Sempurna" Ucap Nayla seperti chef Juna.


Nayla kemudian melirik meja makan yang tak jauh dari kitchen, dimana sudah ada seorang pria yang sedang duduk sembari memainkan ponselnya dengan serius.


"Perasaan lima menit lalu masih kosong deh itu meja makan, kok tiba-tiba udah ada orangnya, ngeri banget ya, apa memamng Nayla aja yang budeg enggak denger ada orang lewat atau duduk.."


1.Setelah selesai memasak, bawa makanan ke meja makan, jangan buat Tuan rumah menunggu lama.



Setelahnya sa-



Nayla langsung menutup bukunya yang berjudul "assistant job" itu dan segera membawa semua makanan yang sudah ia buat kemeja makan menggunakan nampan, tak lupa dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Permisi Tuan-"


krik..krik..krik..


duh tuan siapa tadi, Nayla bisa-bisanya lupa....


Nayla menutup matanya, mengingat-ingat dengan paksa, bisa-bisanya saat lagi genting seperti ini malah lupa nama majikannya nya sendiri.


"Permisi tuan, makanannya sudah siap"


Semoga saja dia tidak protes dan menanyakan hal-hal aneh.


Enzi melirik Nayla sejenak, lalu berpindah kemeja makan,dan kembali fokus pada ponselnya.


"Hmm.." Jawab Enzi dengan cuek.


Hmmm? jawaban macam apa itu hmm? Jawab iya kek atau baik gitu, ini jawab cuman hmmmmm.....


Batin Nayla yang merasa dirinya tidak dihargai dan dianggap.


"Tuan Enzi, maaf tuan muda Denis tadi bilang tidak mau makan malam, dia masih marah akibat sikap tuan tadi pagi" Ucap Wasis sembari menundukkan kepalanya saat baru saja turun dari tangga.


Enzi kemudian meletakkan ponselnya diatas meja makan"Anak itu benar-benar membuatku pening! semakin lama sikapnya semakin bandel dan susah diatur"


Enzi segera berdiri dari duduknya dan perlahan mulai berjalan menaiki tangga menuju kamar anaknya, diikuti oleh Wasis dibelakang.


Sedangkan Nayla yang merasa bahwa pekerjaannya sudah selesai pun bersiap kembali kedapur, untuk membersikan sisa-sisa makanan dan peralatan masak.


Tapi baru saja satu langkah ia berjalan tiba-tiba.


Prang!...


"Astagfirullah, itu kenapa?" Nayla memegangi dadanya, ia merasa tidak enak.


"Dad! aku sudah bilang tidak mau makan!!!!" Teriak Denis dengan begitu kencangnya."Lepaskan aku Dad! huaaa....."


Enzi menarik anaknya dengan kasar karena terus memberontak"Jangan buat daddy semakin marah denganmu!"


Denis terus memberontak saat daddy nya menarik tangannya dengan kasar.


"Aku sudah bilang No! No! aku hanya ingin Mommy! do you understand! AKU HANYA INGIN MOMMY! get off the ****!"


Plak!


Enzi menampar anaknya"Sudah Daddy bilang, jangan membahas Mommy! kau ingin tahu bukan dimana Mommy mu?! baik sekarang ikut aku, Daddy akan membuat kejutan besar untukmu"


Enzi kembali menarik kasar tangan anaknya,ia bahkan mengabaikan teriakan Denis yang menahan sakit luar biasa.


Sedangkan Nayla yang mehiat dari bawah kejadian barusan hanya mampu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia tidak menyangka jika seorang ayah tega menampar anaknya sendiri.


bahkan anak itu masih dibawah umur, tak terasa Nayla meneteskan air matanya, saat bocah kecil itu diseret oleh majikannya dengan sangat kasar, ingin menolong tapi Nayla harus ingat bahwa dirinya hanya pembantu.


Pembantu baru, yang dilarang ikut campur, bahkan Nayla juga melihat Baby sitter itu sudah memohon kepada tuan Enzi, tapi diabaikan.


"Tuan jangan kasar dengan tuan muda Denis" lirih Wasis saat melihat tuan muda Denis diseret dengan kasar, Wasis terus mengikuti Enzi hingga keluar rumah.


para pelayan yang bekerja dikediaman Ivawan hanya mampu melihat dengan iba, tapi tak berniat membantu.


Karena membantu pun percuma, kalau pada akhirnya mereka akan dipecat karena berani ikut campur urusan majikannya.