MY BLUE FIRE

MY BLUE FIRE
12



Deva dkk dan Davin dkk menikmati angin di taman belakang sekolah. Mereka sibuk dengan dunia masing masing Via, Vio, Nesti, Indra dan David fokus menonton Anime, sisanya fokus game online.


Kecuali Davin dan Deva mereka tengah membaca buku, dengan Davin yang tiduran berbantalkan paha Deva sesekali dia menyuapi Deva dengan buah yang sudah dikupas dari rumah dan matanya fokus membaca buku yang Deva pegang. Tangan Deva memegang buku dan tangan satunya dia gunakan untuk bermain rambut Davin.


Tanpa mereka berdua sadari sejak tadi ada yang memandang mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Gue cabut!" ucap Al dan Devan bersamaan.


"Lo mau kemana Al, Van?" tanya Andra


"Toilet" jawab Al dan Devan bersamaan lalu pergi meninggalkan teman temannya.


"Kok gue merinding ya dengar mereka mau kekamar mandi," David dan Vio saling tatap.


"jangan jangan... Mereka," ucap David dan Vio sambil menutup mulut


"G*y"


Plak


Plak


Ucapan Vio dan David mendapat jitakan maut dari Via. Sadangkan yang lain menahan tawa mereka.


"Sakit Vi, astaga lo tega banget deh sama adik lo" ucap Vio


"Bodo amat,"


.


.


Devan mencuci wajahnya lalu bercermin.


"Gue gak cinta sama dia, tapi gue sayang sama dia. Gak ada keinginan gue untuk jadiin dia pacar tapi kenapa gue pengen selalu dekat sama dia"


Disisi lain Alvi mengecak rambut frustrasi.


"Brengs*k kenapa dada gue sakit setiap Deva dekat sama cwo lain?. nggak nggak gue nggak boleh suka sama dia. Ingat Al lo udah punya Lia dia pacar lo, lo gak boleh khianatin cinta lo!"


.


.


Deva dan Davin masih asik dengan buku mereka bahkan mereka tidak sadar jika teman temannya sudah tidak ada disana.


"Woy kalian ikut ke kantin gak!" teriak Vio


Deva dan Davin melihat sekitar. Mereka baru sadar jika mereka ditinggal oleh teman temannya.


"Yuk kekantin, dari tadi pagi kamu belum makan!" ajak Davin bangun dari zona nyamanya. Membantu Deva berdiri lalu berjalan berdampingan seperti pasangan kekasih.


"Pepet teroooss jangan sampai ditikung" sindir Vio.


Deva dan Davin yang disindir malah makin merapatkan tubuh mereka.


"Astaga kita yang 1 tahunan lebih tua masih jomblo lah ini bocah malah makin lengket aja" oceh Andra.


"Iri lo?" tanya Davin dengan nada datarnya.


"Sama Deva aja baik ramah, sedangkan sama gue kenapa dingin bin datar banget sih" ucap Andra.


"Indra gue boleh gak bunuh nih kodok?" tanya Davin.


"Silahkan Vin gue ikhlas kok"


"Dasar kembaran gak ada akhlak"


"Eh... Mereka ngapain?" tanya Nesti sambil menunjuk 2 cwo yang duduk berhadapan, sama sama melamun sambil mengadu aduk makanan dipiring.


"Mereka lagi ujian... Ya lagi Makan lah Nesti" jawab Via


"Wahhh... Mereka seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar ya"


"Kalian samperin gih, biar gue dan Vio yang pesan makanan. Kita samain aja ya biar gampang"


Mereka menuju meja tempat 2 orang yang ditunjuk tadi. Deva berhenti menarik lengan Davin dan David keluar kantin.


"Bang perasaan ku gak enak nih, aku punya firasat buruk" ucap Deva


"Jangan fikirkan hal aneh aneh dulu. Mending kita makan setelah pulang sekolah kita bahas ini ok" ucap Davin mambil membelai rambut Deva.


"Kok gue ikut khawatir ya bang, firasat Deva itu jarang melesat loh" bisik David pada Davin


"Kita bahas nanti saja"


"Lah kenapa muka mereka makin datar?" tanya David


"Bac*t" ucap Devan dan Alvi bersamaan.


"Tuhkan kompak. Kalian it... "


"Udah jangan banyak bac*t mending kita makan" mereka makan dengan sesekali bercanda riya, kecuali Deva, Devan, Davin dan Al


°°°


Dibelahan bumi lain


"Bagaimana apa kau sudah mendapat informasi tentang keluarga Thunderly?"


"Sudah Yang Mulia, kami mendapat informasi terbaru bahwa ternyata mereka masih memiliki seorang putri, anak pertama mereka sudah meninggalkan mansion utama, anak ke 2 dan kembaranya juga sudah kembali kenegara XX. Tuan dan nyonya Thunderly akan pergi menusul putra pertamanya"


"Bagus terus awasi mereka, jangan biarkan mereka lolos"


"Baik. Ini Foto anak terakhir mereka"


"Apa gadis ini putri mereka?"


"Benar Yang Mulia"


"Oh sungguh cantik, tunggu kedatangan ku Richard, tidak akan ku biarkan kamu bahagia" ucapnya sambil tersenyum mengerikan.


"Akan ku habisi semua yang menyangkut kebahagiaan mu Richard Thunderly... Huahahahaha"


°°°


"Va, gue dan bang Davin ketoilet dulu" ucap David, David menarik tangan Davin untuk mengikutinya.


"Kita harus jaga Deva bang, perasaan gue gak enak nih"


"Bang 2S sudah berangkat jadi kita harus lebih ketat menjaga Deva"


"Tubuh Deva belum stabil, papa juga ada tugas keluar kota"


"Kita harus waspada, musuh kita mulai bergerak"


"Lo benar Bang, gue gak mau kehilangan saudari lagi, cukup sekali kita gagal menjaga saudari kita"


"Sudahlah jangan bahas ini dulu, kita sudah terlalu lama disini"


...


Tok tok


"Nona muda ini ada paket buat nona"


Ceklek


"Dari siapa kak?"


"Saya tidak tau non, kotak ini didepan pintu utama dan ada nama Nona"


"oh terimakasih kak"


Deva tertawa melihat isi kotak itu. Tawanya semakin keras setelah membaca surat didalamnya.


"Astaga dek ketawa kamu bikin telinga aku sakit. Eh kotak apa tuh"


"Ada cicak ingin makan burung elang... Nih lihat aja sendiri,"


"OMG...I'am takut, You're foto ada bloodnya. Emmm... Baunya kayak blood dog" ucap David mendramatis sambil mengangkat foto dari dalam kotak.


"Uwu... Ada suratnya gaes ayo kita baca... Kamu akan mati anj*ng kecil... Aaaa aku gak kuat... Hahaha" Deva ikut tertawa melihat kelakuan kembaran soplaknya.


Kamu manis kalau lagi ketawa gini Va, aku berharap kamu bisa bahagia seperti dulu, walau banyak yang menerormu. - David


"Kamu buang deh bang, aku mau lanjut tidur dulu," Deva mencium pipi David lalu masuk kedalam kamar.


"Bang lihat deh!" Davin yang sedang fokus dengan laptopnya melihat kearah David yang membawa sebuah kotak.


"Kotak apa tuh?"


"Orang yang neror Senja lihat aja sendiri"


"Kita harus hati hati"


"Iya bang, kita harus menjaga Deva. Saat ini yang mereka incar adalah Deva"


"Kamu benar, kapan kita kemarkas?"


"Entah, kapan kapan kita kemarkas"