Mr. CEO & ME

Mr. CEO & ME
Part 6-Salju



Itu salju.


Winda memandangi salju yang berjatuhan dengan takjub seakan itu adalah sebuah keajaiban. Ini adalah kali pertama bagi Winda melihat salju secara langsung. Biasanya ia hanya bisa melihatnya di dalam layar tv saja.


Winda menengadahkan tangannya untuk menyentuh butiran-butiran salju yang berjatuhan tersebut. Rasa dingin langsung menjalar di jarinya begitu butiran salju itu mengenai tangannya. Ternyata begini rasanya. Winda sudah mengetahui bahwa salju terasa dingin dari drama-drama yang pernah ia tonton. Tapi menyentuh dan melihatnya secara langsung seperti ini terasa sangat berbeda.


"HEI! HEI! APA KAU TULI?!"


Suara teriakan itu membuat Winda tersadar bahwa dihadapannya masih berdiri seorang pria yang bicaranya sangat kasar dan suka seenaknya saja membuat kesimpulan. Jangan lupakan juga fakta bahwa ia tidak mempunyai etika sama sekali.


"HEI! APA KAU MENDENGARKANKU?" Pria itu melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Winda.


"TENTU SAJA AKU DENGAR. AKU TIDAK TULI!" Winda balik berteriak pada pria itu.


"Benarkah? Lalu mengapa kau terdiam seperti idiot tadi?"


IDIOT?!


Dia menyebut Winda idiot?! Enak saja. Ya, meskipun sepertinya ia memang kelihatan seperti idiot sih tadi. Tapi ia tidak suka jika seseorang menyebutnya idiot.


"Hei! Siapa yang kau sebut idiot, b*j*ng*n?!" tanya Winda yang tidak terima dikatai idiot.


"Tentu saja kau! Memangnya ada orang lain disini selain dirimu."


"Tentu saja ada."


"Hah?" Pria itu mengernyit. "Siapa? Dimana orang itu?" lanjutnya sambil mengarahkan pandangannya ke sekeliling.


"Bodoh. Orang yang ku maksud sedari tadi adalah kau!"


"Hah?! Kau benar-benar bodoh! Dasar gadis aneh!"


Perdebatan mereka harus terinterupsi lagi kali ini karena Pria itu bergerak menjauh dari Winda. Ponsel pria itu tadi berdering, sehingga ia harus pergi beberapa langkah dari tempat Winda berdiri saat ini untuk mendapatkan privasi berbicara.


Sebenarnya saat ini Winda ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya dan mengacaukan pembicaraan yang dilakukan pria itu. Tapi Winda masih punya sopan santun, sehingga ia sadar bahwa ia tidak boleh mengganggu pembicaraan orang lain. Karena itu Winda hanya diam saja menunggu pria itu selesai berbicara dengan seseorang di seberang ponselnya.


Beberapa saat kemudian, pria itu mendekat kembali ke arah Winda. Winda sudah bersiap-siap melanjutkan perdebatan mereka yang tadi sempat terhenti, tapi pria itu melewatinya begitu saja. Hal itu membuat Winda kebingungan.


"Hei kau!" Winda memanggilnya tapi pria itu mengabaikannya. " Hei! Kau Mau Kemana sih?" lanjut Winda begitu ia melihat pria itu memasuki mobilnya.


"Hei! Keluar kau! Kau belum meminta maaf padaku!" ucap Winda yang sudah berada di samping pintu mobil tersebut.


Winda mengetuk jendela mobil tersebut sambil berteriak tidak karuan agar pria itu keluar dari mobilnya. Tapi apa yang dilakukan Winda hanya sia-sia saja. Pria itu sama sekali tidak menghiraukan apa yang dilakukan Winda. Ia tetap melenggang pergi bersama mobil merahnya meninggalkan Winda yang masih berteriak seperti orang gila di belakangnya.


"HEI! KEMBALI KAU! AKU BELUM SELESAI BICARA PADAMU TADI. KEMBALI KESINI!"


"DASAR ********. AKU BILANG KEMBALI!!!" raung Winda.


Winda berteriak-teriak dengan keras sembari berlari mengejar mobil ******** menyebalkan itu tertatih-tatih. Dan tentu saja, dengan kondisi lututnya yang saat ini terluka dia tidak dapat mengejar mobil itu. Mobil itu menghilang dengan begitu cepat dari pandangan Winda.


Winda berhenti berlari dan memegangi perutnya yang terasa sakit dengan kedua tangannya. Ia juga menghentikan teriakannya dan mencoba menormalkan degup jantungnya yang berdetak begitu kencang. Suara deru nafasnya terengah-engah dan peluh berceceran menetes di wajahnya. Ia mengusap wajahnya yang terasa lengket dan tidak nyaman akibat peluh-peluh itu dengan siku bajunya.


Winda benar-benar buruk jika sudah menyangkut urusan seperti ini. Winda memiliki stamina tubuh yang sangat lemah hingga ia tidak kuat jika harus berlama-lama berlari seperti tadi. Dulu saat ia masih bersekolah, Winda seringkali pergi ke uks dan berpura-pura sakit saat jam pelajaran penjas berlangsung. Ia juga tercatat sebagai pemegang rekor lari terlambat di kelasnya mulai dari saat ia kelas 1 SD hingga ia kelas 12 SMA.


Winda menatap sekelilingnya dan menyadari bahwa salju masih berjatuhan. Jalanan mulai tertutup oleh butiran-butiran salju yang semakin lama semakin tebal saja.


Winda dulu sering membayangkan bahwa ia akan menyaksikan salju pertamanya dengan riang gembira. Tapi pengalaman pertamanya melihat salju ini benar-benar sangat jauh dari apa yang ia harapkan. Ia malah merasa sangat kesal, marah, kelelahan, gerah dan kehausan. Semua perasaan tidak menyenangkan ini tercampur aduk menjadi satu. Dan ini semua karena pria menyebalkan itu tadi.


Oh, Semoga saja ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan orang itu.


Ya, semoga saja.