Mr. CEO & ME

Mr. CEO & ME
PART 9-KERJA PART TIME



Sungguh tidak dapat dipercaya bahwa Winda harus mengantarkan susu di pagi buta seperti ini. Udara pagi ini luar biasa dingin. Walaupun Winda sudah memakai pakaian berlapis-lapis, tubuh Winda masih menggigil kedinginan di balik jaket tebal yang ia kenakan.


Winda mengayuh sepedanya lebih cepat sambil mengamati nomor setiap rumah yang ia lewati. Winda sudah mengantarkan hampir semua pesanan, hanya tinggal satu pesanan lagi dan Winda bisa kembali ke toko bosnya. Tapi entah mengapa alamat yang terakhir ini sangat sulit untuk ditemukan. Padahal ia sudah berputar-putar di daerah ini sedari tadi. Sementara jam di tangannya saat ini sudah menunjukan pukul 07.00 am. Ya Tuhan, bosnya nanti pasti akan memarahinya.


Hari ini adalah hari pertama Winda bekerja. Kemarin malam ia mendapat pemberitahuan bahwa ia diterima kerja sebagai seorang kurir pengantar susu.


Awalnya Winda sempat tidak percaya. Seingat Winda baru 2 hari yang lalu ia memasukan cv-nya ke salah satu situs kerja paruh waktu yang ada di Korea Selatan, tapi ia sudah mendapatkan pekerjaan. Sedangkan di Indonesia, ia sudah panas-panasan berkeliling kota untuk mencari pekerjaan tapi tidak kunjung dapat pekerjaan juga.


Pemerintah Korea Selatan menetapkan standar gaji 7,530 Won perjam untuk pekerja paruh waktu. Selain itu pekerja paruh waktu juga dilindungi oleh hukum tenaga kerja, sehingga tidak ada pemilik usaha yang akan bertindak semena-mena dengan membayar gaji di bawah standar gaji pekerja paruh waktu yang telah ditetapkan. Dan kabar baiknya lagi, di Korea Selatan pekerja paruh waktu juga bisa menentukan sendiri jam kerjanya.


Oh, Tuhan. Jika saja ia tahu akan seperti ini, Winda sudah dari dulu datang ke Korea. Seharusnya dulu ia tidak pernah ragu-ragu untuk pergi.


Ah, akhirnya!


Winda menghela nafas lega begitu matanya menangkap rumah yang bertuliskan alamat Cheongdamdong, No. 215 di tiang gerbangnya yang terbuat dari bata yang tersusun rapi.


Winda memarkirkan sepedanya di dekat pagar dan menekan bel. Ia mengamati rumah itu sekilas dari balik pintu gerbang. Rumah itu bergaya victorian dengan dinding yang di cat warna putih. Pekarangannya juga terlihat luas dan tertata dengan baik. Pemilik rumah ini sudah pasti orang kaya mengingat rumah ini terletak di daerah Cheongdamdong, salah satu kawasan perumahan elit di Seoul.


Winda meletakan sebotol susu di depan pagar dan berbalik menuju ke arah sepedanya yang terparkir.


"Hei, kau!"


Panggilan dari lelaki di belakangnya membuat Winda menghentikan langkahnya.


Entah mengapa perasaan Winda jadi tidak enak. Winda punya firasat buruk tentang ini. Ada apa ini? Apa Winda salah menekan bel rumah? Atau apa mungkin barangnya tidak sesuai?


Oh Tuhan, semoga saja itu hanya kekhawatiran Winda saja!


Winda membalikan tubuhnya agar tidak terkesan kurang ajar karena berbicara membelakangi pelanggan.


YA, TUHAN!!!


Winda menutup mulutnya dengan dramatis ala-ala pemain sinetron. Hampir saja tadi Winda menjerit alay ala fangirl melihat pemandangan di hadapannya.


DIA TAMPAN SEKALI!


Winda tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya pada sosok pria dengan tubuh jangkung di hadapannya ini. Wajahnya seperti di pahat dengan sangat teliti sehingga setiap detail dari wajahnya terlihat begitu sempurna.


Dia benar-benar sebuah mahakarya besar yang hanya bisa di ciptakan oleh tuhan.


Tapi, apa Winda pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya, ya? Ia kelihatan tidak asing.


"Hei! Hei! Kau mendengarku?"


"Ah, iya. Ada apa, pak?" tanya Winda yang tersadar dari lamunannya.


"Bukankah seharusnya kau minta maaf terlebih dahulu?"


"Kenapa katamu?! Apa kau sungguh tidak tahu apa kesalahanmu?"


Duh, pertanyaan macam apa itu?


Tentu saja Winda tidak tahu, ia tidak akan bertanya jika dia sudah tahu jawabannya. Ingin rasanya Winda memukul kepala pria ini dengan sepatunya. Untung dia tampan, jadi Winda tidak tega untuk melakukannya.


"Jangan pura-pura bodoh!"


"Memangnya apa kesalahan saya, pak?"


"Kau terlambat 30 menit 14 detik!"


"Ah, itu... itu... saya orang baru. Jadi karena itu saya... saya ...." jawab Winda tergagap-gagap karena gugup.


"Memangnya kenapa jika kau kurir baru? Itu bukan alasan yang tepat untuk mentolerir tindakanmu." Pria itu memotong ucapan Winda.


"Bukan begitu maksud saya, pak. Begini pak, saya bukan hanya kurir baru, tapi saya orang baru disini. Jadi, saya belum terlalu hapal tempat-tempat yang ada di Seoul," jelas Winda panjang lebar.


"Jangan membuat alasan yang tidak-tidak!"


"Tapi alasan saya tadi alasan yang iya-iya," debat Winda tidak mau kalah. "Ciyus de, Pak!" tambahnya menggunakan bahasa alay untuk meyakinkan makhluk di hadapannya.


"Kau benar-benar tidak sopan! Siapa namamu?"


"Pak, tapi saya-"


"Namamu? Aku tanya namamu. Aku tidak peduli dengan alasanmu!"


"Pak, bukankah sudah saya katakan saya orang baru jadi-"


"Sudah ku katakan juga kalau aku tidak peduli, itu masalahmu."


"Pak, maafkan saya. Ini hari pertama saya bekerja."


"Terserah, itu bukan urusanku."


"Tolonglah, pak!"


"Baiklah. Tidak kau katakan juga tidak apa-apa." Pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya.


Tidak!!!


Bagaimana ini?! Sepertinya dia akan menghubungi atasan Winda. Ya, tuhan. Atasannya pasti akan langsung memecat Winda begitu ia tahu apa yang telah dilakukannya.