Misunderstanding

Misunderstanding
Bab 10 (SAH)



Mareta nampak sangat gugup, bagaimna tidak saat ini dia sedang berada di perjalan menuju kediaman Aprilio untuk melangsungkan ijab kabul…. Selang beberapa minggu dari kejadian tak terduga itu Aprilio menepati ucapannya untuk menikahi Mareta.


Mobil yang membawanya telah sampai di kediaman Aprilio, rumah bergaya klasik dengan desain arsitektur Eropa itu cukup mencuri perhatian Mareta


“Dia memang kaya, tidak salah sejak dulu dia selalu membanggakan dirinya haha” batin Mareta merasa lucu jika mengingat dulu Aprilio selalu membanggakan kekayaannya. Ketegangan yang dirasakannya selama di perjalan mendadak hilang saat mengingat kenangan itu.



Sopir lalu membuka pintu mobil dan mempersilahkan Mareta untuk turun membuyarkan lamunan Mareta


“Silahkan nyonya! Tuan sudah menunggu anda di dalam” Ujar sang sopir sambil sedikit membungkukkan badannya.


Pernikahan mereka di adakan cukup tertutup hanya ada beberapa kerabat dekat yang hadir sebagai saksi


Orang tua mereka? Jangan di tanya sudah pasti tidak ada yang mau menghadiri acara pernikahan anaknya sendri, bahkan wali nikah Mareta di serahkan kepada penghulu. Ayahnya tentu tak ingin menatap wajah putrinya yang entah mengapa sangat di bencinya itu lagi pun dia telah membina kehidupan baru bersama keluarga barunya yang nampak bahagia.


Sedangkan Papa Aprilio sedang berada di luar negri, setelah mewariskan semua perusahaan nya kepada sang putra, dia memilih menetap di kampung halamannya yaitu Jepang, dia ingin melupakan semua masa lalu pahitnya karena jujur saja dia masih sering memikirkan tentang mantan istrinya yang tega mengkhianatinya dan putranya.


Wanita itu bahkan sudah hilang kabar sejak dia memutuskan meninggalkan mereka berdua. Aprilio bahkan tidak ingat lagi rupa wanita yang melahirkannya itu.


Mata Mareta mulai berkaca kaca mengingat sang bunda yang telah berpulang 3 tahun silam karena penyakit kanker otak yang di deritanya 4 tahun belakangan, tidak ada anggota yang tau akan penyakitnya, Bundanya menyimpan rasa sakit itu sendiri hingga tubuhnya sering tidak fit dan gampang sakit bahkan dia jadi mudah pingsan.


”Bun, Eta udah nikah Bunda…. Seandainya bunda ada di sini mungkin kesedihan Eta bisa sedikit berkurang karena lihat wajah bunda” batin Mareta sambil mengusap kasar pipi nya yang entah sejak kapan telah basah oleh air mata


Jujur saja ada rasa bahagia karena mimpinya untuk menjadi pendamping Aprilio menjadi kenyataan tapi di satu sisi dia juga cukup takut akan sifat dingin dan kejam Aprilio pada dirinya.


“Entah bagaimna nasib pernikahan ku nanti, semoga setelah sah menjadi istrinya, Lio bisa mulai mencintaiku” batin Mareta sambil sesekali melirik wajah tampan suaminya yang sedang melafalkan kalimat ijab kabul


Satu persatu tamu mulai berpamitan, Mareta dan Aprilio telah SAH menjadi sepasang suami istri.


“Bi Laras tolong bawa dia ke kamarnya” perintah Aprilio pada salah satu pelayan yang sudah setengah baya


“Baik tuan” ujar Bi laras dengan sedikit menunduk


Setelah memberi perintah Aprilio segera menuju lift yang membawanya ke lantai 3 di mana kamarnya berada.


“Mari nyonya, saya antar ke kamar”


Mareta sudah menebak dia pasti tidak akan berada di satu kamar bersama Aprilio. Pria itu bahkan tak ingin berlama-lama menatap wajahnya


Mareta merutuki dirinya, memang siapa dirinya hingga berharap di perlakukan istimewa oleh Aprilio? Di mata laki-laki itu dia hanya seorang pembunuh…. Aprilio ingin bertanggung jawab menikahi dirinya saja Mareta sudah harus bersyukur walaupun kejadian itu murni kecelakaan namun setidaknya Aprilio tidak lepas dari tanggung jawab.


Mareta mengikuti langkah Bi laras menuju ke halaman belakang, disana ada beberapa bangunan yang menyerupai asrama. Sepertinya itu adalah kamar-kamar para pekerja di sini.


Bi Laras membuka salah satu kamar. Kamar itu cukup besar dengan ranjang dan kasur berukuran Single bed, di sudut kamar ada satu lemari yang cukup besar ada juga satu buah meja rias dengan desain sederhana, oh bahkan ada kamar mandi di kamar ini.



(Note: anggap aja meja setrika itu meja rias y luv. Hehehe)


Kamar ini berbeda dengan kamar pelayan pada umumnya, ini terlalu mewah untuk ukuran kamar pelayan bahkan kamar kos yang di tempati nya tidak sebagus ini


“Maaf nyonya, tuan menyuruh saya mengantarkan nyonya ke kamar ini…. Ini kamar salah satu art yang sudah kosong beberapa bulan ini, saya sudah membersihkan nya” ujar Bi Laras sedikit tak enak hati


“Tapi nanti tuan marah nya” protes Bi laras


“Dia tidak akan marah Bi”


“Baiklah saya panggil non Eta saja” Mareta sepertinya tidak keberatan dengan panggilan itu dia pun tersenyum sambil mengangguk setuju


“Kalo begitu saya permisi dulu y non… Silahkan beristirahat” pamit Bi laras


“Eh tunggu Bi”


”iya non? Ada apa?”


”Kenapa kamar art ini berbeda?…. Maksud saya, kamar ini tidak terlihat seperti kamar art pada umumnya” ujar Mareta masih penasaran


“Tuan memang menyiapkan semua fasilitas ini untuk semua pekerja yang bekerja padanya non, dia pria yang baik dan majikan yang dermawan…. Dia memanusiakan manusia tidak seperti majikan lainnya yang sering menindas para pekerjanya” puji Bi laras dengan tersenyum tulus


Mareta ikut tersenyum, dia akui Aprilio memang pria baik hanya saja ada sedikit kesalah faham an di antara mereka


“Ternyata kamu belum sepenuhnya berubah” batin Mareta


Bi laras telah beranjak, meninggalkan Mareta yang sekarang tengah sibuk mengatur pakaiannya kedalam lemari.


Tangannya bekerja namun pikirannya berkelana kemana-mana, sejak pertemuannya dengan Aprilio hingga sekarang telah sah menjadi istrinya, Mareta jadi sering melamun dan murung seperti saat ini


”Huftttt kamu kuat Ta!… sudah banyak pengalaman pahit yang kamu jalani dan kamu berhasil, kali ini kamu juga pasti akan berhasil Ta.” Mareta menyemangati dirinya sendiri sambil terus menyusun pakaiannya di lemari


Setelah selesai merapikan barang bawaannya, dia lalu bergegas mandi dan beristirahat sejenak merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk. Kasur ini bahkan lebih empuk dari kasurnya di kos.


Dia menatap langit-langit kamarnya, kembali mengingat jauh ke belakang. Air mata itu kembali jatuh untuk ke sekian kalinya bantal yang dia gunakan perlahan mulai basah oleh air mata. Kenangan 4 tahun itu kembali hadir dalam pikirannya, membentuk puzzle yang teracak lalu menyatuh utuh di bagian awal semua masalahnya.


Sungguh Mareta tak ingin lagi mengingat semua itu, dia telah bertekat untuk melupakannya namun pertemuannya dengan Aprilio sebulan lalu membuatnya teringat kembali akan kejadian buruk yang menimpa hidupnya itu. Dimana dia kehilangan semuanya.


Mata berair itu perlahan mulai merasakan kantuk lalu kemudian terlelap menyisakan jejak air mata.


.


.


.


TBC❤️‍🔥


“Mimpi indah Ta!… Beristirahlah! Karena selanjutnya ada banyak lagi air mata yang akan kamu tumpahkan”


\~Author


🌷Terima kasih sudah berkenan membaca. Terima kasih sudah mampir🫶🏻


Jangan lupa komen, saran, kritik yang membangun✍🏻


Jangan lupa lope nya juga y luv karena lope kalian itu di nanti-nanti daripada ngasih lope nya ke orang yang gk bisa ngehargain mending ngasih ke Author aja hehe🌷