
"Apa kamu mengenal orang ini" tanya polisi itu lagi sambil memperlihatkan rekaman
Aprilio memperjelas penglihatannya, mencoba yakin bahwa apa yang dia lihat ini memang benar
"Iya saya sangat kenal pak"
"Untuk sementara dia kami jadikan tersangka, selagi menunggu proses penyelidikan"
"Kenapa tersangka sementara pak? Sudah jelas dia pelakunya dan saya yakin kalo dia memang pelakunya jadi hentikan saja penyelidikannya dan segera tahan dia" ujar Aprilio dengan nafas memburu
"Anda tenang dulu, kami hanya mengikuti kebijakan yang berlaku"
“Apa tidak ada rekaman cctv lain pak?”
“Kami sudah mengecek seluruh rumah korban dan hanya menemukan satu buah cctv di bagian teras depan rumah sementara cctv lainnya telah rusak” jelas pak polisi
Aprilio tidak bisa lagi menahan emosinya dengan tergesa dia berjalan menuju rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah Febri
Dengan nafas memburu Aprilio menggedor pintu rumah Mareta
"MARETA KELUAR LO"
"KELUAR SEKARANG ATAU GUE DOBRAK PINTU RUMAH LO"
Tak lama keluar wanita setegah baya yang masih nampak cantik, dirinya terlihat bingung dengan kedatangan Aprilio yang nampak sangat emosi
"Nak Lio, kenapa nyari Mareta sambil marah-marah gitu? Mareta buat ulah lagi y" tanya nya khawatir
"Dimana pembunuh itu"
"Apa yang nak Lio katakan? Pembunuh? Siapa yang pembunuh dan siapa yang di bunuh"
Bunda Mareta memang tidak mengetahui kejadian yang sedang terjadi di kompleks perumahannya karena dia sering mengurung diri di kamar dan tidak pernah bergaul jadi dia tidak tau bahwa ada tetangganya yang sedang berduka
"Alah kalo bunda masih mau sembunyiin si pembunuh itu biar aku cari sendiri saja" tanpa d persilahkan Aprilio masuk ke dalam rumah Mareta
"Bun, ada apa sih ribut-ribut" ujar Mareta sambil menuruni tangga
"Muncul juga lo"
"Lio? Kamu ngapain di sini"
"Ikut gue ke kantor polisi sekarang"
"Ap... Apa? Ke...Kenapa aku harus ikut kamu ke kantor polisi"
"Masih gk mau ngaku juga lo"
"Kamu ngomong apa sih Lio"
"Febri.... LO KAN YANG UDAH BUNUH FEBRI" teriak Aprilio frustrasi bahkan tangannya nampak terkepal saking emosinya
"Ak..... Aku nge bunuh Febri?" tanya Mareta memastikan apa yang dia dengar tidak salah
"Iya lo kan yang udah bunuh Febri karena lo cemburu, iya kan? Sebenarnya lo masih suka kan sama gue" ujar Aprilio dengan nafas memburu
Mareta terdiam dengan air mata yang mengalir deras dia sama sekali tak menyangka bahwa Aprilio akan berpikir sejauh itu
"Jawab! Di hari kejadian cuma lo yang ada di sana"
"Lio aku bisa jelasin"
BRUKKKK
"BUNDA" teriak Mareta histeris melihat sang Bunda yang tiba-tiba pingsan
"Lihat Ta, perlahan-lahan lo juga bakalan bunuh Bunda lo" setelah mengatakan itu Aprilio pergi meninggalkan Mareta dengan perasaan yang sangat kacau
Setelah kepergian Aprilio dari rumahnya, Mareta kembali kedatangan tamu tak di undang.
“Dengan saudari Mareta?” Tanya salah seorang polwan
“Iy…. Iya betul bu hiks. Maaf tapi ada masalah apa y bu?” tanya Mareta masih dengan suara bergetar karena sedang menangis
“Sekarang adek harus ikut kami ke kantor polisi” ujarnya lagi
lalu masuk juga dua orang polisi dan segera memborgol tangan Mareta. Sementara sang polwan segera mengecek kondisi bunda Mareta
“Ada apa ini” tanya seorang pria berjas hitam dengan suara bariton nya yang menggema di seluruh ruangan
“Maaf pak, menurut dari hasil penyelidikan sementara, kami menemukan rekaman cctv yang menunjukkan dengan jelas saudari Mareta yang berada di TKP jenazah alm. saudari Febri”
Ayah Mareta nampak syok dengan keterangan polisi dia memijat pelipisnya lalu terduduk di salah satu sofa
Rahangnya mengeras menandakan emosinya semakin berada di puncak kemudian dia berdiri dan berjalan ke arah Mareta
PLAKKKKK
PLAKKKKK
Suara tamparan memekikkan telinga, tak hanya sekali bahkan berkali kali
“Anak kurang ajar, taunya buat malu keluarga” setelah menampar Mareta sang ayah juga memaki maki putri semata wayangnya itu tak peduli jika ada orang lain di antara mereka
“Ayahh… Hiksss tapi bukan Mareta yang bunuh Febri… Hikss itu kecelakaan” bela Mareta sambil bersujud di kaki sang ayah
Seakan jijik dengan putri nya sang ayah malah menendang Mareta hingga tubuh ringkih itu tersungkur di lantai yang dingin
“Tenang dulu pak, dia hanya kami jadikan tersangka sementara selagi melanjutkan penyelidikan jadi belum tentu dia pelakunya” ujar salah satu polisi yang mencoba menenangkan ayah Mareta
Mereka tampak iba dengan kondisi Mareta, nampak kehancur dan semua kesedihan menjadi satu di wajah polos gadis itu.
Salah satu polisi mencoba menenangkan sang ayah sementara yang satunya lagi membantu Mareta berdiri dari lantai
“Kalo memang dia pelakunya maka hukum dia dengan seberat-seberatnya! Dan kamu mulai detik ini kamu bukan lagi anak saya. Saya sangat malu punya anak seperti kamu yang tidak pernah membanggakan saya bahkan sekarang kamu betul-betul sudah mencoreng nama baik saya” ujar sang Ayah sambil menunjuk-nunjuk Mareta
”ini berkas perceraian saya dan bunda kamu setelah dia sadar suruh dia tanda tangani ini dan kalian berdua boleh angkat kaki dari rumah saya” ayah Mareta kembali berujar sambil melempar berkas itu di depan Mareta
Setelah itu ayah Mareta segera meninggalkan rumah bahkan dia sama sekali tak menghiraukan bunda Mareta yang masih tergeletak pingsan di lantai
“AYAHHH HIKSSS… TOLONG PERCAYA SAMA MARETA HIKSSS” teriak Mareta histeris namun tak di hiraukan oleh sang ayah setelah itu Mareta terpaksa ikut ke kantor polisi sementara sang bunda di larikan ke rumah sakit
Entah dosa apa yang telah dilakukan Mareta hingga dia mendapat masalah yang bertubi-tubi, di tuduh pembunuh, di benci sahabatnya, menyaksikan perceraian orang tuanya hingga di usir oleh ayah kandungnya sendiri. Sungguh gadis yang malang
*******
“Tapi saya tidak bersalah pak” sekali lagi kalimat itu keluar dari mulut ranum Mareta
“Maaf dek tapi untuk sementara adek harus di tahan selagi menunggu penyelidikan berlangsung”
“Itu semua kecelakaan pak, saya berani sumpah”
“Kami hanya mengikuti prosedur yang berlaku”
Kini Mareta memilih bungkam dengan menenggelamkan wajahnya di kedua kakinya nampaknya dia sedang menangis
“Bunda di sini dingin, Eta mau pulang aja hiksss” ujarnya lirih
“Lio hikss… waktu itu kamu udah janji apapun yang terjadi kamu akan tetap jadi sahabat terbaik ku hiksss.. Tapi kenapa kamu juga ikut menuduhku hikss, kamu ingkar janji” ujar kini semakin terisak
“Woi bisa diam gk lo, ribut tau nggak” ujar salah satu penghuni penjara
“Maaf mbak”
“Sekali lagi gue denger suara lo, abis lo” ancamnya sambil menarik rambut Mareta
“Akhhh, Iy…. Iya mbak, maaf” jawab Mareta takut
“Hebat juga lo kecil-kecil udah jago nge bunuh” ujar penghuni lainnya yang nampak lebih menyeramkan
“Cinta segitiga nih pasti” ujar yang lain membuat mereka semua tertawa
“Sa… Saya bukan pembunuh” ujar Mareta
“Alah mana ada maling mau ngaku, kalo ada mungkin sekarang tempat ini udah sesak” mereka kembali tertawa
Mareta menutup kedua telinganya sambil trus berucap “saya bukan pembunuh” namun penghuni sel tersebut malah semakin menyiksa tubuh dan batinnya untunglah seorang polwan segara datang untuk melerai mereka
“Y Allah apa salah hamba hingga engkau timpahkan ujian seberat ini” batin Mareta yang sesekali masih terisak kecil
Di lain tempat nampak seorang pemuda sedang duduk di salah satu bangku penumpang pesawat
TBC❤️
“Benarkan apa yang ku katakan, Kamu itu bintang di langit malam, terlalu indah hingga manusia suram ini lupa tugasmu hanya untuk menyinari nya bukan menjadi miliknya ”
\~Mareta