
"Aduh ... sakit sekali ...." Winda meringis begitu lututnya yang tertutup plester tanpa sengaja terkena ujung meja.
Winda duduk sambil bersila di atas lantai yang terbuat dari kayu. Di hadapannya terdapat sebuah meja kecil dengan kaki meja yang tidak terlalu tinggi, khas meja tradisional korea. Ia mengenakan pakaian lengan pendek berwarna abu-abu dengan lengan baju berwarna jingga. Sedangkan bawahan yang ia kenakan adalah celana pendek berwarna senada dengan lengan bajunya.
Saat ini ia berada di sebuah jjimjilbang. Sebenarnya tempat ini hanya untuk pemandian saja, tapi berhubung jjimjilbang ini buka selama 24 jam, jadi di sini juga diperbolehkan untuk menginap. Biayanya juga relatif murah jika dibandingkan dengan biaya menginap di hotel.
Seharusnya kemarin ia langsung menginap di sauna saja begitu ia sampai di Seoul. Winda merasa agak bodoh sekarang karena baru terpikir untuk menginap di sini, setelah ia menghabiskan uang sebesar 5.000 Won dalam semalam, terusir dari hotel, kemudian berakhir dengan tertabrak oleh si pria kasar yang tidak memiliki sedikitpun rasa tanggung jawab maupun empati. Pria itu bahkan menuduh Winda hendak menipunya. Padahal kejadian itu memang murni kecelakaan semata. Lutut Winda bahkan masih terasa sakit akibat ulah pria itu.
Winda tidak mengerti dengan cara berpikir pria itu. Memangnya dia pikir akan ada orang yang otaknya cukup waras yang rela tertabrak mobil hanya demi uang kompensasi yang tidak seberapa jumlahnya. Bukan maksud Winda mengganggap bahwa uang itu tidak penting, hanya saja luka yang akan didapat jika melakukan tindakan tidak terpuji itu mungkin tidak sebanding dengan jumlah uang yang diperoleh.
"Em, ini enak sekali." Ahjuma di dekat Winda bersuara.
Seketika Winda menghentikan lamunan tidak bergunanya dan beranjak memerhatikan ahjuma yang sedang makan telur rebus di sampingnya. Ahjuma itu membuka telur dengan cara memukulkan cangkang telur ke kepalanya. Lalu dia memakan telur itu dengan sangat lahap.
"Oh, kelihatannya itu enak sekali." Winda bergumam singkat sembari memegangi perutnya yang kelaparan. Seharian ini Winda belum sempat makan apapun. Terakhir kali ia makan adalah kemarin malam dan itupun hanya sebungkus roti saja.
Tuhan, tak bisakah kau mengirimkan seseorang yang baik hati yang mau membagi sedikit saja makanannya pada Winda. Winda lapar sekali saat ini, Tuhan. Perut Winda berbunyi, sehingga membuat Winda merasa malu pada orang-orang disekelilingnya yang kini memandanginya dengan iba. Tapi walaupun begitu tidak ada satupun orang yang berinisiatif untuk memberikan makanannya pada Winda.
Ironis sekali, bukan?
Ya, tuhan. Bagaimana ini? Tidak mungkin, jika Winda harus terus menahan rasa laparnya? Yang ada nanti Winda bisa pingsan disini.
Winda merebahkan tubuhnya ke lantai sauna yang terbuat dari kayu. Ia meringkuk seperti janin yang lemah dan tak berdaya yang hanya bisa menunggu asupan gizi dari ibunya.
Penyamaan itu sepertinya kurang sesuai mengingat keadaan Winda saat ini lebih memprihatinkan. Karena saat ini Winda hanya dapat menahan rasa laparnya sambil memegangi perutnya. Tidak ada seseorang yang bisa ditunggunya untuk memberikan bantuan. Winda juga sudah menyerah untuk mengharapkan bantuan. Saat ini ia hanya berharap bahwa ia tidak akan mati karena tidak makan selama 1 hari.
Semoga saja ia bisa tidur dengan nyenyak malam ini dan terbangun dalam kondisi yang sangat segar besok pagi. Karena besok ia akan berusaha mencari pekerjaan.
Winda tidak akan terlalu pilih-pilih. Apa pun jenis pekerjaannya nanti Winda akan melakukannya. Entah itu tukang cuci piring, kurir paket, pengantar susu, pengantar makanan, penjaga minimarket, atau apapun itu, terserahlah. Winda akan tetap melakukannya.
Ya, kecuali menjual tubuh pada pria hidung belang dan menjual organ tubuh tentunya. Winda belum seputus asa itu untuk saat ini.
*****
**Jjimjilbang : Sauna/tempat pemandian umum
Ahjuma : Bibi/ tante/mbak**