
Visual tokoh
Mutia seorang siswi di SMA NUSA GUNA, bersahabat dengan Andriana dari masuk kelas 10 dan sekarang dia kelas 12, umur 18 tahun, sifat tegas, penyayang keluarga, ceplas ceplos dan sedikit bar bar
Andre seorang CEO di perusahaan terbesar pertama di Indonesia yaitu AND GROUP, status seorang duda, istri meninggal karena mengidap penyakit kangker, usia 38 tahun, sifat dingin, kejam, dan hangat ketika bersama keluarga
Andriana sahabat Mutia dan juga anak sematawayang Andre, sekolah di SMA NUSA GUNA, umur 18, sifat manja, ingin Mutia jadi ibu sambungnya karena tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sejak ibunya meninggal saat dia berusia 5 tahun
" Eehm "
seorang tiba tiba berdiri di belakang Tia dan bi Inem membuat mereka kaget dan langsung membalikkan badan.
Tia terkejud melihat orang yang berdiri di belakangnya.
'siapa dia kenapa tampan sekali' batin Tia yang terpesona akan ketampanan laki laki di belakangnya.
" eh tuan sudah pulang " sapa bi Inem pada laki laki yang dipanggil tuan olehnya.
" hm " jawabnya singkat dan langsung menuju ke dalam kamarnya.
Tia bingung melihat laki laki tersebut kemudian dia bertanya krpada bi Inem.
" bi tadi siapa ? " tanya Tia penasaran akan sosok tersebut.
" oh tadi non, tadi itu tuan Andre ayahnya non Ana " jawab bi Inem sambil meneruskan masakannya.
" oh yaudah bi inikan sudah hampir matang semua tinggal tumis pare dan kangkung saja jadi aku tinggal gak papa kan aku mau panggil Ana sebentar " izin Tia pada bi Inem.
" iya non silahkan ini juga sudah matang kok tinggal menyajikan saja " jawab bi Inem.
setelahnya Tya menuju lantai atas ke kamar Ana. Setelah sampai kamar Tia melihat Ana sedang tiduran sambil main hp.
" Ana udah di kasih tau ya jangan tiduran sambil main hp gak baik untuk mata " ucap Tia saat melihat Ana yang tiduran sambil main hp.
Tia langsung merampas hp yang dari tadi di mainkan oleh Ana dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.
" hehehe habis bosen nungguin kamu dari tadi lama banget sih ? " tanya Ana yang kesal karena menunggu Tia yang sudah hampir 1 jam keluar belum kembali kembali juga.
" aku tu tadi bantuin bi Inem masak biar cepet selesai "
" oh pantes bau " ledek Ana sambil menutup hidung.
" ih Ana nggak ya aku wangi tauk kamu itu yang bau " jawab Tia dengan menekuk wajah dan melipat kedua tangan di atas dada.
" hahaha " tawa Ana pecah karena telah berhasil menggoda Tia.
" iihhh Ana " protes Tia karena telah di goda oleh Ana.
" itu juga kenapa rambutnya masih digulunh handuk segala " tanya Tia yang melihat rambut Ana yang masih rapi tergulung handuk.
" oh nungguin kamu biar di keringin, males aku ngeringin sendiri " jawab Ana sambil menyerahkan hair dryer pada Tia.
" hm mulai manjanya ya " sambil mengambil hair dryer dari tangan Ana dan mulai mengeringkan rambut Ana.
ditempat Andre
Andre baru saja selesai mandi dan masih menggunakan handuk di pinggangnya berjalan ke lemari dan memilih baju yang akan di gunakannya setelah itu ia mengganti baju dan mengeringkan rambutnya sambil memikirkan siapa gadis yang barusan membantu bi Inem masak.
" siapa gadis itu apakah dia pembantu baru atau kerabat bi Inem tapi jika itu pembantu baru aku merasa tidak mencari pembantu dan jika itu keluarga bi Inem kenapa bi Inem tidak memberi tau ku, ah sudahlah nanti aku tanyakan bi Inem saja dari pada kepikiran terus " gumam Andre pada dirinya sendiri.
" bi Ana mana belum turun ya ? " tanya pada bi Inem.
" iya tuan non Ana belum turu tapi tadi sudah di panggil sama non Tia " jawab bi Inem dengan sopan.
" Tia siapa Tia bi sepertinya aku belum pernah mendengar namanya " tanya Andre penasaran.
" iya tuan non Tia itu temannya non Ana dan baru hari ini main ke sini tuan ".
" apa tia yang tadi membantu bi Inem masak " sambungnya.
" iya tuan tadi yang bantu masak bibi non Tia tuan padahal tadi udah bibi larang tuan tapi non Tia tetap kekeh mau bantu bibi masak ".
" yaudah tuan saya tinggal ke dapur ya tuan permisi " pamit bi Inem pada Andre.
" hm " jawab Andre.
tak berapa lama Ana dan Tia turun sambil bergandengan tangan, mereka terlihat akrab dan Ana terlihat sangat bahagia, Andre yang melihatnya sedikit terkejut karena selama ini Ana sulit bergaul dan tidak pernah terlihat se bahagia ini.
" Daddy..... " teriak Ana yang melihat Daddy nya berdiri di samping meja makan sambil menatapnya.
" hm kenapa putri Daddy ini sangat manja sekali " tanya Andre kepada putri satu satunya tersebut sambil mengelus rambut indah Ana.
" hehehe kan jarang ketemu Daddy " jawab Ana dengan masih memeluk erat ayahnya tersebut.
" sudah sudah ayo kita makan dan itu siapa kok tidak di kenalkan sama Daddy " tanya Andre sambil melirik ke arah Tia.
" oh iya hampir lupa hehehe, Dad kenalin ini Tia sahabat Ana, dan Tia ini Daddy aku " jawab Ana memperkenalkan Tia pada Daddy nya dan sebaliknya.
" Tia om sahabat Ana " ucap Tia memperkenalkan diri sambil mencium tangan Andre.
" eh iya saya Andre Daddy nya Ana " jawab Andre dengan perasaaan yang campur aduk karena ini pertama kalinya tangannya di cium oleh orang lain selain putrinya setelah kematian istrinya.
" yaudah Tia ayo makan sini kamu duduk di depan aku " ucap Ana sambil menunjuk tempat duduk di depannya.
" eh iya " jawab Tia dengan sedikit ragu ragu melangkah ke kursi di depan Ana.
" Tia aku mau ayam itu dong " ucap Ana sambil menunjuk ayam mentega yang ada di depanku dan menyerahkan piring kosong miliknya.
" Ana kenapa kamu nyuruh Tia menggambilkan makan untukmu kamu sudah besar Ana bukan anak kecil lagi " ucap Andre yang menegur sikap Ana.
" ih Daddy apaan sih Tia aja nggak protes kok " jawab Ana dengan muka kesalnya.
" enggak papa kok om, ini An sama nasi udah cukup apa belum ? " tanya Tia sambil menyerahkan piring yang berisi nasi dan ayam mentega pada Ana.
Andre hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan manja putri semata wayangnya, dia maklum mungkin Ana ingin mersakan kasih sayang seorang ibu.
" om kok belum ambil mau saya ambilin ? " tanya Tia yang melihat piring Andre masih kosong.
" eh " Andre tersadar dari lamuan nya dan menatap Tia.
Tia yang melihat Andre terus saja diam langsung mengambilkan makanan untuknya.
" om mau apa ? ini nasinya udah cukup atau belum ? " tanya Tia pada Andre.
" eh iy iya saya mau tumis pare dan kangkung kalau nasinya udah cukup " jawab Andre dengan gelagapan karena merasa aneh dengan perasaaannya saat Tia memberi perhatian padanya.
" ih Daddy juga sama " gumam Ana yang masih di dengar oleh Andre dan Tia.
" udah udah sekarang kita makan nanti makanannya keburu dingin "