
Cieee Ciuwit, " ejek teman-temannya (-Devan, Alvin, Davin dan Deva).
"SINI LO!"
Sreeeet
Plaak
Semua terkejut karena tiba-tiba Deva di tarik paksa lalu ditampar oleh badut. Gimana enggak disebut badut. Lipstik merah, pipi merah, mata hijau, rambut mejikuhibiniu (kayak pelangi), bando Pink polkadot, baju ketat, rok kurang bahan.
Mereka meringis karena melihat sudut bibir Deva mengeluarkan darah. Deva? Dia hanya diam, memejamkan mata. Davin dan David berusaha menahan emosi agar tidak melukai badut itu.
"Maksud lo apa nampar sahabat gue hah?!" bentak Via.
"Itu peringatan buat teman lo karena yang berani deketin cowok gue,dia gak pantas dekat-dekat sama para pangeran. Kasih tau teman lo kalau Davin tuh milik gue!" ucap Rani sambil menunjuk Deva.
"Iya bisa - bisanya dia nempel ke para pangeran sekolah ini." Lanjut teman Rani
"Lo gak punya kaca? Kalau punya ngaca dulu sana, Deva lebih pantas duduk disini daripada lo ber 3" cibir Nesti.
"Bac*t," ucap Rani sambil menjambak rambut Nesti
Terjadi baku jambak antara Nesti vs Rani dan Via vs anak buah Rani. Adegan itu membuat seisi kantin ricuh. Davin dkk ingin memisahkan tapi takut kena cakar singa betina. Deva hanya mendengus malas. Memakai earphone, lalu pergi. Disisi lain Devan masih bengong karena merasakan pipinya panas seperti di tampar.
Yang ditampar dia kenapa gue yang merasakan sakit. Please jangan suka dia, dia pacar Sahabat lo
"Berhenti atau kalian tau akibatnya!" ucap Davin tegas dan dingin. Mereka berhenti bertengkar karena terkejut dan takut oleh aura yang Devan keluarkan.
"Beb lihat rambut aku rusak gara-gara Nesti" rengek Rina sambil memeluk lengan Davin
"Lepas!" Davin menghempaska Rina hingga jatuh.
"Aww. Beb kok kamu kasar gitu sih ke aku, aku kan..." Ucapan Rina terhenti karena Davin menunjuk arah pintu dengan tatapan tajam.
"Pergi dari hadapan gue!" tegas Davin. Rina pun pergi dengan perasaan kesal.
"Lah si Deva kemana?" Tanya Via menyadari bahwa Deva sudah tidak ada dikantin. Devan diam melangkah keluar dari kantin.
"Mau kemana tuh bocah?" Tanya Miko mereka hanya menggeleng tanda tidak tau.
"Woy Vin kejar tuh Devan, jangan sampai lo ditikung temensendiri. Devan pasti mau nyamperin Deva" Ejek David
"Gue percaya sama Deva lagian Devan juga nggak mungkin nikung temen, kayak lo!" Ucap Davin sambil menunjuk David.
"Lah sejak kapan gue jadi tukang tikung?" Tanya David
"Mending cari aja deh takut ilang tuh bocah, nggak lucu kalau hari pertama kesasar" Ucap Via
°
°
°
Setelah menyadari jika Deva tidak lagi dikantin Via, Nesti dan Davin dkk berpencar mencari Deva. Via dan Nesti mencari di seluruh toilet, Davin dkk mencari di kelas, lapangan, gudang dan parkiran. Mereka berkumpul kecuali Devan, mereka saling pandang lalu menggeleng tanda Deva belum ditemukan.
Via mencoba menelfon Deva namun tidak ada jawaban. Davin teringat sesuatu, teman-temannya bingung dengan apa yang Davin lakukan. Davin menutup mata perlahan, menjetikkan jari ketelinga kanannya. David menatap saudara kembarnya dengan tatapan penuh harap, karena dia tau apa yang sedang Davin lakukan.
Deva kamu dengar suara abang, kamu dimana? aku dan teman-teman mencari mu kemana-mana tapi kamu tidak ada, kamu baik-baik aja,kan?.
Deva terkejut tiba-tiba mendengar omelan Davin. Davin mencoba menghubunginya dengan telepati karena Deva belum siap membuat telinga Deva berdenging. Perlahan Deva menutup matanya dan fokus untuk menghubungkan telepati dengan Davin.
Aku tidak apa-apa bang. Jangan khawatir, aku ditaman belakang sekolah.
Davin tersenyum mendengar jawaban Deva. David menatap Davin meminta jawaban, Davin hanya tersenyum lalu berlari. Mereka saling pandang dan mengejar Davin.
"Kenapa berhenti bang?" tanya David. Davin melirik kearah teman temannya memberi kode agar mereka diam.
Davin menunjuk kearah sebuah pohon,lebih tepatnya seorang gadis tengah tidur disana. Gadis yang mereka cari sedang tertidur beralaskan rumput.
"Gil* tuh bocah, kita bingung nyariin dia eh dianya malah enak- enak tidur" ucap Nesti. Mereka ingin mendekat namun dicegah oleh Davin.
"Sebaiknya kita pergi dari sini!" ucap Davin meninggalkan teman-temannya. Penasaran dengan maksud Davin mereka pun melihat kearah Deva. Tanpa sengaja melihat seorang cowok mendekati Deva dengan kotak P3K ditangannya.
"Kayaknya si Davin cemburu deh" ucap Via diangguki oleh semua kecuali Alvin.
"Gue kejar Davin dulu, heran sama kembaran gue pacarnya sama cowo lain malah dengan santainya pergi gitu aja"
"Yuk pergi sebelum drama dimulai dan jiwa jomblo kita meronta ronta" ucap Nesti.
"sorry ya Nesti, tapi yang jomblo tuh kamu bukan kita, iya kan sayang" goda via
"Jahat ya kalian, udah lah, ayo pergi" ucap Besti. Mereka pun pergi meninggalkan taman belakang.
🌸🌸🌸
"Eh" Deva terkejut merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Perlahan mata indah terbuka, hal pertama yang dia lihat adalah seorang cowok tampan tapi bermuka datar.
"Duduk! gue mau obati luka lo," cwo itu menarik Deva agar duduk "kalau mau tidur obati dulu luka lo, biar gak infeksi" ucap cowok itu. Deva hanya menurut tanpa bicara.
Perlahan dia membersihkan luka disudut bibir Deva. Lalu mengopres pipi lebam Deva dengan kaleng minuman dingin.
"Aw..." Sesekali Deva meringis saat tanpa sengaja cowok itu menekan lukanya.
"Sorry. Ok luka lo udah selesai gue obati," Cwo itu berdiri dan pergi setelah selesai mengobati Deva.
"Tunggu gue lupa! Siapa nama lo?" tanya Deva. Cowok itu berhenti dan melirik kebelakang.
"Devan" jawabnya lalu melanjutkan langkah nya.
"Thanks Devan" ucap Deva.
Devan hanya mengangkat tangan kanannya sebagai jawaban. Deva tersenyum sangat tipis, Dia kembali membaringkan tubuhnya keatas rumput. Perlahan matanya tertutup menuju alam mimpi.
Siapa dia kenapa nyaman banget sih, apa ini yang namanya cinta. Akh itu nggak mungkin ucap Deva dalam hati
Kriiing...
Bel pulang berbunyi Davin dan David menuju kelas Deva untuk mengajaknya pulang bersama. David masuk kekelas Deva hanya ada beberapa murid. Dia hanya menemukan tas Deva.
"Eh Davin cari Deva ya? Deva gak balik kekelas sejak tadi" ucap Via saat melihat David seperti mencari seseorang. Setelah mengatakan terimakasih David keluar dan memberitau pada Davin.
"Gila tuh anak! baru pertama masuk udah berani bolos," Davin mengusap kasar wajahnya "pasti masih molor tuh anak".
"Besok kita bilang kak KEPSEK biar satu kelas sama Deva, jadi bisa lebih maksimal menjaga Deva" ucap David.
"Ayo, dia pasti masih ditempat tadi"
Hay hai... Maaf ya akhir akhir ini Tian sibuk jadi jarang Up... Maaf ya 😅😅