
Sreeet
Sreeet
"Hey berhenti kalian!"
"Vava ayo lari sayang! Kamu harus kuat kita gak boleh tertangkap oleh mereka" ucap nenek
Bugh
"Aw ... Nenek kaki Vava sakit banget"
Melihat cucunya jatuh nenek pun langsung menggendongnya. Cahaya obor dan langkah kaki semakin dekat dengan mereka. Nenek terus berlari, saat melihat kebelakang kakinya terpelesat.
Dan...
.
.
.
"TIDAK... AAA TOLONG!" teriak seorang gadis.
"Deva bangun, dev Hey" Davin berusaha membangunkan adik kembarannya itu.
Deva bangun dengan wajah ketakutan bahkan tubuhnya bergetar. Davin tau adiknya pasti bermimpi buruk lagi. Dan itu pasti mimpi yang sering Deva ceritakan padanya.
"Kau mimpi itu lagi ya?" tanya Davin lembut dan hanya dibalas dengan anggukan.
"Hiks ... Deva takut bang" rengek Deva
"Ssssttt ... Tenang ya kan ada abang disini"
Davin memeluk adiknya. Menyalurkan kehangatan dan kenyamanan.setelah tenang Davin menyuruh Deva agar segera bersiap untuk mengantar nya ke bandara.
Skip >>> BANDARA
"Abang nanti jangan lupa kasih kabar Deva kalau udah sampai, salam buat yang disana, jaga kesehatan, jangan nakal, trus jang... "
Cup
"iya bawel" ucap Deva terpotong karena Davin tiba-tiba mencium nya. Deva pun tersenyum dan mencium pipi abang kesayangannya itu.
(jangan salah paham yaaa, karena mereka udah bisa kayak gitu bahkan didepan umum maklum mereka kan saudara + kembar).
Setelah berpamitan dengan semua yang disana Devan pun berangkat ke Paris dengan jet pribadi keluarga Thunderly.
Deva pulang ke apartemennya. Sebenarnya dia tinggal bersama paman dan bibinya. Dengan alasan ingin mandiri Deva pun membeli sebuah apartemen yang lumayan mewah dan luas.
Deva tersenyum melihat foto keluarganya. Papa, mama, 5 cwo dan 2 cwe.
"I miss you all" ucap Deva sambil sembelai foto itu.
Deva berjalan menuju cermin. Dia melihat pantulan dirinya. Rambut panjang sepaha, poni menutupi mata kiri, hidung mancung, rambut hitam kebiruan, bibir mungil, pipi caby, body ok..
'Cantik' puji nya pada diri sendiri.
Deva berjalan menuju kamar mandi berendam air dingin. Setelah itu dia memutuskan untuk istirahat sampai jam makan malam nanti.
Skip >>>
Krincing
Krincing
🔔🔔
Suara lonceng menandakan adanya pelanggan yang masuk ke caffe. Melihat seorang gadis berusia 16 tahun semua karyawan menunduk hormat.
Gadis itu membalas dengan anggukan kepala. Dia berjalan masuk ke ruangan manager caffe tanpa mengetuk pintu.
"Kamu tau sopan santun tidak? Jika masuk ruangan saya ketuk pintu dulu!" bentak Rio (manager caffe) tanpa melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Repeat! " mendengar suara dingin nan datar Rio pun melihat ke sumber suara.
"Ha-hay...Queen Eva. Maksudku Deva maaf kakak gak tau kalau itu kamu" ucap Rio sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Deva mendengus malas, merebahkan tubuhnya keatas sofa besar yang terdapat diruangan Rio. Rio menutup laptop dan mendekati Deva, menempatkan kepala Deva ke pangkuannya.
🌸 🌸 🌸
Deva sedang menikmati alam mimpi dan masih setia di pangkuan Rio. Rio melihat wajah Deva terlihat lelah, mata sayu.
Rio adalah saksi bagaimana usaha Deva untuk mencapai titik kesuksesan saat ini. Sejak Deva berumur 6 tahun hingga saat ini. Bahkan sekarang dia jauh di bawah Deva.
Deva bangun lalu berjalan ke sisi tembok. Menempelkan telapak tangannya kesisi tembok itu. Lalu tembok itu terbuka memperlihatkan sebuah kamar dengan puluhan foto di dinding.
Deva menatap sendu foto gadis kecil berusia 9 tahun bersama gadis berusia 16 tahun. Dia berusaha menahan air matanya. Namun gagal
Kak aku kangen kakak ucap Deva dalam hati.
"Gue tau lo belum bisa lupain kejadian yang merebut nyawa kakak lo. Lo pergi kesini dengan alasan kuliah, sekarang lo harus balik lo udah lulus S3 gak ada alasan lagi. Gue tau sebenarnya lo kesini dengan tujuan melupakan kejadian itu, kan" ucap Rio. Deva menganggukkan kepala.
"OK kak besok gue balik tolong siapin jet pribadi milik gue, bisnis dan mafia disini gue percayakan ke lo kak" ucap Deva menepuk bahu Rio lalu pergi.
"Lo wanita yang kuat Deva, kakak harap setelah ini tidak ada kesedihan didalam hidup lo". Batin Rio melihat punggung Deva yang hilang di balik pintu.
.
.
.
Keesokan harinya
"Pagi Queen Eva. Tuan Rio telah tiba, Tuan menunggu anda di meja makan" ucap coco (sebuah sistem buatan Deva dan abang abang nya )
"Bilang untuk menunggu sebentar. Aku akan segera turun," jawab Deva
"Baik Queen"
25 menit kemudian
"ada apa kak?" tanya Deva to the poin.
"sepertinya kita tidak bisa melakukan penerbangan hari ini Va. Jet kita sudah dibandara, tapi gue dapat kabar ada kebakaran di bandara . Kebakaran lumayan besar jadi semua penerbangan dibatalkan" kata Rio. Deva hanya diam dan mengangguk sebagai jawaban. Terlihat jelas raut wajah Deva mengisyaratkan kekecewaan.
'padahal gue pengen cepet pulang gue kangen keluarga gue, gue rindu sahabat gue,hahaha... hanya karena nasehat dari kak Rio gue bisa sadar kalau gue udah lama ninggalin keluarga gue' ucap Deva dalam hati
"Gue tau lo pasti kecewa dan sedih Va, kita masih bisa melakukan penerbangan besok, kan? " ucap Rio menenangkan hati Deva.
"Daripada kita sedih mending kita latihan yuk, kakak nggak ada jadwal hari ini jadi kita bisa latihan bersama, gimana kamu mau?" ajak Rio.
"Ayo kak, kita latihan nembak dulu. Kali ini kakak pegang apel ya.... Terus nanti kita latihan pedang dan kakak pegang jeruk..." Rio bernafas lega selama perjalanan menuju tempat latihan Deva antusias mengatakan rencana gila dalam latihan.
Apakah dia ingin membunuh gue?. gue nyesel ngajak dia latihan berdua. gue ssih nggak meragukan kemampuannya sebagai leader tapi tetap saja dia manusia dan masih dibawah umur. Ya Tuhan lindungi nyawaku... Batin Rio yang meratapi nasipnya.
Sampai ditempat latihan. Deva bersiap dengan penutup mata dan pistol ditangan nya, sedangkan Rio berkeringat dingin dengan buah apel di atas kepalanya.
"Lo udah siap belum kak?" tanya Deva yang sudah tidak sabar.
"I-iya gu-gue siap!" Rio bergetar dalam hati dia berdoa Semoga nyawa gue aman, semoga ada telfon masuk diHP Deva, semoga ada anggota yang tiba-tiba datang.
Sring
"Aaa... Gue hidup segan mati tak mau!" latah Rio
Bruk
"Eh... Kak ada apa kok gue dengar kayak ada yang jat-" ucapan Deva terhenti karena melihat Rio jatuh pingsan.
"Astaga Kakak... Kalian cepat bawa Kak Rio keruang kesehatan!" perintah Deva pada salah satu anggota yang menjaga.
ASSALAMUALAIKUM
****Hy hay hallo
Maaf ada sedikit perubahan di Eps ini.. Mungkin nanti eps lainnya juga Tian ubah
Salam kenal
Salam
VATIAN****