Misunderstanding

Misunderstanding
Bab 9 (kesalahan)



Arjun menatap kepergian Mareta dengan tatapan mengiba, menurutnya kata-kata Aprilio sudah sangat keterlaluan dan menjatuhkan harga diri gadis itu


"Ck kebiasaan buruk lo itu harus di rubah Li, Lo terlalu sering rendahin perempuan" nasehat Arjuna yang telah menjadi sahabat Aprilio sejak 4 tahun ini


FYI Aprilio dan Arjuna satu kampus serta satu jurusan selama kuliah di Jepang dan sekarang mereka sama-sama kembali ke tanah air untuk melanjutkan bisnis keluarga yang sudah di wariskan kepada mereka


"Lo gk bakalan ngerti Jun, semua perempuan yang gue kenal dan gue sayang malah kecewa in gue."


"Gue emang gk ngerti tapi gue sebagai sahabat lo harus tegur perbuatan lo kalo emang itu salah"


"Urusai (berisik)"


"Ye di kasih tau kok ngeyel awas aja kalo sampe lo nyesel"


"Nyesel? For What?"


"Karma is real Li... jangan sampe lo kena karma nya dan jangan sampe lo ngerepotin gue nntinya"


"Dahlah bacot"


"Baka (bodoh)" ujar Arjuna sambil melempar bantal sofa yang langsung mengenai wajah tampan Aprilio


"Anj*ng" kaget Aprilio sementara sang pelaku sudah menghilang di balik pintu


**********


Sore menjelang, sebagian karyawan kantor mulai bersiap siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing tapi ada pula yang tetap berkutat dengan komputer karena harus lembur.


Mareta pun ikut lembur karna di tugaskan menemani para karyawan yang lembur, kalau-kalau mereka membutuhkan bantuan Mareta untuk sekedar membuatkan kopi atau teh.


Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB satu persatu karyawan mulai meninggalkan meja mereka hingga menyisahkan Mareta yang masih harus mencuci beberapa gelas bekas minuman berkafein.


"Huftttttt akhirnya selesai juga....capek banget" ujarnya seraya merenggangkan otot-otot tangannya yang terasa pegal


Mareta segera mengambil tasnya, dirinya harus bergegas pulang agar ia tak pulang terlalu larut karna dia takut jika harus pulang larut malam seorang diri belum lagi jalanan menuju kost nya yang harus menyusuri gang sepi dan remang.


Langkah Mareta terhenti saat melewati ruang CEO yang lampunya masih menyala


"Apa dia belum pulang?"


"Sudahlah. Itu bukan urusan ku" ujarnya tak ingin ambil pusing


"PRANGGGGGG"


"ARGHHHHHHHH"


Mareta terlonjak kaget bahkan langkahnya kembali terhenti saat mendengar suara pecahan dari dalam ruangan Aprilio lalu di susul dengan suara teriakan yang membuat Mareta khawatir. Sangat khawatir


Tanpa pikir panjang Mareta segera masuk ke dalam ruangan Aprilio dan mendapati sahabat- maksudnya bos nya itu sedang duduk sambil memejamkan matanya di sofa dengan keadaan yang sudah acak-acakkan.


Mareta melihat pecahan botol wine yang dia yakini menjadi sumber keributan tadi.


Bau alkohol menyeruak menusuk indra penciumannya membuat ia merasa mual, karena sudah tak tahan Mareta segera melangkah kembali ke arah pintu


"Mau kemana lo?" ujar Aprilio menghentikan langkah Mareta


"Hmmmm... Anu pak... Tadi saya mendengar keributan dari dalam ruangan bapak"


"M-maaf pak saya sudah lancang, permisi"


Saat ingin melangkah keluar, tiba-tiba Mareta merasakan pelukan yang sudah lama ia rindukan, pelukan dari seseorang yang sangat membenci dirinya karena kesalah paham an.


"Jangan tinggalkan gue" ujar Aprilio sambil memeluk tubuh Mareta dari belakang


Kata-kata Aprilio berhasil membuat hati Mareta merasa bahagia


"Febri gue cinta banget sama lo, gue mohon jangan tinggalkan gue Feb!!"


Namun kalimat selanjutnya berhasil membuat Mareta meneteskan air matanya. Ia tau Aprilio sedang dalam pengaruh minuman beralkohol jadi dia mengira Mareta adalah Febri


"Lio lepas" ujar Mareta mencoba memberontak tapi sia-sia karna tenaga Aprilio jauh lebih kuat


"Suttttt... gue udah kangen banget sama lo Feb, gue sayang sama lo…. jadi sekarang lo diem dan nikmati saja permainannya… Ok baby hmm"


Aprilio menyeret Mareta menuju ruang istirahat nya yang tersembunyi lalu mendorong tubuh Mareta ke arah kasur


"Aku mohon lepaskan aku hiks... ini salah Lio hiks ini perbuatan dosa, aku mohon sadar hiks" ujar Mareta dengan tangis histeris tubuhnya mulai melemah karena trus memberontak


Aprilio tidak peduli dengan isakan Mareta, dia terus melancarkan aksi bejat nya dan terjadilah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi di antara keduanya


Malam berganti pagi, matahari mulai menampakkan sinarnya meski masih malu-malu.


Di atas kasur ber ukuran king size nampak dua anak manusia yang masih terlelap nampaknya mereka berdua begitu kelelahan usai pergulatan semalam


"Akhhhhh, kepala gue sakit banget"


Salah satu dari keduanya mulai menggeliat, sambil memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah beberapa detik kemudian dia terlonjak bangun dari atas kasur dan terkejut melihat kondisinya yang naked, dia bahkan melupakan sakit kepalanya, pandangan tertuju pada seorang gadis ah maksudnya wanita yang juga mulai menggeliat karena merasa terganggu dengan pergerakannya


Mareta terkejut melihat kondisinya dia segera memegang selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos


"Li-Lio jadi semalam itu bukan mimpi" ujarnya dengan air mata yang menetes di pipinya


"Jadi semalam itu elo bukan Febri" Aprilio sama terkejutnya


"Hiksss kamu jahat, aku udah bilang kalo aku ini Mareta hiks"


“Gausah pura-pura deh, gue gk bakal ketipu sama air mata buaya lo, gue tau pasti semalam elo yang godain gue duluan kan, dasar jal*ng” tuduh Aprilio


“Hikss aku gk sehina itu”


Aprilio terdiam berusaha mengingat kejadian semalam, membuat sakit kepala yang tadinya hilang kini terasa kembali


Sekelebat bayangan kejadian semalam muncul bagai puzzle dan akhirnya menyatu menjadi ingatan yang sangat jelas


Aprilio nampak syok namun semenit kemudian dia tersenyum samar


"Hmmmm sepertinya gue punya ide balas dendam yang lebih bagus setelah ini... gue yakin kali ini akan lebih menyakitkan" batin Aprilio seraya tersenyum licik


"Li-lio kalo aku ha-hamil gimana" ujarnya terbata


"Gue bakalan tanggung jawab"


"Hah?"


"Gue akan nikahin lo”


"Dan mari kita mulai permainan serunya bi*ch... gue akan buat hidup lo jauh menderita dari kematian Febri, dengan menikah gue jadi lebih berkuasa terhadap lo"batin Aprilio membayangkan penderitaan yang akan dia berikan kepada Mareta


"Berhenti menangis, pakai bajumu dan segera pergi dari sini sebelum para karyawan yang lain datang" perintah Aprilio datar


Mareta segera menuruti perintah Aprilio dan berlalu meninggalkan kantor dengan air mata yang terus menetes


Setelah kepergian Mareta, Aprilio ingin segera membersihkan tubuhnya namun sebelum itu dia kembali sejenak ke arah kasur dan tersenyum licik setelah melihat bercak merah yang merupakan darah keperawanan Mareta


Mareta sampai di rumah kontrakannya yang minimalis namun bersih dan terawat membuat siapa saja akan merasa nyaman.


Setelah keluar dari penjara, hanya kontrakan inilah yang menjadi tempat berteduh untuk Mareta dan bunda nya.


Mareta masuk kedalam kamar mandi dan segera mengguyur tubuhnya.


"Aku kotor hiksss" dia segera melakukan mandi besar dengan terisak


Setelah itu Mareta segera bersiap-siap untuk kembali ke kantor meski tubuhnya masih terasa nyeri, dia tak ingin di cap sebagai karyawan pemalas oleh teman-temannya, masa baru sehari kerja tapi sudah izin.


"Huftttt semangat Ta" ujarnya sambil tersenyum menguatkan dirinya di depan cermin sambil mengusap kasar pipinya yang terus basah oleh air mata


.


.


.


TBC ❤️‍


“Kamu tidak akan bisa menjadi dia, sekeras apapun kamu berusaha”


\~Aprilio.


🌷\~Terima kasih sudah berkenan baca. Terima kasih sudah mampir 🫶🏻