
"Apa ini Seonsoo Milk? Bagaimana kalian bisa merekrut makhluk semacam ini?" tanya pria itu begitu panggilannya telah terhubung.
"PAK!!!"
Winda berteriak dengan putus asa, berharap pria dihadapannya akan mengerti keadaannya yang sedang di ambang kehancuran. Namun sayang, respon pria itu tidak seperti yang diharapkan Winda. Alih-alih menutup panggilan, pria itu malah menatap Winda sambil menyunggingkan senyum sinisnya.
"Pelayanan kalian buruk sekali. " ucap Pria itu pada orang di seberang telepon.
Berakhir sudah.
Winda pasti akan dipecat.
Pria itu masih berbicara dengan orang di seberang teleponnya. Namun Winda tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang ia bicarakan. Winda terlalu sibuk memikirkan betapa sialnya ia hari ini.
Di pecat di hari pertama bekerja. Ini benar-benar buruk. Nasib Winda sangat jauh dari kata beruntung. Begitu pula dengan hari ini. Dia benar-benar sial karena salah satu pelanggannya di hari pertama ia bekerja adalah pria dihadapannya ini. Pria menyebalkan dan tidak berperasaan. Pria yang dengan seenaknya saja melaporkan semuanya pada bos Winda tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi pada Winda karena ulahnya.
"Hei kau!" Pria itu menyodorkan ponselnya pada Winda. "Atasanmu ingin berbicara denganmu." lanjutnya.
"Yeoboseyeo."
"Hei, bedebah kecil!"
Bentakkan bosnya di seberang telepon membuat Winda berjengit kaget dan refleks menjauhkan telepon dari telinganya.
"Memangnya kau pikir kau siapa, huh? Beraninya kau membuat masalah dengan pelanggan"
"Maafkan saya, pak."
"Aigoo, bagaimana bisa kau terlambat dan membuat masalah tepat di hari pertama kau bekerja."
"Maafkan saya, pak. Saya menyesali perbuatan saya."
"Aku yang lebih menyesal! Ah, kenapa juga aku harus mempekerjakanmu."
"Saya menyadari kesalahan saya, pak dan untuk itu saya minta maaf. Tapi saya harap anda dapat mengerti bahwa saya-"
"Jangan beralasan! Cepat minta maaf pada pelanggan kita!" perintah bosnya.
Winda melirik pria itu yang berdiri beberapa langkah darinya. Pria itu menyadari bahwa ia sedang diperhatikan, sehingga ia langsung menatap tajam ke arah Winda.
Melihat bagaimana kelakuan pria itu membuat Winda sangat yakin bahwa dia tidak akan memaafkan Winda.
Dan itu artinya Winda benar-benar selesai sampai disini.
Ia. Akan. Dipecat.
Winda menekankan tiga kata itu di kepalanya. Oh tuhan, Winda jadi frustasi karena memikirkannya.
"HEI, SUDAH KAU LAKUKAN BELUM?"
Winda hampir terlonjak saking kagetnya ia saat mendengar bentakan bosnya di seberang telepon sana.
"Ah, iya. Ini akan saya lakukan, pak."
"Cepat selesaikan itu dan setelahnya segeralah kemari!"
Bosnya menutup panggilan itu dengan cepat sehingga Winda tidak sempat mengucapkan apa-apa lagi setelahnya. Winda menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Saya minta maaf, pak."
Winda meminta maaf pada orang di hadapannya.
Walaupun bosnya menyuruhnya kembali, tapi Winda menyadari bahwa ia masih akan tetap di pecat. Bosnya hanya menyuruhnya kembali untuk memarahinya saja. Meskipun begitu, Winda tetap melakukan apa yang diperintahkan bosnya.
Pria itu hanya diam dengan wajah datar tanpa ekspresinya seakan ia tidak mendengar apa yang baru saja di ucapakan Winda. Ia hanya mengulurkan tangannya untuk mengambil kembali ponselnya yang saat ini sedang di genggam oleh Winda.
Baiklah, terserah dia mau memaafkan Winda atau tidak. Winda tidak peduli. Yang penting ia sudah meminta maaf, dan semua urusan mereka selesai sampai disini.
Setelah itu Winda segera pergi dari sana dengan sepedanya. Winda sudah tidak peduli lagi dengan wajah tampan pria itu yang tadi sempat dipuja-pujanya. Ia sudah tidak tahan jika harus lebih lama lagi berada disana.
Kelakuan pria itu benar-benar menyebalkan, sangat berbeda dengan penampilannya yang membuat Winda merasa seakan ia tengah berada di surga firdaus.
*****
Yeoboseyo : Halo (Salam yang diucapkan saat berkomunikasi menggunakan telepon)