Mr. CEO & ME

Mr. CEO & ME
Part 3-Hotel



Winda sedang duduk di halte bus menunggu kedatangan bus yang menuju Seoul. Tadinya ia ingin naik kereta bawah tanah saja, tapi semua rencananya jadi kacau balau karena ia sudah terburu-buru lari dari airport tadi. Ah, jika saja insiden memalukan tersebut tidak pernah terjadi, mungkin saat ini Winda sudah hampir sampai di Seoul. Winda sebenarnya agak kesal karena tidak bisa naik kereta bawah tanah, tapi di sisi lain ia juga merasa lega karena telah berhasil pergi sejauh-jauhnya dari sana dan semoga saja tidak akan ada orang yang akan mengingat wajahnya.


Winda menyesal sudah menonton film Train to Busan. Gara-gara film itu Ia jadi agak takut kalau nanti akan ada pasukan zombie yang menyerang kota. Tokoh utama film itu selamat karena naik kereta bawah tanah. Dan itulah alasan mengapa Winda lebih memilih naik kereta bawah tanah daripada bus. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Pengasih dan Maha Penyayang agar ia bisa tiba di Seoul dengan selamat tanpa ada hambatan apapun.


Ia sungguh menyesali tindakan konyol bin kampungan yang dilakukannya tadi. Kalau di ingat-ingat lagi tindakannya tadi memang sangat berlebihan sih, tapi Winda tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya begitu ia tahu bahwa Ia berada di Korea. Negara yang sudah sangat lama ingin dia kunjungi. Negara tempat oppanya berada.


Ya, Winda adalah seorang fangirl dan reaksinya tadi adalah hal yang sangat lumrah untuk dilakukan oleh seorang fangirl tingkat akut sepertinya.


Tangan kanan Winda lalu bergerak membuka ranselnya. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan. Buku catatan itu berisi daftar tempat-tempat yang ingin ia kunjungi dan hal-hal yang ingin ia lakukan jika ia bisa pergi ke Korea. Ia membuat catatan itu saat ia masih duduk di kelas 11 SMA.


Winda lantas tersenyum saat mengingat bahwa dia menjadi bahan ejekan dulu saat salah seorang temannya tanpa sengaja melihat catatan itu. Kata mereka Winda terlihat seperti orang yang sedang bermimpi di siang bolong. Mereka meremehkanya dan menyebut bahwa impian Winda tidak lebih dari sekedar pungguk yang merindukan bulan. Tapi lihat, Winda benar-benar berada di Korea sekarang dan semua ini bukan hanya khayalannya saja. Ia tidak sedang bermimpi sekarang. Semua ini adalah nyata.


Selesai berkutat dengan kenangan indahnya atau sebenarnya lebih pantas untuk disebut kenangan buruk, Winda memperhatikan keadaan di sekitarnya.


Ada seorang wanita yang duduk di sebelah Winda. Wanita itu juga pasti sedang menunggu bus seperti dirinya. Tidak mungkin bukan, jika yang ditunggunya adalah Bajaj?


Winda kembali melirik wanita di sampingnya. Wanita itu sedang membaca majalah fashion.


Wanita itu memiliki garis wajah halus dan lembut yang membuatnya terkesan feminin.


Dia kelihatannya ramah, jadi Winda memberanikan diri untuk memulai percakapan dengannya.


"Anu, per ... per ... misi ... ehh ... itu ...." Winda mencoba bertanya dalam bahasa Korea. Tapi lidahnya seketika menjadi kelu hingga ia hanya bisa mengucapkan kata-kata yang terdengar absurd.


Wanita itu menoleh dan menatap Winda bingung. "Apa anda berbicara denganku?" tanya wanita itu sambil mengacungkan jari pada dirinya sendiri.


"Ada apa?" lanjutnya setelah pertanyaan yang ia tanyakan sebelumnya hanya di jawab anggukan oleh Winda.


"Ah begini, aku... ke... kenalkan aku..." lanjut Winda yang membuat wanita di sampingnya semakin heran dengan tingkah aneh Winda.


"Sebenarnya kamu mau bilang apa sih? Katakan saja!" tanya wanita di sampingnya yang mulai kesal.


"Ah... Anu... itu... Se... sebenarnya ak-" belum sempat Winda menyelesaikan kalimatnya wanita di sampingnya tadi sudah berdiri dan memasuki bus yang baru saja tiba.


"Ah, tunggu dulu!"


Winda mencoba mencegah wanita itu. Namun bus yang di naiki wanita tadi sudah terlanjur melaju yang membuat Winda merutuki kebodohan yang telah dia perbuat tadi.


Winda tidak habis pikir bagaimana dia bisa tergagap seperti tadi. Padahal biasanya dia dapat berbicara dengan sangat fasih, seakan-akan ia memang orang korea asli meskipun ia hanya belajar secara otodidak.


"Hai! Kenalkan namaku Winda Khairani." ucap Winda yang sudah duduk lagi di bangku halte dengan sok imut sambil menatap cermin kecil yang dipegangnya. "Oh, astaga ini terlalu lebay." rutuk Winda pada dirinya sendiri setelah ia menyelesaikan kalimatnya.


Winda lalu mengulanginya lagi,


Kali ini ia berbicara dengan nada seakan sedang mencoba menggoda seseorang. Jangan lupakan juga kerlingan genitnya yang ia lakukan setelah menyelesaikan ucapannya.


"Annyeonghaseyo, Namaku Winda. Senang sekali bisa berkenalan denganmu."


Orang-orang yang lewat menatap Winda dengan pandangan horor, terlebih seorang anak kecil yang langsung menangis dengan kencang seakan-akan ia baru saja melihat hantu.


"Aigoo, kenapa mereka membiarkan orang gila berkeliaran di tempat umum seperti ini?" rutuk ibu anak tadi sambil membawa anaknya pergi menjauhi Winda.


*****


Winda melompat-lompat di atas tempat tidurnya yang empuk begitu petugas hotel yang mengantarkannya tadi pergi dari ruangannya. Rasanya sangat menyenangkan.


Saat ini Winda menginap di salah satu hotel di daerah Dobong-dong. Ini adalah hotel paling dekat dan paling murah yang bisa ia temukan di sekitar sini. Sekarang Winda sudah berada di kota Seoul. Winda tiba di kota ini pada pukul 05.30 kst dan ia memutuskan untuk menginap di hotel ini setelah memikirkannya selama kurun waktu hampir 1 jam.


Hal itu bukan tanpa alasan, tadi Winda sampai ternganga mendengar biaya reservasi hotel. Bayangkan saja hanya untuk satu malam menginap di tempat ini Winda harus mengeluarkan uang sebesar 5.000 Won. Biaya yang terlalu mahal bagi Winda yang pergi ke Korea hanya bermodalkan uang tabunganya yang jumlahnya tidak seberapa.


Tapi hari sudah mulai gelap dan tidak mungkin bila Winda harus tidur di jalanan. Apalagi di negara orang seperti ini. Jadi keputusan yang diambil Winda saat ini sepertinya sudah sangat tepat. Lagipula uang yang dikeluarkan Winda sangat sepadan dengan fasilitas yang ia dapatkan.


Kamar hotel yang ditempati Winda memiliki sebuah televisi berukuran 23 Inchi, ranjang berukuran king size,dan dilengkapi Ac serta kamar mandi. Winda sudah mengecek kamar mandinya tadi. Ya meskipun hanya sekedar melihat-lihat saja. Winda belum sempat mandi tadi. Ia hanya ingin memastikan kebersihan kamar mandinya saja. Dan hasilnya kamar mandinya ternyata sangat bersih.


Fasilitas yang disediakan hotel ini benar-benar bagus. Winda jadi berpikir bagaimana fasilitas kamar vip-nya jika kamar dengan kualitas reguler saja fasilitasnya sudah sebaik ini.


Memikirkan tentang Kamar hotel ini membuat Winda teringat kembali uang yang sudah dihabiskannya. Ya lord, meskipun ini hanyalah kamar medium tapi harganya sungguh mahal. Tubuh Winda seketika jadi lemas karena menyadari bahwa uangnya pasti akan habis dalam hitungan hari saja.


Ia harus mendapatkan pekerjaan secepatnya atau akan ada berita di surat kabar tentang imigran asal Indonesia yang menjadi gelandangan di Seoul. Hal itu sepertinya sangat tidak lucu bukan?


Oh, tidak!


Winda jadi merinding karena memikirkannya. Itu terdengar sangat mengerikan. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat seluruh bulu kuduk Winda berdiri.


Perut Winda berbunyi menandakan bahwa cacing di perutnya sedang melakukan aksi demo meminta agar segera diberi asupan gizi. Sepertinya semua pemikirannya tadi tidak hanya menguras pikirannya, melainkan juga tenaganya.


Untunglah Winda masih mempunyai satu bungkus roti coklat. Winda membawa 3 bungkus roti coklat dari Indonesia. Dua bungkusnya sudah ia makan tadi sore di dalam bus.


Winda meraih tas ranselnya yang terletak di atas nakas dekat ranjangnya dan mengambil sebuah roti coklat dari dalamnya. Lalu ia memakan roti coklat itu dengan lahap.


Ah, Winda jadi teringat ayah dan ibunya. Apa mereka sudah makan ya? Saat ini mereka pasti sangat cemas memikirkan keberadaan Winda. Winda jadi khawatir bahwa orang tuanya lupa makan karena terlalu mengkhawatirkannya.


Memikirkan hal ini membuat Winda merasa bersalah karena sudah kabur dari rumah dan meninggalkan kedua orang tuanya. Tanpa sadar air mata menetes membasahi pipi Winda. Winda memakan rotinya sambil menangis.


Ya tuhan, Winda benar-benar anak yang durhaka.


Bagaimana jika tuhan akan menghukumnya nanti karena ia sudah sangat durhaka pada kedua orang tuanya? Winda jadi takut sekarang, tapi semoga saja hal itu hanyalah kecemasan Winda saja. Semoga saja itu tidak akan menjadi nyata.


Ya, benar. Tuhan tidak akan pernah menghukumnya karena hal ini!


Winda hanya terlalu paranoid!


Winda meyakinkan dirinya sendiri dan mengusap air matanya. Winda lalu lanjut memakan roti coklat yang rasanya jadi sedikit asin karena terkena tetesan air mata Winda, sebelum akhirnya rasa kantuk menderanya dan membuat Winda tertidur pulas secepat kilat. Hal itu mungkin terjadi karena ia terlalu kelelahan, padahal ia belum mandi tadi.


Oh, jika saja ibunya tau bahwa ia tidur dalam keadaan menjijikan seperti ini, ibunya pasti akan mengomelinya habis-habisan dan menjewer telinganya. Ibunya tidak akan berhenti sampai telinga Winda menjadi sepanjang telinga keledai, seperti yang biasa ia lakukan saat Winda melakukan hal-hal yang tidak lazim lainnya.


******


Daebakk : Mengagumkan, menakjubkan, hebat.


Annyeonghaseyo : Hai, halo, apa kabar, selamat siang.