
Pagi ini Mareta kembali menyiapkan sarapan untuk Aprilio, dia sama sekali tidak mengindahkan kalimat tegas Aprilio semalam atau sebelum-sebelumnya niatnya hanya menjadi istri yang tetap menjalankan tugasnya
Tap… Tap… Tap
Suara sepatu pantofel Aprilio mulai menggema memasuki ruang makan, makanan telah tersaji lengkap di atas meja
“Hari ini sarapan apa Bi?” Tanya Aprilio pada Bi Laras sambil mulai duduk di kursinya dia sama sekali tak menghiraukan Mareta yang sedang berdiri di samping meja makan menunggu untuk diajak makan bersama namun sepertinya itu hanya mimpi karena Aprilio tak memperdulikan keberadaannya
“Nasi goreng udang sama telur ceplok tuan” jawab Bi laras sambil sesekali melirik Mareta
Hari ini Mareta punya rencana agar Aprilio mau memakan masakannya yaitu dengan cara tidak memberitahu Aprilio bahwa ia yang telah memasak semua masakan itu biarlah Aprilio mengira jika yang memasak, hari ini adalah Bi Laras.
Dan sepertinya rencana Mareta itu berhasil. Aprilio mulai menyantap makanan itu tanpa bertanya dan tanpa protes
“Hmmmm… pake resep baru ya Bi?” Tanya Aprilio sambil terus mengunyah
“Kok rasanya beda….. Tapi enak, besok-besok kalo masak nasi goreng pake resep yang ini aja Bi” kalimat Aprilio kali ini membuat Mareta tersenyum puas, itu tandanya masakannya cocok dengan lidah Aprilio
“Iya tuan” jawab Bi laras sambil menahan tawanya. Ingin sekali rasanya ia mengatakan bahwa yang memasak nasi goreng itu adalah istri dari tuannya itu makanya rasanya berbeda dari biasanya
Aprilio telah menghabiskan sarapannya, tandas tanpa sisa dia lalu beranjak dari duduknya namun lagi-lagi ia sama sekali tak menghiraukan keberadaan istrinya yang sejak tadi hanya diam tanpa suara
Mareta mengekori Aprilio menuju pintu utama
“Mas” panggil Mareta membuat Aprilio berbalik lalu menatapnya bingung
“Mas?….. Cih punya rencana apa lagi dia” batin Aprilio menaruh curiga
“Bolehkan aku panggil kamu Mas? Biar lebih sopan kan kamu suami aku” jelas Mareta karena mengerti dengan tatapan bingung Aprilio
“Terserah” ujarnya lalu melanjutkan langkahnya menuju mobil yang telah terparkir di halaman
“Mas tunggu”
“Ck… Apa lagi sih”
“Salim” ujar Mareta sembari menggapai tangan Aprilio lalu menciumnya
Aprilio yang terkejut langsung menarik tangannya dari genggaman Mareta
“Lo apa-apaan sih” gertak Aprilio
“Ak…. Aku cuma mau salim Mas, itu sudah kewajiban aku sebagai istri” ujar Mareta gagu karena terkejut dengan sikap refleks Aprilio
“Tapi gue gk pernah anggap lo istri. Lo itu gk lebih dari seorang pembantu di rumah gue bahkan lebih rendah karena lo gk akan gue bayar. Camkan itu” Aprilio mengucapkan itu sambil menahan emosinya terlihat dari rahangnya yang mengeras sepertinya pagi ini mood nya kembali hancur karena Mareta
Dia lalu memasuki mobilnya dan melaju meninggalkan pekarangan rumahnya, meninggalkan Mareta dengan mata yang mulai berkaca-kaca
“Hikssss…. Apa yang kamu harapkan sih, Ta?” Gumam Mareta sambil berjalan memasuki kamarnya Bi laras yang melihat kejadian itu ikut merasakan kesedihan Mareta tak hanya Bi laras tapi beberapa pelayan lainnya juga menatap iba pada Mareta
*********
Jam pulang kantor tiba. Lagi-lagi Mareta tidak memperdulikan perkataan Aprilio yang melarangnya untuk bersikap selayaknya seorang istri, lihat saja sedari tadi dia telah duduk di sofa menunggu kepulangan sang suami sambil menonton acara TV favorit nya sesekali melirik ke arah jam.
Mareta mulai terlihat cemas, karena harusnya Aprilio telah sampai sejak 3 jam yang lalu namun hingga detik ini belum juga nampak tanda-tanda kedatangan nya.
Mareta memutuskan untuk menelpon sang suami tapi dia lupa bahwa dia tak memiliki nomor Aprilio, tanpa pikir panjang Mareta yang cemas pun berniat ingin meminta nomor Aprilio pada Bi laras namun saat ingin melangkah ke arah dapur, tiba- tiba suara pintu di dorong kencang mengagetkan Mareta, di sana nampak Aprilio dengan penampilan acak-acakan nya serta bau alkohol yang seketika menyeruak di dalam ruangan mengganggu indra penciuman Mareta
“Heh, jala*ng ngapain lo di rumah gue Hah?” Gerutu Aprilio sambil berjalan dengan sempoyongan ke arah Mareta
“Ohhhh… Atau lo mau mati di tangan gue, seperti waktu lo bunuh Febri” ujarnya lagi kini dengan menjambak rambut Mareta
“Akhhhhh Sa….sakit mas….. Lepasss” rengek Mareta karena tarikan Aprilio pada rambutnya sangat keras hingga rasanya rambutnya hampir terlepas dari kulit kepalanya
“Cuihhhhh…. perempuan murahan” kali ini Aprilio meludah tepat di wajah Mareta tentu masih sambil menjabak rambut panjang sang istri, sekarang dia sudah kembali ingat dengan status Mareta
“Lio plissss…. Lepasss… Ini sakit” ujar Mareta dengan terbata
“Sakit? LEBIH SAKIT GUE TA!!! LEBIH SAKIT GUE NGELIHAT SAHABAT GUE NGEBUNUH CINTA PERTAMA GUE” bentak Aprilio sambil mendorong tubuh Mareta
“Sakit Ta…. Hiksss sakit” isak Aprilio pilu
“Hikss.. Aku gk sengaja Lio… Demi Tuhan aku gk sengaja”
“Arghhhhh… perempuan b*adab. Lo perempuan pembawa sial”
“Sini lo!… malam ini gk ada ampun buat pembunuh kaya lo” ujar Aprilio sambil menyeret tubuh ringkih Mareta
“Lio hiksss…. Ampun Lio hiksss”
Para pelayan yang melihat kejadian itu hanya bisa menatap iba Mareta mereka tidak punya kuasa apa-apa untuk membantu Mareta.
Aprilio menyeret tubuh Mareta menuju gudang yang terpisah dari rumah, letaknya ada di halaman belakang agak jauh dari asrama pelayan. Bangunan itu nampak tua dan usang juga gelap, Aprilio melempar tubuh Mareta masuk kedalam lalu menyalakan saklar lampu, remang-remang cahaya mengisi ruangan yang penuh dengan barang-barang yang juga sudah usang.
“Aprilio, aku mohon maafkan aku Hikss… aku mohon” rengek Mareta sambil bersujud di kaki Aprilio
Namun Aprilio sama sekali tidak peduli dia telah di butakan oleh dendam yang sudah sejak lama di pendam. Aprilio mengambil seutas tali tambang dan tanpa ampun mengayunkannya di tubuh Mareta. Suara pacutan tali bersahutan dengan suara isakan Mareta
Mareta mulai melemah suara isakan dan teriakan kesakitan yang sejak tadi memekakkan telinga sudah tak terdengar lagi menyisakan wanita yang terbujur lemah di lantai dingin dengan darah yang mulai mengalir dari punggung dan tulang keringnya
Aprilio nampak belum puas menyiksa Mareta, di lempar nya tali tambang itu lalu ia memanjat memutar bohlam lampu dan memecahkannya seketika ruangan itu kembali menjadi gelap gulita
“Lio. Kamu dimana Lio hiksss…. Jangan siksa aku dengan gelap Lio hiksss… Kamu tau aku trauma” ujar Mareta terkejut dengan ruangan yang tiba-tiba gelap
“Li….. Lio dada aku sesak hikss” Mareta terus terisak mencari keberadaan Aprilio bahkan rasa sakit bekas cambukan Aprilio mendadak hilang di gantikan dengan rasa panik
“Malam ini Lo tidur di sini” titah Aprilio dingin lalu keluar dari ruangan itu kemudian menguncinya dari luar
”LIO… AKU MOHON JANGAN SIKSA AKU DENGAN GELAP HIKSSSS.... AKU TAKUT” panik Mareta menggedor-gedor pintu
“Cih ini bahkan baru permulaannya bit*ch” batin Aprilio tersenyum licik sambil berjalan dengan sempoyongan menuju kamarnya kepalanya mulai terasa berdenyut, saat ini yang di perlukan nya hanya tidur dan berharap bisa memimpikan sosok Febri wanita yang di cintainya
.
.
.
TBC 🌷✨🫶🏻
“Berharap pada manusia adalah sakit hati yang di sengaja”
\~Mareta
🌷(Terima kasih sudah berkenan membaca. Terima kasih untuk gk bosan dengan cerita Aprilio dan Mareta)
🗣️Hellowww Luv. Author come back nih, maap ya lama up nya hehe soalnya kemarin-kemarin-kemarin-kemarin trus kemarinnya lagi author sibuk banget jadi gk ada kesempatan buat up
Btw… Btw terima kasih banyak ya yang masih nunggu cerita ini up walaupun author agak ragu sih hehe tapi author rasa sih ada yang nunggu meski cuma 1% dari 99.99% (harus tetap optimis mhehehe)
Luv u all 🫶🏻
Bonus pic Aprilio waktu masih baik hati. Oh iya fyi, itu nama kucingnya Tape (Tampan Pemberani). Ucul kan🥹