love romance

love romance
eps. 8



"Jadi, di mana kita bertemu? Aku perlu sekali, ya, perlu sekali bicara


denganmu," kata Levin.


Oblonskii seolah-olah berpikir:


"Begini saja: kita pergi sekarang ke Gurin untuk makan pagi, dan di


sana kita bicara. Aku longgar sampaijam tiga."


"Tidak," jawab Levin sesudah berpikir. "Aku masih harus pergi."


"Baiklah, kalau begitu makan siang sama-sama."


"Makan siang? Sebetulnya tak ada yang luarbiasa, cuma perlu menge-


mukakan dua patah kata, bertanya, dan setelah itu kita bisa ngobrol."


"Kalau begitu, katakan saja sekarang dua patah kata itu, ngobrolnya


sambil makan siang."


"Dua patah kata itu," kata Levin. "Yah, samasekali tak luarbiasa."


Wajahnya tiba-tiba menunjukkan rasa benci karena betapa sukar


mengatasi rasa malu.


"Bagaimana kabar keluarga Shcherbatskii? Seperti dulu juga?"


katanya.


Stepan Arkadyich yang sudah lama tahu bahwa Levin jatuh cinta


kepada adik iparnya, Kitty, tersenyum tipis, dan matanya berbinar-binar


gembira.


"Kamu bilang dua patah kata, tapi dengan dua patah kata tak bisa


aku menjawab, sebab .... Maaf sebentar .... "


Waktu itu masuk sekretaris, yang dengan sikap hormatnya yang


terkenal dan dengan gaya sok lebih tahu urusan ketimbang sang kepala,


yang umum dimiliki semua sekretaris, menghampiri Obloskii sambil


membawa kertas-kertas, dan dengan gaya bertanya mulai menjelaskan


kesulitan yang dihadapinya. Tak sampai selesai mendengarkan, Stepan


Arkadyich dengan mesra memegang lengan baju sekretaris itu.


"Tidak, Anda kerjakan saja seperti yang saya bilang," katanya sambil


tersenyum untuk melunakkan kata-katanya, dan sesudah menjelaskan


dengan singkat bahwa ia mengerti persoalannya, ia tolakkan kertas-


kertas itu, katanya: "Anda kerjakan saja seperti itu, Zakhar Nikitich."


Sekretaris itu pun pergi dengan bingung. Selama berlangsung


percakapan dengan sekretaris, Levin benar-benar telah pulih dari rasa


bingungnya. Ia berdiri sambil menelekan kedua tangannya ke meja,


sedangkan wajahnya tampak mengungkapkan ejekan.


"Aku tak paham, tak paham," katanya.


"Apa yang tak kamu pahami?" kata Oblonskii tersenyum gembira


sambil mengeluarkan papiros. Ia menunggu tingkah Levin yang aneh.


"Aku tak paham, apa yang kalian kerjakan di sini," kata Levin sambil


mengangkat bahu. "Bagaimana mungkin kamu melakukan semua ini


dengan sunggub-sungguh?"


"Karena di sini orang tak punya pekerjaan."


"ltu pendapatmu, sedangkan kami di sini tertimbun perkara."


"Tertimbun kertas. Tapi, ya, kamu memang berbakat untuk itu,"


tambab Levin.


"Jadi, menurutmu, aku pun ya kekurangan ?"


"Boleh jadi begitu," kata Levin. "Tapi, bagaimanapun, aku kagum


dengan kebesaranmu, dan aku bangga sababatku orang yang begitu


besar. Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku," tambabnya, berusaha


keras menatap tajam mata Oblonskii.


"Baiklah, baiklah. Tapi tunggu sebentar, akan sampai juga kamu ke


situ. Baiklah, kamu punya tanah tigaribu desyatinu di uyezd Karazinskii,


juga otot-otot hebat, kesegaran, seperti pada gadis duabelas tahun-tapi


ada urusan apa kamu datang kemari? Kalau tentangyang kamu tanyakan:


perubahan tak ada, hanya sayang, lama kamu tak datang."


"Lalu?" tanya Levin ketakutan..


"Tidak ada apa-apa," jawab Oblonskii. "Nanti kita bicarakan. Untuk


apa sebetulnya kamu ini datang?"


"Ah, ten.tang itu nanti saja kita bicarakan juga," kata Levin yang


kembali memerah sampai telinganya.


"Ya, baiklab. Aku mengerti," kata Stepan Arkadyich. "Begini


ya: sebetulnya aku juga mau mengundangmu ke rumah, tapi istriku


sedang kurang sehat. Tapi begin.i: kalau kamu mau menjumpai mereka,


barangkali sebentar lagi mereka ada di Taman Zoologi, dari jam empat


sampai lima. Kitty main skats. Kamu pergi saja ke sana, nanti aku


mampir, lalu kita makan siang sama-sama."


"Bagus, kalau begitu selamat tinggal dulu."


"Tapi awas, ya, aku ini kan ken.al betul kamu, bisa-bisa kamu Jupa, atau


tiba-tiba pulang ke desa lagi!" teriak Stepan Arkadyich sambil ketawa.


"Tidak. Sungguh!"


Levin keluar ruangan, dan barn sampai di pintu ia ingat bahwa


dirinya lupa membungkuk kepada teman-teman Oblonskii.


"Tampaknya dia seorang tuan yang sangat energik," kata Grinevichketika Levin sudab keluar.


"Ya, begitulab," kata Stepan Arkadyicb sambil menggoyang-goyang-


kan kepala. "Orang yang betul-betul babagia! Dia punya tigaribu desyatin


di uyezd Karazinskii, segalanya serba terjamin di masa depan, dan penub


daya bidup! Tidak seperti saudara kita ini."


"Kenapa pula Anda mengelub, Stepan Arkadyicb?"


"Ya, memang buruk, jelek," kata Stepan Arkadyicb sesudah menarik


napas berat.