Misunderstanding

Misunderstanding
Bab 3 (Cemburu)



Suara seseorang mengejutkan mereka berdua,  keduanya pun segera melepaskan pelukan mereka dan saling tersenyum canggung


“Shit… ni orang ganggu aja, dia gk lihat tadi aku lagi di peluk pangeran impianku” umpat Mareta walaupun hanya dalam hati


“Eh Febri, udh selesai baca bukunya?” Tanya Aprilio berusaha mencairkan suasana yg nampak canggung


“Udh kak”


“Loh, Mareta mata kamu kok bengkak? Kamu habis nangis?” Tanya Febri penasaran


“Ng…nggak kok, tadi cuma kelilipan”


“Boong, itu bengkak banget loh. Kamu yakin gamau cerita ke aku? Kali aja aku bisa bantu”


KRINGGGGGG


Sebelum Mareta sempat menjawab pertanyaan Febri, bel masuk telah lebih dulu berbunyi menandakan mereka harus segera masuk ke kelas karena waktu istirahat telah usai.


**********


“Lio…. Tunggu!!!” Teriak Mareta sambil berlari menuju Aprilio yang sedang berada di parkiran


“Hoss… Hoss… Huftttt” Mareta segera mengambil nafas sebanyak-banyaknya setelah sampai di hadapan Aprilio


“Makanya jangan lari-lari” dumel Aprilio


“Kamu sih, dari tadi ku teriakin tapi gk dengar”


“Hehehe, sorry… Gue make earphone” sambil memperlihatkan earphone wireless yang sedang di genggamnya


“Pantesan… Eh btw kamu ingat gk ini hari apa”


“Aelah, gue kirain lo mau tanya apaan tadi… Yh ingatlah… ini kan hari Kamis” jawab Aprilio dengan tawa


“Oh iya yh, ini hari Kamis” ujar Mareta ikut tertawa


“Mungkin Lio lagi mau ngerjain aku” batin Mareta


“Yaudah, yuk balik… aku udh gerah banget nih” ujar Mareta sambil mengibas-ngibaskan tangannya


“Hari ini kita gk pulang bareng dulu y Ta” ujarnya merasa tak enak


“Loh, kenapa?”


“Sorry… tapi hari ini gue udh janjian sama Febri mau nemenin dia ke Gramedia” ujar Aprilio smbil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


“Hufttt… Febri lagi, Febri lagi… kamu tau gk, semenjak ada dia kamu itu jadi gk punya waktu buat aku, kamu juga jadi banyak berubah” protes Mareta


“Loh kok jadi salahin Febri”


“Aduhhh… maaf y kak Lio tadi aku lama ke toiletnya” ujar seseorang yg tiba-tiba muncul di antara mereka


“Eh, ada Mareta juga ternyata… kamu mau ikut ke Gramedia juga? Aku mau beli buku novel yang lagi viral banget itu loh” ujar seseorang yang merupakan Febri


“Gk makasih, tapi gue gk suka baca” jawab Mareta dengan ketus


“Oh iya, hari ini Lio gk jadi anterin lo ke Gramedia karena dia mau pulang bareng gue, jadi lo ke Gramedia sendirian aja, gapapa kan? Ujar Mareta


“Ta”


“Hmmm,iya… bisa kok, yaudah kalo gitu aku duluan y… Bye Mareta, kak Lio” ujar Febri dan segera berlalu dari hadapan mereka berdua


“Lo apa-apaan sih Ta?, kekanak-kanakan banget tau gk” geram Lio


Namun Mareta tidak memperdulikan ucapan Aprilio. Dia memilih masuk ke dalam mobil Aprilio dan segera mendinginkan tubuhnya menggunakan AC karena cuaca di luar sedang terik.


Aprilio mendengus kesal dan segera masuk ke dalam mobilnya dengan sedikit membanting pintu mobil, nampaknya kali ini dia benar-benar sedang kesal dengan kelakuan sahabatnya


“Ta, gue gk suka y dengan kelakuan lo yang kek tadi… Febri itu orang baik gk seharusnya lo gituin dia” protes Aprilio sambil menjalankan mobilnya


“Kamu tau dari mana kalo dia baik? Bisa aja kan dia cuma pura-pura polos”


“Dari sorot matanya… mata itu jendela jiwa, mata itu gk bisa bohong dan gue lihat dia orangnya tulus”


“Oh wow, terus selama ini kamu gk bisa lihat ketulusan di mata aku? Kamu gk bisa lihat kalo aku itu cinta banget sama kamu” ingin sekali Mareta mengucapkan kalimat itu tapi di urungkan nya dia hanya bisa bergumam dalam hati


“Gue mau besok lo minta maaf sama dia”


“Why”


“Karena semenjak dia hadir di antara persahabatan kita, kamu jadi berubah Lio, sekarang apa-apa selalu harus bareng Febri, dia itu cuma orang baru tapi kenapa aku ngerasa kalo dia lebih penting buat kamu dari pada aku, aku ini sahabat kamu dari kecil kalo kamu lupa”


“Gue gk pernah lupa kalo lo itu orang yang gue sodorin pake 2 es krim langsung mau jadi sahabat gue” ujar Aprilio mengejek sahabatnya itu


“Eh, tunggu… tunggu… jangan bilang kalo lo lagi cemburu” tanya Aprilio dengan tatapan mengintimidasi


“Kalo iya emangnya kenapa… Hah?”


“Gk pasti lo cuma becanda kan Ta? Lo gk mungkinlah cemburu kek orang yang lagi kasmaran kan gk mungkin lo suka sama gue”


“aku cemburu… Aku cemburu kamu dekat dan perhatian sama cewek lain… karena aku cinta sama kamu Lio”


Tak hanya Aprilio yang terkejut Mareta juga ikut terkejut dengan kalimat apa yang baru di ucapkan nya, Mareta segera menutup mulutnya.


Setelah berusaha menahan diri agar tidak mengungkapkan perasaannya, akhirnya dia keceplosan juga


“Bego kamu Ta!” batin Mareta merutuki ucapannya


CCCIIITTTTTT


Aprilio mengerem mendadak karena sangat terkejut dengan kalimat Mareta


“Lio, kamu gila” protes Mareta


“Ta! Jelasin ke gue kalo ucapan lo barusan cuma lelucon!!!” Ujar Aprilio sambil mengguncang bahu Mareta


“Aku serius, aku suka, aku cinta sama kamu” ujar Mareta dengan mata berkaca-kaca kali ini dia berniat jujur, lagian sdh terlanjur basah mending nyebur sekalian


“Arghhhhh…. KENAPA PERASAAN BODOH ITU MUNCUL TA?” bentak Aprilio sambil memukul stir mobilnya


Mareta sangat terkejut mendengar bentakan Aprilio, ini adalah bentakan pertama yang Aprilio berikan padanya selama mereka menjadi sahabat


“Lio”


“Gue udah sering bilangkan, jangan sampe ada perasaan diantara hubungan persahabatan kita… Tapi kenapa lo ngelanggar Ta?” Ujar Aprilio sambil memijat pelipisnya yang terasa pusing


“Aku udah coba buat gk suka sama kamu, tapi aku gk bisa… perasaan ini malah semakin dalam”


“Kenapa harus gue”


“Kalo aku juga bisa milih, aku gk mau suka sama kamu tapi perasaan emang gk bisa di prediksikan aku bahkan gk tau kapan perasaan ini muncul” ujarnya mulai terisak


Aprilio terdiam mendengar kalimat Mareta, apa yang di katakan olehnya memang benar. Aprilio merasa bersalah telah membentak sahabat nya itu hingga membutakan nya menangis


“Gue antar lo pulang… Entar sore kita ketemuan dia taman kompleks” Aprilio berniat ingin menenangkan dirinya sejenak dan memutuskan untuk melanjutkan perbincangan ini nanti sore


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit yang hanya di isi dengan keheningan  oleh keduanya, kini mobil Aprilio sudah sampai di rumah Mareta.


Rumah dengan pagar bercat hitam yang menjulang tinggi itu terlihat sangat sepi seperti tak berpenghuni pemandangan seperti ini memang sudah biasa terlihat di kediaman Mareta


“Gue tunggu di taman jam 16.00 sore, jangan smpe telat” ujar Aprilio setelah Mareta turun dari mobilnya


“Makasih tumpangannya, aku masuk duluan” pamit mareta dengan lesu.


“Huftttt bego banget sih ni mulut” rutuk Mareta sambil memukul mulutnya


Mareta berbaring di kasurnya, mengingat kejadian saat Aprilio untuk pertama kalinya membentak nya perlahan air mata mengalir di pelipisnya, ia tidak bisa memungkiri betapa sakit hatinya.


Air mata terus berjatuhan tanpa di minta, perlahan rasa kantuk mulai menyerangnya karena lelah menangis Mareta pun tertidur dengan air mata yang masih terus menetes bahkan dia belum mengganti seragam sekolahnya


.


.


.


TBC❤️‍


“Aku juga maunya tidak mencintaimu tapi adanya begitu”


\~Mareta