
Happy reading
FIRENON's mansion
Keluarga Firenon sedang berkumpul di ruang keluarga. Devan si anak terakhir tengah duduk memangku album berisi foto bayinya hingga remaja. tangannya berhenti di 1 foto, foto dia dengan bayi perempuan mungil.
"Andai kembaran gue masih hidup, pasti gue ga kesepian kayak gini" lirih Devan
Bunda yang mendengar hanya mampu tersenyum getir. Mengingat putri kecilnya meninggal saat masih bayi. Ya itu Dinda kembaran Devan yang meninggal 7 hari setelah dilahirkan.
"Kita jangan sedih, kita harus ikhlaskan dia" ucap ayah mengingatkan semua. lalu ayah berjalan mengeluarkan api biru dari jari kelingkingnya untuk menyalakan lilin di dekat foto bayi mungil.
Devan berdiri mendekati foto bayi itu. Terdapat 2 foto. Pertama Foto Devan saat bayi bersama bayi perempuan mungil bahkan ukuran tubuhnya hanya setengah dari tubuh Devan. Lalu foto bayi perempuan mungil dalam NICU dengan tubuh penuh kabel dan selang kecil. Itu Foto Dinda, beruntung waktu itu saudara Ayah Devan sempat memfoto Dinda selama dirumah sakit.
"Andai kamu masih hidup Dinda, pasti kamu cantik kayak Bunda dan Kak Citra. Aku Pasti akan menyayangi mu menjaga mu dan jadi pelindung mu. Tapi itu semua hanya angan-angan ku" ucap Devan sambil membelai foto itu. Air mata Devan mulai mengalir dalam diam.
Semua yang ada disana tak kuasa menahan tangis. Melihat sisi rapuh seorang Devan yang terkenal dingin namun tegas. Devan memandang foto dengan tatapan yang sulit diartikan.
Devan pergi menuju tempat favorit nya. Walau sudah 16 tahun berlalu keluarga Devan belum bisa mengikhlaskan kepergian kembaran Devan itu. Bahkan Devan masih berharap adik sekaligus lembaran nya masih hidup, menemani setiap langkahnya.
"Gue ngerasa hidup gue hampa. Meski ada kakak tapi gue tetap merasa hidup gue gak lengkap. Hah andai lo masih hidup, andai kita bisa bersama walau hanya sekian detik gue bakal bahagia karena kita punya kenangan bersama. Selama ini gue cuma bisa dengar dari kakak, bunda, ayah, nenek dan para warga tentang kecantikan dan kemungilan lo" curhatan Devan di sebuah makam kecil di taman bundanya.
Ya tempat itu adalah tempat favorit Devan. Disana dia bisa menikmati waktu bersama kembaran nya meski tak mungkin bertemu. Keluarga Firenon sengaja memakamkan putrinya di taman belakang agar jika rindu mereka tidak perlu pergi jauh.
"Setidaknya datang dong ke mimpi gue, hanya gue yang belum pernah lihat muka lo. Atau udah tapi gue nya yang nggak inget, hehehe" Devan terus bicara didepan makam, berharap ada balasan dari sana. Meski dia tau itu mustahil.
"Ok waktunya kita latihan, lo siap kan" Devan menghapus air mata nya. Devan bicara seakan mengajak Dinda latihan
Dia mengambil 1 pedang yang setia ia taruh di dekat makam adiknya. Devan mulai mengayunkan pedangnya, membuat gerakan menangkis dan menyerang seakan didepan ada seorang yang menjadi lawannya. Ya dia berlatih seakan bersama sang adik.
"oke cukup, sepertinya kita mulai jago ya hehe" ucap Devan dengan sendu
"Sekarang kita coba pakai kekuatan kita," ucap Devan lalu dia fokuskan kekuatannya pada pedang dan...
Bluurr...
Pedang itu diselimuti api biru. Dia melakukan gerakan yang sama. tiba-tiba berhenti dan menunduk dengan pedang yang masih diselimuti api. Bahunya mulai bergetar isakan mulai terdengar lalu menangis dan menjerit.
"AAAAAAAKH LO TEGA SAMA GUE. LO TEGA NINGGALIN KAKAK LO SENDIRI. LO EGOIS LO PERGI NINGGALIN GUE LO GAK MEMIKIRKAN PERASAAN GUE. LO NYERAH SEBELUM BERJUANG, LO TEGA BUAT GUE BERJUANG SENDIRI GUE BENCI SAMA LO!. HAAAAAAA" . jerit Devan diikuti dengan keluarnya api biru yang cukup besar bahkan tubuhnya diselimuti api biru
"Astaga Devan. AYAH, CITRA CEPAT KEMARI DEVAN LEPAS KENDALI CEPAT! DEVAN KAMU TENANG VAN BUNDA DISINI" panik bunda
Ayah langsung berlari mengeluarkan api yang sama dengan Devan. Lalu menutup mata Devan dengan sedikit menyalurkan spiritnya. Tak lama kemudian Devan tumbang tak sadarkan diri.
"Maafkan Ayah yang dulu gagal menjaga adik mu Van, Ayah telah gagal menjadi ayah yang baik, kita sudah berusaha menyelamatkan Dinda tapi Tuhan berkata lain Van tolong ikhlaskan Dinda biarkan dia tenang disana" ucap Ayah.
"Ayah apa yang terjadi? apa Devan lepas kendali lagi yah? maaf tadi Citra sedang mandi" tanya Citra . Ayah hanya diam sambil memandang sendu putra terakhirnya.
"Ayah mu benar. Sebaiknya kamu tidak usah latihan untuk hari ini temani adik mu, kasian dia kesepian meski dia sering bercanda dengan mu dia tetap mengharapkan kehadiran adiknya" ucap bunda Clara.
Citra menunduk tidak menjawab hanya mengangguk tanda setuju. Citra fokus melihat sang adik yang tertidur pulas karena kehabisan tenaga.
"Aku akan temani dia disini Bun, nanti malam biar aku tidur disini. Aku permisi kekamar sebentar ya, mau ambil laptop dan berkas ku" ucap Citra lalu pergi kekamarnya
Maaf kan ayah dan bunda mu Dinda, kami gagal menyelamatkan nyawa mu. Tenang lah disana. Ayah dan bunda akan berusaha agar Devan mengikhlaskan mu. Ucap Ayah dalam hati.
"Ayah sama bunda lanjut kerja saja, biar aku yang jaga Devan. Nanti kalau dia bangun aku panggil kalian" ucap Citra.
"Terimakasih ya sayang, nanti makan disini atau turun?" ucap bunda
"Tolong mintain pak Gun untuk antar makanan kesini ya bun! ngga apa apa kan" ucap Citra
"Iya nanti bunda sampaikan. Bunda keluar ya" ucap bunda.
Keesokan harinya Devan terbangun dengan wajah linglung. Citra yang melihat Devan bingung pun mendekat dan menceritakan apa yang telah terjadi .
"Apa aku menyakiti kalian lagi kak?" Tanya Devan
"Tidak ada kok,tapi kamu harus tanggung jawab gara - gara kamu ,aku semalam nggak bisa tidur karena kamu terus nangis. Buruan mandi siap siap sekolah" Ucap Citra.
"Males ah, mending tidur lagi!" Jawab Devan sambil menarik selimut.
"Ini perintah Ayah!" Ucapan Citra berhasil membuat Devan bangun dan lari ke kamar mandi.
"Dasar anak kecil!" Ucap Citra sambil keluar kamar Deva.
"Devan udah bangun Kak?" Tanya bunda
"Astaga Bunda! Bikin Citra kaget aja, udah kok bun kondisinya juga baik. Dia lagi siap siap sekolah" Ucap Citra
"Syukurlah kalau begitu. Kamu siap siap ke kampus juga gih, terus sarapan" Ucap bunda sambil membelai rambut Citra dan dibalas dengan anggukan oleh Citra.
.
.
.
.
.
BERUBAH FULL KAN, ADA BEBERAPA TOKOH YANG KU HAPUS KARENA AKU MERASA NOVEL KU KEBANYAKAN TOKOH HEHEHE