
Pesawat yang ditumpangi Winda mendarat pada pukul 03.30 pm di Incheon international airport, Korea. Ini adalah pertama kalinya Winda naik pesawat terbang dan untungnya pesawat ini tiba dengan selamat.
Winda merasa lega karenanya, tadinya ia sempat ragu untuk pergi karena teringat bahwa akhir-akhir ini sering terjadi kecelakaan pesawat. Ia masih bisa mengingat dengan jelas berita yang ia tonton di tv yang menampilkan berita tentang jatuhnya sebuah maskapai penerbangan yang menelan banyak korban luka-luka dan bahkan korban jiwa.
Winda takut bila pesawat yang akan ia tumpangi nantinya juga akan mengalami hal yang sama. Winda tidak ingin mati dengan sia-sia. Ia bahkan sempat pergi dari bandara beberapa saat sebelum pesawatnya take off. Namun harapannya tentang hal baik yang mungkin saja akan terjadi padanya nanti jika ia melanjutkan niatnya untuk pergi ke korea membuatnya berpikir ulang.
Selama ini Winda merasa bahwa nasibnya sangat jauh dari kata beruntung. Bahkan nasibnya bisa dikategorikan sangat buruk. Tapi mungkin saja kali ini Dewi Fortuna akan memihaknya dan jika ia tidak pergi, itu berarti ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan tuhan untuknya.
Ya, tidak ada yang akan tahu apa yang terjadi, bukan? Maka dari itu, akhirnya Winda memutuskan untuk tetap pergi dengan membawa harapan yang sangat besar bahwa nasib baik akan menghampirinya.
Sekarang sudah masuk bulan desember. Musim gugur di Korea sudah hampir berakhir dan akan segera berganti dengan Musim dingin. Winda jadi membayangkan akan melihat salju turun. Winda bahkan sudah membayangkan akan membuat boneka salju yang mirip seperti ollaf nanti. Ia juga ingin melakukan ice skating nanti. Duh, Winda jadi semakin tidak sabar ingin melihat salju nanti.
Semua penumpang pesawat bergerak turun dari pesawat, tak terkecuali Winda yang bergegas berjalan keluar dari pesawat. Angin dingin berhembus begitu ia melewati celah antara badan pesawat dan gate hingga membuat tubuhnya menggigil. Kebetulan saat ini ia mengenakan mini dress tanpa lengan, sehingga udara dingin ini terasa semakin dingin seakan-akan menusuk tulangnya.
Suhu udara di sini benar-benar sangat rendah. Jika tau akan sedingin ini, Winda pasti akan memakai pakaian yang lebih tebal tadi.
Winda masih belum bisa mempercayai sepenuhnya bahwa ia benar-benar berada di Korea saat ini. Tapi keberadaan orang-orang bermata sipit yang berlalu lalang di hadapannya, tulisan-tulisan yang di buat menggunakan huruf hangul,dan tentu saja orang-orang yang bicara menggunakan bahasa Korea dengan sangat fasih, membuat Winda yakin bahwa ini bukanlah mimpi.
"Heol, daebak! Ini benar-benar Korea." Winda terdiam sejenak melihat pemandangan yang dapat ditangkap oleh kedua retina matanya itu.
"YEAH! AKHIRNYA AKU TIBA DI KOREA! YOOHOO!" teriak Winda dalam bahasa Indonesia tiba-tiba dengan girangnya sambil membentangkan kedua tangannya selebar mungkin.
Teriakan Winda tadi sukses membuat orang-orang di sekitarnya yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing mengernyitkan dahi dan menatap Winda dengan heran. Winda yang menyadari tatapan aneh dari orang-orang yang di tujukan padanya segera menundukan kepalanya dengan malu.
"Astaga, apa yang sudah ku lakukan?!" Seketika ia menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Ia sangat malu, sampai ia rela jika seandainya bumi menelannya tanpa sisa saat ini juga.
"Aish, memalukan sekali!" teriak Winda dengan frustasi dan masih menggunakan bahasa Indonesianya sambil berlari menjauhi tempat itu sejauh mungkin agar tidak terlihat lagi oleh orang-orang tadi.
Jika saja ini masih di Indonesia, orang-orang pasti akan menyebutnya cewek alay atau mungkin cabe-cabean? Winda tidak tahu apa di Korea juga ada sebutan seperti itu. Tapi semoga saja tidak ada.