
\~masih flashback
Kini tibalah Mareta di salah satu makam yang bertuliskan nama Bundanya, makam itu cukup terawat dan ada taburan bunga yang mulai mengering di atasnya mungkin salah satu penduduk kampung telah datang berziarah
“Hiksss… bunda, kenapa bunda ninggalin Eta hiksss… Bunda gk sayang Eta lagi ya?… Atau bunda malu punya anak seorang pembunuh, makanya bunda pergi jauh” Mareta mulai terisakan di atas pusara sang bunda dirinya sangat merindukan sosok bundanya
Dengan sesenggukan Mareta membuka surat yang tadi di berikan bu Ayu padanya
\~Teruntuk anak Bunda tersayang
Eta kalo nanti kamu baca surat ini mungkin bunda sudah gk ada lagi di samping kamu. Mungkin bunda sudah pergi jauh tapi kamu jangan sedih ya sayang karena bunda pasti akan selalu mengawasi kamu.*
Eta bunda minta maaf ya belum bisa jadi bunda yang baik buat Eta, sering berantem sama ayah di depan Eta, sering bikin Eta nangis diam-diam kalo malam karena dengar pertengkaran kami. *
Bunda minta maaf ya sayang, maafin ayah kamu juga ya dia gk salah nak memang sejak awal bunda yang salah ambil keputusan, bunda mohon jangan sampai kamu membenci ayahmu apapun sebabnya.*
Dia memang hanya korban dari rasa obsesi bunda, dia menikahi bunda hanya karena jebakan yang bunda ciptakan sehingga kamu pun hadir karena kesalahan itu. Bunda tidak pernah marah dengan ayahmu walau sekejam apapun kalimatnya karena bunda tau, bunda yang salah*
Eta bunda sakit sayang, bunda sudah tidak bisa lagi berjuang menahan rasa sakitnya kepala bunda tiap kali penyakit bunda kambuh. Mungkin saat kamu baca surat ini kamu juga sudah tau apa penyakit bunda. Bunda pamit ya Ta, bunda minta maaf karena menyerah, bunda minta maaf karena ninggalin Eta terlalu jauh, bunda minta maaf belum bisa jadi bunda yang terbaik.*
Jaga diri baik-baik ya Ta, dunia terlalu kejam terhadap orang-orang lemah seperti kita, dunia boleh jahat tapi kita jangan ikut menjadi jahat. Ingat untuk selalu berbuat baik pada siapa pun*
\~ Peluk sayang dari Bunda untuk putri bunda yang paling cantik. Love u
“Bunda adalah bunda terbaik untuk Mareta hiksss… Mareta sayang banget sama bunda hiksss” ujar Mareta sambil memeluk batu nisan sang bunda
\~Flashback off
Mareta terbangun dari tidurnya, bantalnya basah karena air mata. Dia kembali mengingat hari berduka itu dalam mimpinya, setelah cukup tenang Mareta segera bangkit dari kasurnya kemudian melangkah menuju kamar mandi
jam masih menunjukkan pukul 05.37 tapi Mareta sudah sibuk di dapur bersama beberapa pelayan lain, setelah melaksanakan sholat subuh dia bergegas membantu membuat sarapan karena sekarang itu adalah tugasnya sebagai seorang istri
“udah, non duduk aja ya! Biar Bibi yang kerjain”
“Gk apa-apa Bi biar aku bantu, ini kan juga tugasku sebagai istri”
Bi laras menyerah dia membiarkan Mareta untuk membantu, dengan senang hati Mareta pun mulai memasak.
Tak butuh waktu lama Mareta telah menyelesaikan masakannya. Mareta membuat nasi goreng untuk sarapan, aromanya harum hingga membangunkan sang tuan rumah
“Masak apa Bi? Aromanya harum sekali” tanya Aprilio yang baru saja keluar lift dari lantai 3 masih dengan baju tidur dan muka bantalnya
“Ini tuan, non Mareta masak nasi goreng wangi banget” puji Bi laras membuat pipi Mareta bersemu
“Oh” setelah mengatakan kata singkat itu Aprilio yang telah sampai di depan meja makan kembali memutar badannya menuju lift
Mareta menunduk, dia kembali sadar akan posisinya di rumah ini dia hanya istri tak dianggap
Beberapa saat kemudian Aprilio kembali muncul, kini ia telah rapi dengan setelan jas dan jangan lupakan wajah tampan nya yang membuat setiap wanita langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi sayang wajah itu selalu di hiasi dengan raut datar tanpa rasa.
“Bi buatkan saya kopi” pinta Aprilio sedikit berteriak
Selang beberapa menit kopi yang di pinta Aprilio telah berada di atas meja, Aprilio yang tengah fokus menatap hpnya pun beralih menatap orang yang mengantarkan kopi
”Teri….” Kalimat Aprilio terpotong saat melihat Mareta lah yang mengantarkannya kopi
”siapa yang nyuruh lo?” Tanya Aprilio sedikit membentak
“Aku sendri yang ma….. Ahkhh panas” ucapan Mareta tergantikan pekikan kepanasan karena Aprilio dengan sengaja menumpahkan kopi panas itu ke badan Mareta
“Lain kali kalo gue gk nyuruh lo jangan sok inisiatif. Paham?” Ujar Aprilio menekan setiap kalimatnya sambil mencengkeram kuat dagu Mareta
“Li… lio sa..sakit hiksss”
“Paham gk?” Tanya Aprilio lagi kini dengan suara yang lebih tinggi
“Iy…iya”
Setelah mendengar ucapan Mareta, Aprilio menghempaskan wajah Mareta lalu pergi menaiki mobilnya menuju kantor tanpa memperdulikan keadaan Mareta yang kulitnya mulai memerah karena terkena siraman kopi yang bahkan asapnya masih mengepul
“Ya Allah non, itu kulitnya udah mulai melepu sini bibi obatin ya” pekik panik Bi laras yang datang sambil membawakan salep. Dia mendengar dan melihat kejadian tadi tapi dia cukup takut untuk menegur tuannya itu karena Bi laras tidak ingin berbuat lancang
Mareta diam membeku sambil terus menatap pintu rumah Aprilio bahkan bi laras yang sedang mengobatinya tidak di perdukikan olehnya, hanya sesekali terdengar ringisan kecil dari mulutnya. Dia sangat syok dengan perubahan sikap Aprilio padanya
“Kamu belum memaafkan ku Li?” batin Mareta sedih
Matahari telah hilang dari peraduannya berganti bulan yang benderang di langit malam. Mareta tengah duduk di sofa ruang tamu menunggu Aprilio pulang dari kantor, makanan telah tersaji di atas meja. Mareta tak pantang untuk kembali mencuri hati Aprilio, di tolak sekali duakali tak berarti apa-apa untuknya
Deruman mesin mobil mulai terdengar, Mareta segera beranjak dari duduknya untuk menyambut kepulangan sang suami
“Sini tasnya biar aku yang bawa” ujar Mareta sembari menyentuh tas Aprilio
“Cih, gk usah gue masih punya tangan” tolak Aprilio mentah-mentah
“Dan gausah sok perhatian sama gue. Sadar diri, di sini lo itu gk lebih dari seorang yang hina”
Mareta tidak mengindahkan kalimat Aprilio dia tetap mengikuti langkah Aprilio sembari menawarkannya untuk makan bersama
“Lio kamu pasti belum makan kan? Kita makan dulu yuk, aku uduh masak ma…..”
“DIAM” bentak Aprilio memotong kalimat Mareta
“Lo budek Hah? Gue udah bilang stop sok perhatian sama gue, gue muak lihat muka lo” Aprilio menekan semua kata yang di ucapkan nya
Mareta terdiam menatap Aprilio dengan mata berkaca-kaca Aprilio pun juga menatapnya mereka saling bersitatap untuk beberapa saat hingga pandangan mata Aprilio beralih pada leher Mareta yang melepuh dia bisa langsung menebak itu pasti karena ulahnya tadi pagi. Namun Aprilio tetap lah Aprilio yang telah mati rasa terhadap Mareta, dia lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dari pada mengurusi hal tentang Mareta
Mareta mulai menangis sepertinya akhir-akhir ini dia sering sekali menangis, entah di mana Mareta yang tangguh dan tahan banting sekarang dia mendadak menjadi sosok Mareta yang lemah dan cengeng setiap berhadapan dengan Aprilio
.
.
.
“Memilihmu, mencintaimu, dan mendambakanmu adalah luka hati paling serius dan bodohnya aku masih bertahan, berharap suatu hari kau mau menerimaku kembali seperti hari dimana kau memintaku untuk menjadi sahabatmu dan aku juga berharap di hari itu kau tidak hanya memintaku menjadi sahabatmu tapi juga menjadi yang selalu menemanimu hingga tutup usia”
\~Mareta
🌷Terima kasih sudah berkenan mampir. Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca
Note: maaf ya luv baru up hari ini, karena lagi sibuk banget di kantor jadi waktu nulisnya itu dikit huhuhu
Tapi aku berharap kalian masih mau nunggu karya aku selanjutnya ya luv🫶🏻
Izin minta lope dan kalimat cintanya di kolom komentar juga ya biar aku semangat lagi nulisnya soalnya akhir-akhir ini notif sepi ayo dong kasih komen, saran kritik yang membangun. Aku tunggu (maksa:p)