
Malam sudah mulai larut. Winda berjalan di trotoar jalan kota Seoul dengan langkah yang lesu sambil menjinjing tas pakaian dan ranselnya. Winda bingung harus tidur dimana malam ini. Ia baru saja di usir dari hotel tempatnya menginap semalam.
Winda tadi kelupaan jika ia harus check out dari hotel pada pukul 12.00 pm. Alhasil begitu ia tiba di hotel tadi sore, semua barang-barangnya sudah diletakkan di lobi hotel. Winda tidak punya pilihan lain selain pergi dari sana, karena sepertinya uangnya tidak akan cukup jika ia harus menginap satu malam lagi. Ia hanya sebatang kara tanpa ada satu orangpun yang ia kenal di tempat ini. Jadi tidak ada yang bisa ia mintai bantuan sekarang.
Ya Tuhan, ide untuk merantau di negeri orang benar-benar sangatlah buruk. Winda mulai agak menyesali apa yang telah dilakukannya.
BRUKK!!!
Winda merasakan tubuhnya jatuh membentur kerasnya aspal jalanan kota Seoul yang dingin. Winda memegangi lututnya yang terasa nyeri. Oh, tidak. Lututnya berdarah! Ia terluka!
Winda menoleh ke sampingnya dan mendapati sebuah mobil sport berwarna merah metalik tepat disampingnya. Dan itu artinya seseorang baru saja menabraknya
Pintu mobil itu tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan seorang pria dengan proporsi wajah yang sangat sempurna lengkap dengan tatapan mata yang begitu tajam yang seakan bisa membunuh siapapun yang menatapnya. Pria itu juga sangat tinggi.
Oh, Tuhan. Pria itu sangat mempesona. Winda pasti akan langsung percaya jika pria itu mengaku bahwa ia adalah bintang film, karena menurut Winda pria itu memiliki kadar ketampanan di atas rata-rata. Ralat, bukan hanya Winda saja, tapi semua orang yang melihatnya juga pasti akan mengakui bahwa pria di hadapannya ini sangat-sangat tampan. Bahkan mungkin orang gila pun setuju dengan pendapat Winda.
"Dasar bodoh! Seharusnya kau lebih hati-hati saat menyebrang! Apa kau buta?!"
Bentakan pria itu membuat Winda tersadar dari lamunannya.
Wait? Apa-apaan ini?
Pria itu marah padanya? Astaga, memangnya siapa yang salah? Seharusnya Ia yang marah! Bukankah korban disini adalah Winda? Seharusnya saat ini dia membawa Winda ke rumah sakit atau setidaknya ia cukup meminta maaf saja pada Winda. Bukannya malah marah-marah seperti ini.
Semua kekaguman Winda tadi seketika sirna. Meskipun Winda hanya berucap dalam hati saja, tapi ia menyesal sudah memujinya tadi. Pria itu benar-benar tidak punya etika.
"Ada apa denganmu? Apa kau bisu? Kenapa hanya diam saja?"
Huh, apa-apaan ini?!
Winda sampai ternganga mendengarnya. Tadi bodoh, lalu buta, dan sekarang bisu?! Ucapan pria ini benar-benar kasar. Cukup. Winda tidak tahan lagi!
Pria itu mengernyitkan dahinya dan menatap Winda bagaikan sedang menatap alien begitu Winda selesai berucap.
Ada apa dengan orang ini?
Astaga, Winda baru sadar jika ternyata tadi ia berucap dalam Bahasa Indonesia. Pantas saja dia menatap Winda seperti itu. Pria itu pasti tidak mengerti maksud ucapannya.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Maksudku adalah aku ingin kau meminta maaf padaku!"
"Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin aku minta maaf?" Pria itu mengangkat sudut bibirnya dengan sinis. "Hei, sadarlah kau yang melakukan kesalahan dengan menyebrang jalan tanpa memperhatikan sekitarmu. Dan sekarang kau ingin aku minta maaf? Ck, yang benar saja." lanjut pria itu.
"Mungkin aku memang salah karena menyebrang jalan sambil melamun. Tapi aku pasti tidak akan tertabrak jika saja kau mengendarai mobilmu dengan benar."
"Jadi kau ingin balik menyalahkanku, begitu? Aku dengar belakangan ini sering terjadi kasus penipuan di jalanan. Biasanya mereka berpura-pura tertabrak oleh pengendara mobil. Lalu setelah itu mereka akan meminta biaya kompensasi dan memeras korbannya. Apa kau juga bagian dari para penipu itu?" tanya pria itu sinis.
"APA MAKSUDMU?!" Winda meninggikan suaranya begitu mendengar ucapan pria itu. Selain itu ia juga kembali berucap dalam bahasa Indonesia, sehingga pria dihadapannya mengernyikan dahinya lagi.
"Dengar, aku tidak mengerti arti dari bahasa alien yang kau ucapkan tadi. Tapi yang jelas aku tidak akan bertindak bodoh dengan memberi ganti rugi pada penipu seperti dirimu."
"Aku memang sedang dalam kesulitan keuangan saat ini. Tapi bukan berarti aku mau bila harus menipu orang lain. Aku tidak sehina yang kau piki-"
Winda menghentikan ucapannya begitu ia melihat butiran-butiran kecil berwarna putih yang berjatuhan dari atas langit Seoul yang gelap.
Itu salju.
Seakan hal yang dilihatnya adalah keajaiban, Winda memandang takjub ke arah salju yang berjatuhan. Ini adalah kali pertama bagi Winda melihat salju secara langsung. Biasanya ia hanya bisa melihatnya di dalam layar tv saja.