
Jam pulang sekolah berbunyi nyaring semua murid berhamburan di lorong sekolah tak sabar ingin segera pulang ke rumah masing-masing
“Eitsss mau kemana hmm” ujar seorang siswi sambil menarik ransel teman prianya
“Hehehe ampun Ta” ujar sang pria sambil mengangkat jari peace
“Enak aja habis ngejek aku pendek kurus trus mau lari gitu aja”
“Y elah Ta becanda doang, baperan amat”
“Udah tau aku baperan tapi masih aja cari masalah mulu”
“Iya deh besok, besok gk lagi. Janji”
“Bener y? Awas aja kalo ngejek lagi! Aku pelintir kepalamu itu. Biar tambah jelek” ancam Mareta
“Iya… iya”
“Y udah ayok pulang” ajak Mareta sambil menarik ransel Aprilio menuju parkiran
*****
“Siapa perempuan itu mas” ujar perempuan setengah baya yang masih terlihat awet muda tersebut
“SUDAH KU BILANG, DIA BUKAN SIAPA-SIAPA KINAR” bentak sang pria yang juga telah berumur namun tetap terlihat gagah dan tampan
“Bukan siapa-siapa? Tapi kenapa dia berani menciummu mas” ujar perempuan yang bernama Kinar itu kini mulai terisak
“Arghhhh… aku lelah, ingin istirahat” ujar sang pria mencoba berlalu pergi dari hadapan Kinar
“Aku juga lelah mas. Aku lelah dengan pernikahan kita yang jauh dari kata harmonis ini” ujar Kinar menghentikan langkah sang pria
Pria yang bernama Herman tersebut berbalik melangkah kembali ke hadapan Kinar, menatap perempuan itu dengan nyalang lalu berucap
“Trus sekarang mau kamu apa” Herman menekan setiap kata dari kalimatnya, rahangnya yang kokoh nampak gemetar menandakan dia sedang mencoba menahan emosinya agar tak menyakiti Kinar
“AKU MAU KITA CERAI”
“PLAKKK”
Suara tamparan menggema di penjuru ruangan, Herman sudah tak sanggup menahan emosinya kala Kinar dengan lantang dan berani mengucapkan kalimat terkutuk itu
Kinar tersenyum miring, ini sudah sering terjadi. Tamparan keras yang membuat pipinya memerah dan bengkak itu tak terasa bagi Kinar nampaknya dia sudah kebal, pipinya telah mati rasa.
Namun ada yang terasa sakit di dadanya, ya hatinya kembali terluka kala tangan yang dia idam-idamkan mengelus nya dengan sayang itu malah selalu menamparnya, hati perempuan siapa yang tak sakit jika dia tau suami yang di cintainya tak pernah mencintainya.
“Baiklah, jika itu yang kau mau. Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya” setelah mengucapkan itu Herman berlalu pergi entah kemana
Air mata yang sejak tadi di tahannya kini meluncur dengan cepat dari mata indahnya setelah mendengar kalimat sang suami. Hatinya remuk redam, hancur berkeping-keping.
“Perempuan bodoh” rutuk dirinya sendiri menyesali ucapannya beberapa menit lalu.
Percayalah kalimat terkutuk itu spontan keluar karena dia cemburu dan sangat emosi, sungguh dia tak benar-benar ingin berpisah dari sang suami
“Sia-sia saja perjuanganmu selama 16 tahun ini Nar, suamimu masih tidak bisa menerima kehadiranmu” ujarnya lirih dengan air mata yang masih terus mengalir
Dari arah pintu nampak gadis cantik datang menghampiri Kinar, memeluk sayang sang Bunda dengan begitu erat mencoba menenangkan malaikatnya namun dia lupa dirinya juga sama terluka nya menerima kenyataan bahwa orang tuanya akan berpisah
“Bunda, Eta antar ke kamar y, bunda istirahat” ujar Mareta mencoba menenangkan sang bunda yang masih terisak
“Hiks…Eta, percaya sama bunda, bunda tidak serius dengan ucapan bunda tadi nak. Hiks… tadi bunda terlalu emosi” ujar Kinar mencoba menjelaskan
“Iya bun, Mareta tau bunda sangat mencintai ayah. Ayo Eta antar ke kamar”
Setelah memastikan sang bunda terlelap, Mareta dengan pelan keluar dari kamar orang tuanya. Mencari angin di luar rumah nampaknya ide yang bagus untuk menenangkan hatinya yang sedang bersedih.
Mengelilingi kompleks saat senja hari memang paling menenangkan, suasana sore yang damai, langit berwarna jingga dengan burung-burung yang berlalu lalang serta hembusan angin sepoi-sepoi menambah keindahan sore itu.
Mareta memilih duduk di bangku taman, bangku yang menjadi saksi persahabatannya dengan Aprilio, tempat ini memang tak pernah berubah masih persis seperti beberapa tahun lalu saat Aprilio menemukannya menangis seorang diri.
Beberapa saat kemudian terdengar suara yang cukup familiar di telinga Mareta walau samar namun Mareta hafal betul dengan suara itu, pandangannya berputar pada ayunan di ujung taman.
Wait, dia tak salah lihat kan? Itu adalah Aprilio tapi siapa gadis cantik yang sedang bersamanya, wajah gadis itu tertutup oleh rambutnya sendiri karena dia sedang tertunduk, gelagat nya seperti orang yang sedang tersipu malu.
Mereka sedang membicarakan apa hingga sang gadis nampak tersipu dan oh lihatlah senyuman yang biasa di tujukan untuknya kini Aprilio tujukan juga untuk gadis tanpa nama itu.
Rasa penasaran dan cemburu menghantui pikiran Mareta, setelah mengumpulkan keberanian Mareta memutuskan untuk menghampiri mereka berdua
“Hai Lio. Lagi ngapain disini? Tanya Mareta saat sampai di hadapan Aprilio
“Oh hai Ta. Cuma nyari angin doang, lo kan tau kondisi rumah gue. Lo sendiri ngapain disini” jawab Aprilio
Lo? Gue?. Ini serius? Mareta tidak salah dengarkan? Apa ini sahabatnya, Aprilio Ashegaf? Sejak kapan dirinya mengganti panggilan untuknya?. Begitu banyak pertanyaan dalam pikirannya saat ini.
“Ta, kok lo bengong sih” ujar Aprilio menyadarkan Mareta dari lamunannya
“Eh iya, sorry. Tadi kamu ngomong apa” tanya Mareta linglung
“Oh iya Ta, kenalin ini Febri tetangga baru gue dia baru pindah di kompleks ini dan Febri ini Mareta sahabat gue” ujar Aprilio memperkenalkan
“Oh jadi namanya Febri” batin Mareta
“Hai gue Mareta” sambil menyodorkan tangannya
Sang gadis yang bernama Febri itu pun berdiri dari duduknya mensejajarkan tingginya dengan Mareta lalu menjawab uluran tangan Mareta untuk bersalaman
“Hai juga, aku Febri” ujarnya sambil tersenyum manis memperlihatkan gigi gingsulnya
“Cantik sekali, bahkan lebih cantik dari aku” puji Mareta dalam hati
“Febri juga akan sekolah di sekolah yang sama dengan kita, dia seangkatan sama lo” terang Aprilio lagi
“Iya, semoga kita bisa akrab dan jadi sahabat Yah” ujar Febri antusias
“Iya” jawab Mareta tersenyum canggung
\~DI SEKOLAH\~
“Ahhh, capek banget” ujar Mareta yang telah mendaratkan pantatnya di sebelah Aprilio yang sedang asyik bermain game online di ponselnya
“Udah ngajakin Febri keliling sekolah Ta?” Tanya Aprilio tak mengalihkan pandangan dari layar ponselnya
“Udah” jawab Mareta sedikit ketus
Aprilio menoleh sekilas lalu kembali menatap layar ponselnya
“Febri dimana kok gk bareng lo” tanyanya lagi
“Dia lagi di perpus, pengen baca buku katanya” jawab Mareta sambil meminum teh kemasannya
“Lo gk ikut baca buku”
“Kamu kayak gk kenal aku aja, aku kan paling males membaca”
“Lo kena-” sebelum Aprilio menyelesaikan kalimatnya Mareta sudah lebih dulu memotong ucapannya
“Kenapa berubah” tanya Mareta ambigu
“Apanya yang berubah” Aprilio kebingung dia kemudian mematikan ponselnya dan beralih mentap Mareta
“Panggilan kamu ke aku, kenapa berubah tidak seperti biasanya”
“Oh itu, gue cuma bosen aja”
“Bosan? Kamu bosan dengan persahabatan kita”
“Maksud lo apa sih Ta?”
“Saat ini panggilan kamu berubah bisa ajakan suatu saat sahabat kamu juga berubah, bukan aku lagi” ujar Mareta sambil menatap dalam mata Aprilio, keluar sudah uneg-unegnya sejak kemarin
“Ta bukan itu maksud gue. Gue cuma ganti biar kedengaran lebih keren, masa iya gue cowok trus manggilnya aku kamu, gk jantan banget” ujar Aprilio sedikit bercanda
“Bukan berarti gue mau ganti sahabat gue, lo itu udah lebih dari sekedar sahabat Ta, lo udah kayak adek gue yang harus gue jaga. Lo gada gantinya Ta” lanjutnya lagi
“Oh jadi cuma sebagai adek, miris” batin Mareta sedih
Setelah hening beberapa saat Mareta kembali berucap
“Bunda sama ayah mau cerai” ujar Mareta sambil berusaha menahan air matanya
“Aku gatau lagi harus gimana” lanjutnya kini dengan air mata yg berhasil lolos dari kelopak matanya
Disaat seperti ini Aprilio tidak bisa berkata apa-apa selain mencoba menenangkan Mareta, hal ini terlalu sensitif untuk di campurinya ia cukup menjadi pendengar untuk sahabatnya ini
Perlahan ia mulai mengeser tubuhnya dan segera memeluk tubuh Mareta yang sejak tadi bergetar karena sedang menangis. Dia mengerti keadaan Mareta bahkan sangat mengerti karena dia pernah ada dalam posisi ini.
Mareta mulai merasa tenang suara isakannya pun sudah tidak terdengar, namun dia masih betah dengan posisinya sekarang, rasanya terlalu sayang jika tidak memanfaatkan kesempatan seperti ini bahkan dalam hati dia berdoa kepada Tuhan untuk menghentikan waktu agar dia bisa terus merasakan dekap hangat tubuh Aprilio
“Kak Lio… Mareta… kalian lagi ngapain?”
.
.
.
TBC❤️
“Dia terlalu indah jika hanya di jelaskan dengan kata-kata, dia sempurna”
\~Aprilio