Misunderstanding

Misunderstanding
Bab 8 (Pertemuan Kembali)



Di lain tempat nampak seorang pemuda sedang duduk di salah satu bangku penumpang pesawat, hari ini dia memutuskan terbang ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya, dia adalah Aprilio


Setelah berpikir keras akhirnya Aprilio memutuskan untuk pindah ke Jepang sekalian mengunjungi neneknya yang berada di negri matahari terbit itu


Dia ingin menenangkan pikirannya yang masih selalu terbayang akan sosok Febri, gadis yang selama ini dia cintai namun hidupnya harus berakhir tragis karena kekejaman sahabatnya sendiri


Aprilio marah pada takdir, dia marah pada dirinya yang tidak bisa menjaga Febri dan dia juga sangat marah bahkan dendam dengan Mareta yang telah membunuh cinta pertamanya, dia bahkan bersumpah akan membalaskan dendam Febri kepada Mareta suatu hari nanti


“Ok, mari kita tunggu waktu bermainnya girl” ujar Aprilio dengan seringai menakutkan


4 Tahun kemudian


Seorang gadis cantik sedang berjalan menelusuri trotoar langkahnya nampak gontai, dengan keringat yang sejak tadi membanjiri tubuhnya, pakaiannya yang awalnya rapi kini nampak lusuh


Sejak pagi ia sudah mengelilingi kota Jakarta yang amat luas untuk mencari pekerjaan namun hingga siang menjelang dia sama sekali belum mendapatkan pekerjaan


Kini langkahnya kembali terhenti di depan sebuah gedung kantor yang nampak sangat besar


“Elegant Group” ujarnya lirih membaca tulisan besar yang terpajang di depan gedung itu


Setelah menetralkan perasaan deg-degannya Mareta pun melangkah masuk ke dalam gedung itu


“Bismillah”


“Selamat siang mba” ujarnya ramah kepada resepsionis


“Iya siang, ada yang bisa saya bantu” jawab sang resepsionis tak kalah ramah


“Maaf mba saya ingin bertanya. Apa betul disini sedang di buka lowongan pekerjaan”


“Iya, mba bisa langsung ke ruangan HRD untuk mengikuti seleksi”


“Terima kasih mba” ujarnya dan di jawab dengan senyum ramah oleh sang resepsionis


Saat akan berbalik badan Mareta tak sengaja menabrak tubuh kekar seseorang


“Ma-Maaf pak, maaf saya tidak melihat anda” ujar Mareta gugup sambil menundukkan kepalanya


“Makanya lain kali kalo jalan itu pake mata, kalo matanya gk di pake mending buta aja” sewot pria tersebut


“Dimana mana itu orang jalan pake kaki” Dalam hati Mareta menggerutu sndri namun sedetik kemudia dia merasa tidak asing dengan suara pria tersebut dia segera mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya ia saat tau orang yang ia tabrak ternyata


“L-LIO” teriak Mareta membuat semua mata karyawan tertuju padanya


Aprilio pun tak kalah terkejutnya namun dia masih bisa mengendalikan raut wajahnya agar tetap datar


“Ka-kamu kemana aja? Selama ini aku nyar-“ belum selesai ucapan Mareta namun Aprilio malah meninggalkannya


“Huftttttt….masih sama y? Aku belum di maafin ternyata” monolog Mareta sambil tersenyum getir


“Oke, fokus ke tujuan awal” batinnya kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda


Sementara di tempat lain


“Stev, saya mau kamu cari tau kenapa perempuan tadi ada di kantor saya”


“Secepatnya!”


“Baik pak”


Di ruang HRD\~


“Jadi kamu ingin mendaftarkan diri?” Tanya sang HRD bername tag Nita Raharja


“Iya bu”


“Oke, pertama-tama sa-“


KRING…..KRING


“Maaf. Tunggu sebentar saya angkat dulu”


“Hallo pak”


“…………”


“Baik pak”


“Oke, kamu sudah boleh bekerja di sini mulai besok”


“Ta-tapi bu, bahkan saya belum mulai sesi interview nya”


“Saya hanya mengikuti perintah dari atasan dan kamu di minta untuk bekerja mulai besok”


“Selamat bergabung” ujar Nita sambil mengulurkan tangannya


Keesokan harinya\~


“Maaf, ini mba Mareta y” tanya salah satu OB saat melihat kedatangan Mareta di kantor


“Iya mba, ada apa y?”


“Ini mba, saya di suruh sama bu Nita untuk memberikan seragam ini untuk mba Mareta” sambil menyodorkan paper bag berwarna merah yang sejak tadi di pegang nya


“Ta-tapi ini kan seragam OB”


“Astaga Mareta maaf sekali kemarin saya lupa memberitahumu bahwa kamu di tempatkan sebagai OB” ujar Nita yang tiba-tiba muncul di antara keduanya


“Dan kenalkan ini Mayang kepala OB d kantor ini jadi dia atasan kamu” lanjutnya lagi


Mareta nampak terkejut dengan kalimat Nita


“Huftttt gapapa Ta, yang penting kamu udh dapat kerjaan yang halal” batin Mareta


Setelah berganti pakaian Mareta mulai mengerjakan semua tugasnya yang telah di berikan oleh Mayang


“Ta, setelah mengepel tolong kamu buatkan 2 cangkir kopi dan antarkan ke ruang ceo y” ujar Mayang memberi perintah


“Baik bu”


“Eh gausah panggil ibu saya ngerasa ketuaan, panggil mba aja kayak tadi”


“Iy-iya mba Mayang”


Mareta merasa bersyukur setidaknya di kantor ini dia mendapatkan rekan-rekan kerja yang sangat baik. Tidak di penuhi oleh karyawan julid seperti di novel-novel yang biasa di bacanya


Selesai membuat kopi Mareta segera melangkah ke ruang CEO, dia nampak gugup karena ini hari pertamanya bekerja dan dia belum pernah bertemu dengan atasannya tersebut dia hanya takut membuat kesalahan yang mengakibatkan sang atasan marah.


Sebelum mengetuk pintu Mareta menarik nafas dalam untuk mengurangi kegugupan nya


TOK….TOK….TOK


“Masuk”


Setelah mendengar perintah dari atasannya Mareta segera membuka pintu ruangan tersebut


“Permisi pak, ini kopi nya” ujar Mareta sambil meletakan 2 cangkir kopi tersebut di atas Meja


“Gila Li, lo kenapa gk pernah cerita kalo di kantor lo ada OB secantik ini” Ujar pemuda yang sedang duduk di sofa sambil terus memperhatikan Mareta yang sejak tadi menunduk


Ucapan salah satu pria di ruangan itu membuat Mareta semakin gugup bahkan jari-jari nya nampak gemetar, untung saja kopi yang di bawa sudah berhasil di letakkan di meja tanpa ada yang tumpah setetes pun


Selain gugup, pipi Mareta juga nampak memerah mendengar pujian pria tampan tersebut, Mareta tertunduk malu menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus itu


“Kalo gue tau dari dulu aja gue sering mampir ke kantor lo gk pake acara paksa-paksaan segala” lanjutnya lagi


“Arjun…. Arjun, modelan ****** kek gitu apa bagusnya” kekeh pria yang sedang duduk di kursi direktur


Mendengar suara yang tidak asing itu Mareta segera mengangkat kepala nya dan dia sangat terkejut ternyata lelaki yang menyebutnya ****** tadi adalah


“Li-lio” ujarnya lirih dengar air mata yang tiba-tiba menetes


“Ck, lo masih aja kasar sama cewek” tegur pria yang bernama Arjun tersebut


“Faktanya dia emang ****** MURAHAN” sambil menekan kata terakhirnya


“Upsss lupa semua ****** kan emang murah” lanjutnya lagi kini dengan tampang dingin dan datar


“Oh iya bukan cuma ****** tapi dia juga pembunuh sahabatnya sendri jadi gue saranin mending lo jauh-jauh dari cewek ini takutnya lo juga di bunuh sama dia jangan ketipu sama tampang polosnya, itu cuma topeng” hinaan Aprilio semakin membuat hati Mareta sakit


“Maaf pak saya permisi” pamit Mareta karena sudah tak mampu lagi menahan air matanya


.


.


.


TBC❤️‍


“Kita kembali di pertemukan oleh takdir tapi dengan versimu yang berbeda. Sinar mu redup tak secerah dulu lalu bagaimana aku bisa meminta sedikit sinarmu jika kau saja kekurangan cahaya”


\~Mareta


Warning!


Next Part kita spill visual ya Luv🫶🏻