Misunderstanding

Misunderstanding
Bab 11 (Tentang Bunda)



\~flashback 4 tahun lalu


Hari persidangan telah tiba, semua bukti telah dikumpulkan dan dari semua bukti yang di temukan pihak berwajib akhirnya telah memutuskan bahwa Mareta melakukan tindakan pembunuhan tidak di sengaja.


Namun dia tetap harus mendapatkan hukuman pidana dengan tuduhan pembunuhan tidak di sengaja yang di rumuskan dalam pasal 359 KUHP dengan hukuman pidana kurungan penjara paling sedikit satu tahun dan paling lama lima tahun.


Hakim pun memutuskan menjatuhkan hukuman 2 Tahun penjara kepada Mareta. Dia menerimanya dengan lapang dada setidaknya hukuman itu bisa sedikit mengurangi rasa bersalahnya.


Beberapa bulan di dalam penjara, Mareta bisa menyesuaikan diri dia bahkan sudah akrab dengan penghuni lapas yang sempat membullynya….


Karena berkelakuan baik Mareta pun mendapatkan pengurangan masa tahanan 1 tahun, itu artinya tinggal beberapa bulan lagi dia akan bebas.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan tak di rasa hari yang di nanti-nanti Mareta pun akhirnya tiba. Dia akhirnya bebas dari masa tahanannya… Dengan perasaan bahagia dan langkah yang ringan dia berjalan keluar lapas sambil sesekali menyapa penjaga lapas yang di lewati nya.


Kini dia telah sampai di depan rumah nya. Rumah itu tampak sepi walaupun memang selalu sepi namun kali ini terasa berbeda dia pun mencoba membunyikan bel rumah


Setelah beberapa kali membunyikan bel, akhirnya ada seseorang yang membuka pintu. Senyum Mareta hilang dia kembali mengecek nomor rumahnya, tidak salah ini memang rumahnya tapi kenapa malah orang asing yang membuka pintu. Seorang wanita seumuran bundanya dengan pakaian glamor dan makeup tebal yang membuka kannya pintu itu menatap nya dari atas sampai bawah


“Mau minta sumbangan?” Tanya wanita itu ketus


“Bukan bu, saya ma-“


“Oh mau melamar jadi Art?… Udah ada, art saya udah banyak” ujar wanita itu memotong kalimat Mareta


“Bukan bu, saya mau tanya apa betul ini rumah Bapak Hermansyah?”


“Iya betul, ada apa kamu nyari suami saya” tanya wanita itu semakin ketus saat nama suaminya di sebut


Mareta terkejut mendengar kalimat wanita itu tak terasa air matanya mulai menetes… Sejak kapan ayahnya menikah lagi? Dan dimana keberadaan bunda nya sekarang? Begitu banyak pertanya di benak Mareta saat ini.


Memang selama berada di dalam penjara orang tua Mareta sama sekali tak pernah datang menjenguk jadi dia tak pernah tau tentang keadaan orang tuanya


“Siapa yang datang Mir” tanya seorang laki-laki yang tidak asing bagi Mareta


“Kamu? Ngapain kamu ke sini Hah? Dasar pembunuh, kamu tidak malu menunjukkan muka kamu di depan saya? Saya saja malu mengakui kamu sebagai anak saya” Bentak laki-laki yang merupakan ayah Mareta itu


“Hah? Ini anak kamu mas? Aku kirain tadi gembel mau minta sumbangan” ejek istri baru sang ayah


“Ayah, itu semua kecelakaan aku bukan pembunuh” elak Mareta dengan terisak


“Tetap saja kamu sudah menghilangkan nyawa seseorang, saya tidak sudi rumah saya di datangi oleh seorang pembunuh”


“Hikss… Biar bagaimana pun aku masih anak ayah”


“Hikssss… aku masih darah daging ayah”


“Cih… Saya tidak pernah menganggap kamu sebagai anak saya, kamu hanya anak haram yang tidak sengaja lahir di dunia” Bentak Herman semakin meluap luap hingga tanpa sadar mengungkap sebuah fakta memilukan


Mareta terdiam, suara isakannya tidak lagi terdengar keadaan mandadak menjadi sunyi. Mareta tau sekarang alasan dirinya sangat di benci oleh ayahnya dan kenyataan bahwa ayahnya tidak pernah mencintai dia dan bundanya, ya mereka berada dalam satu keluarga hanya karena terpaksa.


Tanpa mengucapkan apa-apa lagi Mareta melangkah meninggalkan rumah itu, rumah yang selama 17 tahun di huni olehnya. Meninggalkan dua orang yang masih membisu di depan rumah entah karena merasa bersalah atau hanya memastikan dia benar-benar pergi dari rumah mereka. Dia bahkan lupa menanyakan dimana keberadaan sang bunda karena keduluan terhantam fakta.


Mareta terus berjalan hingga sampai di depan rumah Aprilio, rumah itu juga nampak seperti berbeda dari biasanya. Saat akan melanjutkan langkahnya tiba-tiba seseorang memanggilnya


“Non Eta” teriak wanita paruh baya yang bernama Bi Ina yang merupakan art di rumah Aprilio


“Alhamdulillah non sudah pulang, gimana kabarnya non?” Tanya Bi Ina antusias


“Alhamdulillah baik Bi. Bibi apa kabar?” Jawab Mareta sambil buru-buru mengusap air matanya


“Sehat non, bibi seneng deh lihat non Eta lagi… loh non kenapa nangis?”


“Eh nggak kok Bi. Eta cuma kelilipan”


“Hehe… oh iya Lio kemana Bi?”


“Hmmm… Anu non. Den Lio sudah ke Jepang sejak hari dimana non Eta di tahan” Bi Ina bercerita dengan perasaan sedih


“Ohhh gitu ya Bi” ucap Mareta pelan nampak raut kesedihan di wajahnya


“Kalo Bunda? Bibi tau gk Bunda Eta sekarang tinggal dimana?”


“Oh iya tadi bibi manggil karena mau ngasih ini non” ujar Bi Ina sambil memberi selembar kertas


“Ini alamat baru Bunda Non Eta, dia nitip ini ke Bibi suruh ngasih ke Non Eta kalo udah bebas”


“Maksih banyak ya Bi” ujar Mareta sambil memeluk Bi Ina


“Iya sama-sama non” membalas pelukan Mareta


“Kalo gitu aku pamit dulu ya Bi, sekali lagi makasih banyak”


*********


Tok Tok Tok


Beberapa kali Mareta mengetuk pintu rumah itu namun tak ada siapa pun yang membuka pintu. Sekali lagi dia mengecek kertas yang bertuliskan alamat rumah itu.… Benar, dia tak salah alamat tapi kenapa rumah itu nampak kosong seperti tak berpenghuni.


“Nyari siapa neng?” tanya seorang wanita paruh baya yang kebetulan lewat


”ini bu, saya cari bunda saya. Katanya dia tinggal di sini”


“Ya Allah, kamu anaknya Kinar” heboh wanita itu sambil berjalan mendekati Mareta


“Kenalin saya Bu Ayu, yang punya rumah sewa ini” ujar ibu yang bernama Ayu tersebut


“Hmmm… Bunda saya kemana y bu? Kok rumahnya kosong?”


Mendadak wajah wanita itu menjadi murung, kemudian menatap wajah Mareta sambil memegang tangannya membuat Mareta keheranan


“Bunda kamu udah nggak ada, sejak 2 bulan lalu dia sudah berpulang ke hadapan pencipta” jawab bu Ayu sambil terus menggenggam tangan Mareta


Jlebbb


Mareta membeku, dadanya sesak, matanya buram karena air mata yang mulai menumpuk. Dia kemudian terjatuh duduk di tanah sambil menangis ter isak.


“Yang sabar ya neng. Bunda kamu orang baik, ikhlaskan dia neng agar dia bisa tenang” ujar bu Ayu berusaha menenangkan Mareta


”Nggak… Bunda masih hidup… hiksss pasti ibu bohong kan… hiksssss atau aku salah alamat” isak Mareta mengundang perhatian tetangga lain


”Ayo kamu ikut ke rumah Ibu dulu ya, kamu istirahat di sana” bujuk ibu Ayu karena tetangga mulai memperhatikan mereka


Mareta ikut tanpa menolak, tenaganya serasa terkuras habis dia seakan tak punya lagi semangat hidup.


Sampai di rumah ibu Ayu yang hanya berjarak beberapa rumah, Mareta di persilahkan duduk di sofa, ibu Ayu lalu memberinya air minum untuk menenangkannya kemudian mulai bercerita


“Satu tahun lalu bunda kamu datang ke kampung ini sambil menenteng tasnya dia berjalan tanpa tujuan, hingga dia melihat seorang anak kecil yang sedang bermain di pinggir jalan, lalu dari arah depan ada sebuah mobil sedan yang melaju ugal ugalan karena sopirnya ngantuk, mobil itu hendak menabrak anak kecil itu” ibu Ayu sedikit menjeda kalimatnya untuk sekedar menghela nafas


“Bunda kamu yang melihat itu tanpa pikir panjang langsung berlari dan menarik anak kecil itu beruntung mereka berdua selamat dari kecelakaan sedangkan mobil itu berhenti setelah menabrak pohon mangga… dan anak yang di selamatkan oleh bunda kamu itu adalah anak saya, sebagai tanda terima kasih saya memperbolehkan bunda kamu tinggal di kos milik saya tanpa di pungut biaya” ibu Ayu kembali memotong kalimatnya kali ini karena dia merasa haus


“Beberapa bulan mengenal bunda kamu akhirnya dia mau menceritakan semua kisahnya, tentang perceraiannya dan tentang anak yang selalu dia banggakan yang bernama Mareta” lanjutnya lagi sambil tersenyum ke arah Mareta


Mareta hanya diam menyimak sesekali air mata masih menetes di pipinya karena teringat bundanya


”namun kondisi bunda kamu sering drop, dia sering jatuh sakit bahkan tubuhnya semakin kurus, saya menyarankan dia untuk mengecek kondisinya tapi dia selalu menolak…. Hingga tiba hari dimana dia di temukan pingsan di jalan, warga pun membawanya ke RS terdekat saat sampai di sana dokter tidak bisa lagi menyelamatkan nyawanya dan saya sebagai walinya harus mendengar fakta bahwa bunda kamu mengidap kanker otak stadium akhir.” ibu Ayu menceritakan kisah itu sambil berkaca kaca begitu pula dengan Mareta yang kembali harus mendengar fakta tentang keadaan bundanya


“Jadi ini alasan bunda sering jatuh sakit hiksss… bunda selalu menyimpan rasa sakitnya sendri” batin Mareta mengingat kembali saat-saat dimna bundanya jatuh sakit


“Terima kasih banyak ya bu, sudah mau memberikan tempat yang layak untuk bunda saya selama ini” ucap Mareta tulus sambil memeluk ibu Ayu


“Iya neng sama-sama. Harusnya saya yang berterima kasih karena bunda kamu, anak saya jadi selamat dari kecelakaan itu” ibu Ayu membalas pelukan Mareta memberikan kekuatan pada gadis malang itu. Mereka saling memeluk


“Saat sedang membersihkan kamar bunda kamu saya menemukan surat ini” pelukan mereka terlepas, ibu Ayu lalu memberikan sepucuk surat kepada Mareta


“Saya yakin suatu saat kamu pasti datang mencari bunda mu, makanya saya menyimpan surat ini”


“Sekali lagi terima kasih banyak bu” ujar Mareta dengan senyum yang masih di iringi air mata


“Kalo boleh saya tau makam ibu saya dimana y bu?”


.


.


.


“Tuhan maaf jika kali ini aku ingin protes, sebab kau telah mengambil nyawa bidadari tak bersayap ku tanpa aku sempat mengucapkan banyak terima kasih padanya karena telah meminjamkan sayapnya untuk melindungiku, kau mengambilnya sebelum aku bisa melihat wajah bahagianya”


\~Mareta


Warning⚠️


🌷Aduh maaf y luv Part kali ini kurang nyambung atau terkesan aneh soalnya author lupa sama alur kisahnya karena alur yang udah author tulis ternyata kehapus di note.


Sedihhhh😔 jadi harus mikir alur yang baru soalnya author lupa-lupa inget.


Tapi author usahain semaksimal mungkin biar ceritanya jadi nyambung dan menarik supaya kalian gk kecewa, okayyyy❤️


(Terima kasih sudah berkenan baca. Terima kasih sudah mampir)


Jangan lupa lope nya🫶🏻


dan sedikit kalimat cinta kalian di kolom komentar✍🏻