
Malam telah berganti pagi dan hari ini Mareta berniat untuk mengunjungi Febri di kediaman nya. Mareta ingin meminta maaf karena telah membohongi Febri
Sampai di rumah Febri, Mareta mencoba untuk mengetuk namun rumahnya nampak sepi, Mareta mendekatkan telinganya di pintu tapi sama sekali tak terdengar suara apa pun dari dalam rumah.
Tok, tok, tok
"Assalamualaikum" sekali lagi dia mencoba mengetuk dan memberi salam namun hasilnya tetap sama
Beberapa kali juga ia mencoba menghubungi Febri namun nomornya tidak aktif
Mareta memberanikan diri untuk mengintip di jendela yang gorden nya sedikit terbuka tapi dia justru melihat kejadian yang sangat mengejutkan
Dengan cemas Mareta berniat mendobrak pintu rumah Febri namun ternyata pintu tak terkunci yang membuat Mareta dengan mudahnya masuk
Di ruangan itu terdapat wanita yang sedang tergeletak di lantai dengan beberapa botol minuman beralkohol yang telah tandas, nampaknya dia sedang mabuk berat bahkan dia terus saja bergumam tak jelas
"Austin jangan tinggalin aku" gumam Febri dengan air mata yang terus mengalir
Mareta mencoba mendekat berniat menenangkan sang sahabat
"Feb...."
"PERGI !!!" Ucapan Mareta terpotong oleh teriakan histeris Febri
“Feb gue minta maaf karena udah bohongin lo… please maafin gue sama Lio”
“GUE BILANG PERGI” teriak Febri makin histeris
“Hiksss jangan kayak gini Feb. Gue nyesel” Mareta mulai menangis karena perasaan bersalahnya
“Hikssss kalian semua jahat sama gue, gk ada yang peduli sama gue”
Dengan perlahan Mareta mendekati tubuh ringkih Febri lalu memeluknya erat
“Ta hiksss… Gk ada yang sayang sama gue, semua ninggalin gue hiksss”
“Gue sayang sama lo Feb…. Lio juga sayang sama lo…. Lo gk sendri” ujar Mareta berusaha menenangkan Febri
“Cerita sama gue Feb, lo ada masalah apa”
“Hikss… Semalam waktu gue lagi dinner bareng Austin tiba-tiba ada notif masuk di hp nya”
FLASHBACK ON
“Udah y by marahnya, aku juga gatau kalo ternyata dia suka sama aku” bujuk Febri pada Austin yang sejak tadi mendiami nya karena kejadian di cafe tadi
“Aku nungguin kamu, tapi kamu malah ketemuan sama dia”
“Aku juga gk ada niatan ketemu sama dia by. Awalnya Mareta minta aku temenin dia nongkrong tapi pas aku datang ternyata yang ada di sana itu kak Lio. Aku juga gk tau apa-apa” ujar Febri dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis
“Hufttttt Ok aku percaya sama kamu. Tapi aku mau kamu jauhin dia”
“Tapi dia sahabat aku by”
“Aku gamau tau. Pokoknya kamu jauhin dia atau kita putus”
“Iya aku jauhin dia” ujar Febri pasrah
“Aku ke toilet dulu” pamit Austin
“Jangan lama”
TIG
TIG
Bella: Sayang kamu dimana?
Bella: Nanti jadi kan yang?
TIG
TIG
Bella: Aku tunggu. Awas aja kalo kamu gk datang!
Bella: See u bby
Febri yang membaca chat dari wanita bernama Bella pun tak bisa lagi menyembunyikan air matanya
“Loh by. Kamu kenapa nangis?”
Dengan panik Austin langsung mengecek hp nya dan langsung mendesah kasar saat melihat notif dari Bella
“Mmm… Bella it-“
“Selingkuhan kamu? Iya?” Potong Febri dengan bercucuran air mata
“Bu… Bukan by”
“Kalo bukan kenapa dia nge chat pake sayang-sayang segala Hah?” Bentak Febri mulai emosi karena Austin tak mau jujur
“Iya dia pacar aku… Tapi ini bukan seperti yang kamu pikirkan Feb”
“Gila y kamu… Hahaha.. Kamu nuduh aku selingkuh sama Kak Lio tapi ternyata kamu yang selingkuh di belakang aku” ujar Febri dengan suara terkekeh, mengejek
“Kita putus” setelah mengucapkan kalimat itu Febri segera berlari keluar dari cafe
Untung saja keadaan cafe saat itu sedang sepi jadi hanya beberapa orang dan pegawai cafe yang melihat pertengkaran mereka
“FEBRI… Arghhhhhh bangs*t”
FLASHBACK OFF
Mareta merasa sedikit lega setidaknya bukan dia dan Aprilio penyebab Febri sampe begini
“Tapi Feb masih ada gue sama Lio yang sayang sama lo”
“Hikssss… Ta gue udah cinta mati sama Austin. Semua gue laku in buat dia tapi dia malah nyelingkuhin gue hiksss”
Febri mendorong tubuh Mareta lalu dia mengambil pisau buah di atas nakas dan berniat menggores urat nadi nya
"Febri gue mohon jangan kyak gini" mohon Mareta mencoba menghentikan ulah nekat Febri
"DIAMMM"
“ARGHHHHHHH…. Di dunia ini gk ada peduli sama gue… Hiksss… Papa, Mama, Austin semua ninggalin gue bahkan gue juga yakin gk lama lagi lo sama kak Lio bakal ninggalin gue juga”
“Gue sama Aprilio peduli sama lo… kita gk akan ninggalin lo” sekali lagi kalimat itu keluar dari mulut Mareta
Febri nampak tak peduli dengan kalimat Mareta, dia mulai menggoreskan pisau yang mengakibatkan darah segar mengalir dari pergelangan tangannya
Dengan gerakkan cepat Mareta segera merebut pisau dari tangan Febri kemudian segera berlari menaiki tangga menuju lantai dua namun saat akan sampai di anak tangga terakhir Mareta di tarik oleh Febri
Mareta yang akan terjatuh malah tak sengaja mendorong tubuh Febri yang berada di belakangnya yang mengakibatkan tubuh Febri jatuh hingga terguling di anak tangga sedangkan dirinya berhasil berpegangan pada pinggiran tangga
Naasnya tangan yang dia gunakan untuk mendorong tubuh febri adalah tangan yang sedang memegang pisau sehingga sebelum terjatuh Febri sempat tertusuk pisau d bagian perutnya
tubuh Febri tergeletak di lantai dengan berlumuran darah. Mareta menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang sekarang di alaminya, dengan tubuh yang semakin gemetar Mareta mencoba mendekati tubuh wanita itu
"Feb.... FEBRIll" teriak Mareta histeris
Mareta mengecek nadi Febri namun dia kembali histeris setelah mengetahui Febri telah meninggal
Mareta yang panik segera berlari keluar dari rumah Febri, Mareta merasa sangat bersalah walaupun itu semua hanya kecelakaan dan dia tidak ada niatan untuk mencelakai Febri
Mareta mengurung dirinya seharian di dalam kamar bahkan dia melewatkan waktu makan malamnya membuat bunda nya sangat cemas dengan keadaan putrinya yang tiba-tiba bertingkah aneh itu.
Malam harinya polisi mendapat kabar bahwa telah terjadi kasus pembunuhan yang menewaskan seorang gadis bernama Febriani Adistia Rasyid
Beberapa orang polisi masih terus mencari barang bukti di sekitar kediaman Febri. Orang-orang pun nampak berdatangan untuk memberikan ucapan bela sungkawa kepada keluarga Febri.
Pagi tadi setelah mendapat kabar dari kepolisian, orang tua Febri yang berada di luar negeri segera kembali ke tanah air untuk menyemayamkan jasad sang putri, kedua orang tua Febri tak henti-hentinya menangis sembari meminta maaf kepada sang putri karena telah meninggalkan Febri seorang diri kini anak semata wayang mereka telah terbujur kaku
Di tegah-tegah pelayat nampak juga kehadiran Aprilio yang begitu kacau dengan air mata yang terus menetes, tak lama dirinya beranjak dan mendekati salah satu polisi yang sedang mengecek cctv
"Bagaimana pak? Apa pelakunya sudah di temukan?" Tanya Aprilio
"Ada seseorang yang kami curigai, dia satu-satunya orang yang terlihat di cctv saat hari kejadian, nampak orang itu beberapa kali mengintip lalu masuk ke dalam rumah korban kemudian selang beberapa saat orang tersebut keluar dengan terburu-buru" jelas pak polisi tersebut
"Apa kamu mengenal orang ini" tanya nya lagi sambil memperlihatkan rekaman
TBC
“Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup dengan kisah mu yang singkat itu? Boleh aku ikut denganmu? Sebab agaknya aku juga tak bahagia hidup di dunia, di sini hanya ada kesedihan yang harus selalu ku tutup dengan tawa palsu. Aku juga sudah lelah berpura pura, jadi bolehkah aku bersamamu?”
\~Aprilio
TBC❤️🔥🌷