
"Senang bertemu denganmu pagi ini, sepupu. Apa kau sehat?" sapa seorang pria di dalam lift pada Joonho dengan senyuman yang sangat lebar di wajahnya
Astaga, padahal ini masih pagi tapi mood Joonho sudah kacau saja. Melihat muka orang ini saja sudah memuakan, apalagi harus satu lift dengannya. Dia bisa gantung diri saat sampai di ruangannya nanti. Dan apa yang diucapkan orang ini tadi? Dia bicara seakan-akan ia senang bertemu dengan Joonho. Padahal tadi dia dengan sengaja menutup pintu lift begitu ia melihat Joonho. Untung saja ia cepat-cepat menahan pintu lift tadi.
Orang ini benar-benar tidak punya sopan santun dan menyebalkan. Sungguh tidak bisa di percaya mereka sepupu.
Ya, orang ini adalah Choi Woojin, sepupu Joonho. Rasanya Joonho sungguh tidak ingin mengakuinya. Tapi apalah daya pria di hadapannya ini memang sepupunya. Sepupu yang sangat tidak ia sukai. Dia adalah anak dari pamannya yang mencoba merebut posisi ayahnya. Joonho sangat yakin pria dihadapannya ini juga akan melakukan hal yang sama kelak. Buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya, bukan? Buktinya Woojin bertanya seakan dia berharap Joonho sakit.
Huh, jika suatu saat nanti Woojin mendengar berita tentang kematian Joonho, Woojin sudah pasti akan menggelar pesta besar-besaran dan mengundang semua penyanyi top hallyu atau bahkan penyanyi internasional sekelas Ariana Grande dan Camilla Cabelo untuk memeriahkan perayaan kematian Joonho. Mungkin Woojin juga akan merayakannya selama 7 hari 7 malam tanpa mempedulikan biaya yang akan ia keluarkan nanti. Joonho yakin seratus persen akan hal itu.
Ralat, Seribu persen.
"Apa aku tampak seperti orang sakit bagimu?" Joonho berucap dengan sinis sambil berjalan memasuki lift.
"Sebenarnya sih tidak, tapi aku harap itu benar."
Perkiraan Joonho tadi sepertinya sangat tepat. Tapi Joonho tidak menyangka Woojin akan bicara terang-terangan begini.
Sepertinya Woojin memang tidak punya tata krama.
Joonho memicingkan mata dan menatap tajam ke arah Woojin. "Huh, sepertinya kau sangat berharap untuk dapat menggantikan posisiku ya? Tapi, sayang sekali aku baik-baik saja. Jadi semua itu hanya akan jadi angan-anganmu saja." jawab Joonho dengan seringaian di wajahnya.
"Dan biasakan dirimu untuk sopan padaku! MAJIKAN disini adalah aku, sedangkan kau hanya PEMBANTU." lanjut Joonho sambil menekankan kata majikan dan pembantu.
"Sajangnim, tunggu aku!"
Joonho bergidik ngeri melihat Sae ah yang mendekatinya. Cepat-cepat ia menutup pintu lift agar terhindar dari makhluk astral itu.
Sebenarnya apa yang di lakukan para staff HRD di perusahaannya? Mereka benar-benar tidak becus!!! Sepertinya Joonho harus ikut serta dalam proses seleksi karyawan baru nanti, agar para staff HRD itu dapat lebih teliti saat memilah karyawan yang memang berguna untuk perusahaan mereka.
Ah, sepertinya itu terlalu mengerikan untuk dibayangkan.
"Wah, kau benar-benar terlihat seperti Majikan sungguhan! Kau sangat tahu bagaimana caranya memperlakukan pelayanmu. Mengagumkan sekali!"
Ucapan Woojin tadi membuat Joonho kembali tersadar dari lamunannya dan mengingat bahwa saat ini ia masih berada di dalam lift yang tentunya saat ini ia juga masih bersama sepupunya yang tidak punya sopan santun ini.
Untunglah pintu lift segera terbuka, jadi Joonho tidak perlu lagi meladeni ucapan Woojin. Ia hanya menoleh sejenak pada Woojin dan menatapnya jengah sebelum akhirnya pergi dari sana diiringi Sekretaris Kim.
"SAMPAI JUMPA LAGI NANTI, SEPUPU. AH RALAT, MAJIKAN." teriak Woojin dari dalam lift yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Joonho.
Orang ini benar-benar tidak punya malu. Bagaimana bisa dia berteriak sekeras ini di tempat kerja? Apa dia pikir ini rimba? Joonho yang diteriaki saja sudah sangat malu. Tapi orang yang menjadi sumber dari keributan ini terlihat biasa saja dengan hal itu. Padahal saat ini kelakuan gila Woojin itu membuat mata semua karyawan disini tertuju pada mereka. Tapi orang ini bertingkah seakan perbuatan yang dilakukannya adalah hal yang lazim untuk dilakukan oleh seorang Marketing director sebuah perusahaan besar sekelas Daehee Electronic.
Sungguh ironis.
Atau ...
Jangan-jangan Woojin memang sengaja melakukan semua ini agar dia menjadi pusat perhatian. Toh, Woojin memang makhluk yang sangat gila akan perhatian. Dan Woojin juga bisa sekalian mempermalukan Joonho dengan cara ini. Ck, Benar-benar rencana yang sangat strategis.
Ya, meskipun mereka berdua tidak akrab, tapi Joonho sangat paham dengan isi kepala sepupu jadi-jadiannya itu.
Rasanya Joonho ingin sekali meninju mulut Woojin sampai robek agar ia bisa diam. Tapi hal itu hanya akan menyia-nyiakan tenaganya saja. Jadi ia memutuskan untuk tetap berjalan dengan tenang seakan-akan Woojin berteriak dengan volume suara kurang dari 20 hertz sehingga tidak dapat terdengar oleh telinga Joonho.
********
Kamus Mini
Sajangnim \= CEO/ Direktur Utama