MY BLUE FIRE

MY BLUE FIRE
11



Sret


"Maaf Deva my little lovely. Firesegel"


Aakh


Deva jatuh pingsan dalam pelukan seorang pemuda, setelah pemuda itu memeluknya, menutup mata Deva dengan satu tangannya dan mengucap kalimat sederhana itu.


"Maaf aku datang terlambat, sebaiknya kita obati luka kalian" ucap seseorang yang berhasil menenangkan Deva.


"Kamu selalu datang setelah semua terjadi bang" cibir David


"Maaf awalnya aku ingin memberi kalian kejutan tapi malah aku yang mendapat kejutan. Dan Yaaa maklumlah aku telat kan-"


"Pahlawan selalu datang paling akhir" ucap mereka bersamaan.


"Sudah. Rian bawa Deva ketempat tidur dan obati lukanya setelah itu cerita bagaimana kamu bisa disini tanpa memberi tau papa" ucap Richard.


Pemuda bermata biru langit menundukkan kepala sebentar lalu mengangkat tubuh Deva.


"Tiro! Panggil beberapa teman mu bantu mereka ke ruang medis. Panggil dokter pribadi kita" perintah Richard.


"Baik tuan"


"Ini semua salah mama hiks... Mama yang buat Deva seperti ini"


"ini bukan salah mama, sebaiknya kita keluar biar Rian fokus menyembuhkan Deva dulu ya"


"Maaf abang telat menolong mu" bisik Rian setelah mengobati Deva, dia mengecup dahi Deva lalu pergi keluar untuk mengobati saudara saudara nya.


***


Setelah mengobati adik adiknya, Rian menghampiri orang tuanya ditaman belakang.


"Bagaimana keadaan mereka?"


"Mereka baik baik saja Papa, serangan dari Deva hanya membuat mereka lumpuh beberapa saat"


"Lalu bagaimana kamu bisa sampai sini Rian, bagaimana dengan kerajaan?"


"Maafkan saya Mama. Entah beberapa hari ini saya gelisah dan memutuskan untuk pulang. Dan saat sampai rumah..."


Rian yang baru saja turun dari mobil terkejut mendengar suara teriak kesakitan dari dalam rumah. Dia bergegas masuk kedalam. Tubuhnya mematung merasakan aura kuat membuat udara disana benar benar panas.


Rian tersadar setelah mendengar suara seperti 2 pedang yang beradu.


Rian berlari menaiki tangga. Memasuki kamar sang adik terkecil nya, disana Deva sedang beradu pedang spirit dengan papanya,dengan gerakan cepat dia memeluk tubuh Deva yang diselimuti oleh api. Perlahan 1 tangannya terangkat menutup mata Deva.


"Maaf Deva my little lovely. FIRESEGEL*"


"Jadi begitu ceritanya, Pa Ma . Maaf saya terpaksa melakukan itu karena saya tidak mau dia melukai diri sendiri atau orang lain" Rian menunduk menyesali perbuatannya.


"Rian seorang Raja tidak boleh mudah menunduk seperti itu" ucap mama


"Saya pamit undur diri Ma Pa . Saya ingin melihat Deva setelah itu langsung kembali ke kerajaan"


"Sayang apa kamu tidak bisa menunggu sebentar? setidaknya hingga Deva sadar,dia sangat merindukan mu"


"Maaf Ma saya sudah meninggalkan tempat saya terlalu lama"


"Jangan lupa temui papa diruang kerja papa, kita bicarakan hukuman apa yang pantas kamu terima!?" ucapan Richard membuat Rian merinding dari nada bicara yang dingin dan penuh penekanan seperti perintah baginya.Rian mengangguk lalu pergi kekamar Deva.


"Sebaiknya kita lihat para pangeran kita, sepertinya mereka tersiksa dengan serangan dari putri kecilmu tadi" ucap Mama sambil menahan tawa membayangkan muka kesakitan para putranya.


***


Rian tidur disamping Deva, menatap wajah adiknya itu. Perlahan tangannya terangkat untuk membelai rambut panjang Deva.


"Maafkan abang Va, abang gagal lagi menjagamu. Abang pemegang kunci api mu, tapi abang tidak selalu ada disamping mu"


"*Rian jangan lupa hukuman mu"


"Baik papa*"


"Hah... Papa kebiasaan sekali mengingatkan lewat telepati. Abang harus pergi sayang"


"Bang Rian, aku takut"


Maafkan abang yang meninggalkan mu tepat setelah dia dimakamkan, harusnya abang menemanimu bukan meninggalkan mu. Hati abang sakit melihat mu seperti ini. ucap Rian dalam hati


Rian mengecup dahi Deva. Airmata nya lolos mengenai pipi mulus Deva. Perlahan dia melangkah keluar kamar Deva.


.


.


.


"Rian seorang putra mahkota dilarang meninggalkan kerajaan tanpa meminta izin terlebih dahulu" ucap Richard tanpa mengalihkan pandangan dari langit.


"Saya pantas untuk di hukum papa"


"Pergilah sekarang, selesaikan pekerjaan mu sebelum ulang tahun adik mu" jawaban dari Richard membuat Rian tidak percaya. Dia terus diam tidak bicara apapun.


"Saya pergi dulu papa, permisi"


"Loh... Rian kemana?" tanya mama Mega yang baru saja tiba dengan 2 cangkir kopi.


"Baru saja pergi Maa , aku tau dia rindu kita tapi aku tidak mau dia menjadi anak manja"


#pagihari


"Bang Rian, bang abang dimana aku tau abang disini!" Teriak Deva sambil berlari mencari kesetiap sudut ruangan mansion.


"Mama bang Rian dimana?"


"Abang mu kan masih di negara A, sayang"


"Ada apa sih teriak teriak?" tanya David


"Abang bang Rian dimana? Aku tau dia kemarin pulangkan"


"Mungkin kamu bermimpi sayang, kemarin setelah minum susu coklat mu kamu langsung tidur kan" ucap mama


"Tapi... Tadi pas aku bangun ada air matanya bang Rian"


"Itu airmata gue, semalam pas lo tidur gue curhat ingat mantan makanya nangis" ucap David


"ini bukan airmata bang David, lagian mana mungkin abang ingat mantan sedangkan abang hanya sayang sama aku"


"Udah udah, Va itu hanya perasaan mu, kamu pasti kangen kak Rian kan. Sekarang kita makan sebelum makanannya dingin"


"Deva gak lapar Ma " mereka merasa bersalah membohongi Deva,


"Tapi Sayang kam... "


"Sudah lah Ma , biarkan dia sendiri dulu jangan paksa dia... Vin bawakan bekal adik mu, biar dia makan disekolah" ucap papa.


"Iya Pa"


.


.


.


"Pagi Queen ku" sapa Via dan Nesti bersamaan. Deva hanya melirik lalu lanjut berjalan meninggalkan Via dan Nesti.


"Makin dingin aja tuh bocah" ucap Via


"Sabar, perlahan kita akan lelehkan tuh bocah"


"Woy Va tunggu!" mereka berlari menjajarkan langkah mereka dengan Deva.


"Lambat" sinis Deva.


"Astaga mulutnya minta didik nih bocah"


"Kita kagum deh sama lo, 2D dan Deva kaliankan harusnya masih SMP tapi bisa jadi sarjana" ucap Via


"Maklum atas sampai bawah otak semua" sambung Nesti


Deva hanya melirik sesaat tanpa merepon ucapan mereka.


"Va nih sarapan buat lo" ucap Davin yang baru datang dengan teman temannya.


"Uwu ... So sweet"


"Duh meleleh aku dek"


"Aku mau juga dong kak"


"Astaga Davin romantis banget sih"


Begitulah teriakan para siswi. Deva menerima bekal lalu pergi setelah mengucap terimakasih.


Deva duduk melamun bahkan dia tidak menyadari bahwa guru sudah datang dari tadi. Lamunanya buyar ketika seseorang duduk disampingnya.


"Gue pindah ke kelas ini tuh sama Davin" ucap Davin sebelum Deva bertanya


"Oh"


Sabar Vin sabar dia adik lho.


Kenapa dada gue sesak kalau lihat Deva dekat sama cowok lain ya. Ucap seseorang dalam hati.


.


.


.


Uwu Vatian datang lgi