Mr. CEO & ME

Mr. CEO & ME
Prolog 1-A Fangirl



Jakarta, Indonesia


Fajar masih belum terbit saat Winda Khairani, seorang gadis yang memiliki rambut ikal sebahu dengan mata bulat dan kulit kuning langsat yang sangat khas Asia sedang menulis surat di sebuah kamarnya yang berukuran kecil yang penuh dengan poster berbau Korean Wave mulai dari poster girlband, Boyband, Aktor dan Aktris Korea, bahkan terdapat juga poster Yoo Jaesuk presenter sekaligus komedian terkenal asal Korea Selatan yang terpampang di banyak sudut dinding kamarnya.


*****


Untuk keluargaku tercinta


Ayah, Ibu maaf karena aku pergi tanpa pamit. Aku tahu bahwa kalian pasti akan sangat khawatir saat membaca surat ini nanti. Aku tahu bahwa selama ini aku hanya bisa membuat masalah, aku selalu saja membuat kalian kewalahan dengan ulah cerobohku. Tapi jangan terlalu mencemaskanku! Aku sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku sendiri dengan baik nanti. Aku sudah mempertimbangkan tindakanku ini dengan sangat baik sebelumnya.


Ah iya, Ibu jangan memasukan terlalu banyak garam saat memasak! Pikirkan tentang ayah, ia pasti sangat lelah karena harus bekerja keras seharian. Apa ibu tidak kasihan pada ayah yang harus memakan makanan itu saat dia pulang?


Ibu, ayah tunggulah, aku pasti akan menjadi anak yang mandiri dan bisa kalian andalkan nanti! Aku tidak akan menyusahkan kalian lagi. Aku akan membuktikannya pada kalian nanti. Jadi aku mohon jagalah kesehatan kalian!!


Dari putrimu yang selalu membuat masalah


Winda Khairani


******


Winda lalu meletakan surat itu di atas nakas setelah ia selesai menulis surat tersebut. Kemudian Winda memasukan satu persatu pakaiannya ke dalam tas pakaian berwarna navi dan menatap tiketnya yang terletak di atas nakas lama sebelum beranjak memasukannya ke dalam tasnya.


Setelah memastikan bahwa tidak ada satupun barang yang mungkin akan tertinggal, Winda lalu berjalan keluar dari dalam kamarnya sambil menjinjing tas pakaiannya dan juga sebuah ransel yang berwarna hitam pekat.


Ya, normalnya orang-orang pasti masih terlelap dan berada di alam mimpinya pada saat ini. Maklum saja, karena sekarang ini baru jam 3 pagi.


Winda lalu berbalik dan tanpa sengaja melihat ke ruang makan yang terletak dibelakang ruang tamu. Ia dapat melihat ruangan itu dengan sangat jelas karena tidak adanya pintu ataupun gorden yang menjadi sekat pembatas antara ruang tamu dan juga ruang makan. Terbayang dalam ingatan Winda saat ia dan keluarganya sedang makan malam bersama. Saat itu ayahnya tersedak sampai terbatuk-batuk karena menghirup kuah sayur asem buatan ibunya yang keasinan.


Winda lalu menuju pintu keluar dan segera berjalan menjauhi rumahnya. Winda sempat berbalik sejenak dan menatap rumahnya lagi untuk yang terakhir kalinya. Sebenarnya Winda ragu dengan tindakannya ini. Ia khawatir bahwa ia malah akan semakin membebani kedua orang tuanya nanti karena harus pergi dari rumahnya seperti ini.


Namun akhirnya Winda meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukannya saat ini sudah sangat-sangat benar. Winda lalu membalikkan tubuhnya dengan penuh keyakinan dan membulatkan tekadnya untuk pergi.


"Maafkan aku Ayah, ibu." ucapnya lirih sambil memejamkan kedua matanya.


Perlahan air mata yang sudah ia coba tahan sedari tadi akhirnya menetes membasahi kedua pipinya.


Ia menangis.


Tuhan, Ia benar-benar cengeng.


Bagaimana ia bisa bertahan menjalani kehidupan yang akan ia hadapi nanti jika begini saja ia sudah menangis? Kehidupan di luar sana nanti pasti akan jauh lebih keras dibandingkan saat ini. Jadi Winda tidak boleh cengeng lagi. Winda harus menjadi gadis yang tegar mulai dari saat ini.


******