
"Hai, kamu kenapa nangis?" tanya seorang bocah laki-laki dengan kisaran umur 8 tahun pada gadis kecil yang sedang menangis sendirian di taman kompleks
"Hiks.... Hiks... kamu siapa" tanya gadis kecil itu sambil menoleh keasal suara namun tetap melanjutkan tangisannya
"Aku Aprlio... nama kamu siapa" ujar bocah laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya berniat ingin salaman
"Hiks... aku Mareta" ujar gadis kecil berumur 7 tahun itu sambil menjawab uluran tangan Aprilio
"Kamu kenapa nangis" ujar Aprilio mengulang pertanyaannya
"Hiks... bunda sama ayah berantem, ayah bentak bunda.... Hiks... aku takut" jawabnya dengan sesenggukan
"Kamu mau jadi sahabat aku nggak? Nanti aku beliin es krim tapi kamu harus mau jadi sahabatku dan nggak boleh nangis lagi" bujuk Aprilio agar Mareta berhenti menangis
Dan sepertinya bujukan itu berhasil Mareta mulai terdiam sambil memikirkan tawaran Aprilio semenit kemudian Mareta tersenyum manis menampilkan lesung pipinya
"Aku mau, tapi kamu harus beliin aku 2 es krim yah" tawar Mareta
Siapa yang akan menolak jika ditawarkan makan manis dan dingin itu
"Aku beliin sebanyak yang kamu mau, aku kan orang kaya, tapi kamu harus mau jadi sahabatku selamanya" ujar Aprilio membanggakan dirinya
"Iya aku mau" ujar Mareta tersenyum lalu menaikkan jari kelingkingnya
"Apa ini?" Tanya Aprilio bingung
"Janji kelingking, ini tanda kalo kita udah jadi sahabat selamanya" jawab Mareta dengan tampang polosnya
Mereka pun saling menautkan jari kelingking dan semenjak hari itu mereka menjadi sahabat. Kemana-mana selalu bersama, suka maupun duka selalu mereka lalui berdua apalagi saat Mareta tau kehidupan Aprilio yang tidak jauh berbeda darinya.
Mama Aprilio selingkuh dengan pria lain dan memilih meninggalkan Papa serta dirinya saat Aprilio masih berumur 4 tahun karena alasan kehidup yang serba kekurangan. Akhirnya papa Aprilio menjadi orang yang gila kerja, usahanya membuahkan hasil bisnis yang dirintisnya berkembang pesat hingga ia menjadi seorang yang sukses dan di sengani oleh banyak orang.
Namun karena terlalu gila kerja papa Aprilio jadi tidak memperhatikan Aprilio, bertatap muka saja jarang, dia menganggap bahwa uang saja sudah cukup untuk Aprilio
Padahal Aprilio juga membutuhkan sosok orang tua yang harus membimbingnya. Dia rindu dekap hangat malaikat tak bersayap yang di panggil ibu dan perisai kuat yang di sebut ayah. Selama ini dia hanya di rawat oleh Bi Ina yang sudah seperti ibunya sendiri
Kehidupan keluarga mereka yang tidak harmonis membuat mereka semakin dekat, sering bertukar cerita dan saling melengkapi hingga mereka tumbuh dewasa menjadi remaja yang sama-sama memiliki paras rupawan
Kini mereka telah menduduki bangku SMA, walaupun Aprilio setahun diatas Mareta tidak mempengaruhi kekompakan mereka hingga banyak yang menduga bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih.
Itu yang di harapkan Mareta, ya gadis kecil yang telah tumbuh menjadi sosok wanita cantik dan anggun itu telah lama menyimpan perasaan yang tidak seharusnya timbul kepada sahabatnya sendiri, entah sejak kapan yang pasti Mareta sangat mencintai Aprilio namun memilih bungkam karena takut merusak persahabatan mereka yang sudah terjalin cukup lama itu.
"Dorrr" suara yang cukup keras itu menyadarkan Mareta dari lamunannya
Wajahnya nampak syok, sementara si pembuat ulah malah tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi Mareta
"Ishhhh, Lio gk lucu tau gk" ucapnya nampak sebal
"Hahaha... iya deh, sorry. Habisnya kamu, siang-siang gini malah ngelamun. Entar kesambet jin tomang kan berabe Ta" ujar Aprilio mengejek Mareta
"Lagi ngelamunin yang mesum-mesum nih pasti. Ayo ngaku" lanjutnya lagi sambil mencolek dagu Mareta
"Ishhhh... apaan sih" ujar Mareta semakin kesal
"Yah ngambek deh, kan aku cuma bercanda Ta"
"Maafin dong Ta. Gk baik ngambek sama sahabat sendiri, nanti cantiknya kamu ilang lagi" bujuk Aprilio
Dan blusssss, semburat merah telah terpatri di pipi mulus dan putih milik Mareta membuat wajahnya bak kepiting rebus.
Oh ayolah siapa yang tidak merona jika di katakan cantik oleh sang pujaan
"Pipi kamu kenapa Ta? Kamu sakit, lagi demam ya?" Ujar Aprilio cemas sambil menempelkan telapak tangannya di jidat Mareta
"Eh... gk kok, aku lagi kepanasan" sangkal Mareta tentunya dia tak mau jujur, alasan apa yang membuat ia merona
"Mau es krim?" Ujar Aprilio menawarkan
"Mauuuu" sorak Mareta dengan semangat kemudian mereka berdua segera berjalan menuju kantin untuk membeli es krim kesukaan Mareta
"Tadi lagi ngelamunin apa sih Ta? Lagi ada masalah y di rumah?" Tanya Aprilio yang masih penasaran
"Hmmmm... gk kok, tadi itu aku lagi ingat awal kita kenal dulu" jawab Mareta jujur sambil memakan es krim vanilanya
"Yakin cuma karena es krim, bukan karena kegantengan aku?" Goda Aprilio
"Hahaha... apa kegantengan kamu? Bahkan ketek pak Bardi lebih ganteng dari muka kamu" Canda Mareta membuat dirinya sendiri tertawa hingga bengek
"Watepak, y kali Ta aku di samain dengan keteknya pak Bardi yang bulunya lebat itu" ujar Aprilio tak terima
Namun Mareta nampak tidak peduli, ia malah menjulurkan lidahnya dan melanjutkan kegiatannya menyantap es krim yang mulai mencair karena cuaca yang memang sedang terik.
“Hmmmm gimana keadaan nyokap”
“Hufttt… Nyokap sakit”
“Mereka berantem lagi?”
“Ya gitu lah, bokap gk pulang 2 hari ini”
“Yang sabar y Ta!”
“Ck. Udah biasa kali” ujar Mareta sambil tersenyum ke arah Aprilio walaupun jauh di lubuk hatinya dia merasa sakit dengan keadaan kedua orang tuanya
“Lio?”
“Kamu akan tetap jadi sahabat aku kan” tanya Mareta seraya menatap wajah tampan Aprilio
“Apapun yang terjadi kamu akan tetap jadi sahabat aku kan Lio?”
“Iya, aku akan tetap jadi sahabat terbaik kamu apa pun yang terjadi”
“Janji kelingking” ujar Mareta sambil kenaikan kelingking nya
“Hahaha… Bocah masih aja y” tawa Aprilio seraya menyambut janji kelingking Mareta
“Habis” ujar Mareta sambil mengangkat stik es krim yang telah habis d lahapnya
“Mau lagi?”
“Udah kenyang”
“Lah makan es krim doang kenyang. Pantes kamu kurus banget hahaha” ejek Aprilio
“Ishhhh kan lambung aku mungil” ujar Mareta sambil meng imut-imut kan wajah serta nada bicaranya
“Jijik ihhhh, jangan sok di imut-imutin gitu mukanya jadi makin jelek” ejek Aprilio lagi lalu berlari menjauhi Mareta
“Awas y kamu”
Namun saat akan mengejar Aprilio, bel tanda masuk berbunyi
“Hahaha wleee kasian deh lu”
“Awas aja y pulang sekolah nanti ku pelintir kepalamu”
“Coba aja kalo sampe. Pendek aja belagu wleee” ujar Aprilio semakin mengejeknya kemudian menghilang di balik tembok kelasnya
“Ishhhh LIO” teriak Mareta membuat semua siswa yang ada di lorong tersebut berbalik ke arahnya namun dia sama sekali tidak peduli.
Dia pun berjalan dengan menghentak hentakan kakinya menaiki tangga untuk menuju ke kelasnya karena kelasnya berada di lantai dua.
.
.
.
TBC❤️
“Kamu itu bintang di langit malam. Kamu sang pemberi sinar di hidup manusia suram”
\~Mareta