love romance

love romance
0.3 Kebahagiaan



"Bagaimana Mama?" tanyanya sambil membelai Ieher anak gadisnya


yang licin lembut. "Selamat pagi," katanya lagi kepada sang anak lelaki


yang menyapanya Ia sadar bahwa dirinya kurang mencintai anak lelakinya itu, walaupun ia senantiasa berusaha bersikap sama; dan anak itu merasakannya,


sehingga ia tak membalas senyuman dingin ayahnya dengan senyuman.


"Mama? Sudah bangun," jawa b anak perempuan.


Stepan Arkadyich menarik napas. "Jadi, ia tak tidur lagi sepanjang


malam," pikirnya.


"Bagaimana, Mama gembira?"


Anak perempuan itu tahu bahwa ayah dan ibunya bertengkar. Karena itu, tak mungkin ibunya gembira, dan sang ayah harus tahu hal itu.


Ia tahu, dengan pertanyaan yang diajukan dengan enteng itu, ayahnya


hanya berbasa-basi. Dan memerahlah wajah anak itu karena tingkah


ayahnya. Seketika itu juga sang ayah mengerti, dan wajahnya memerah


pula.


"Entah," kata sang anak. "Mama tidak menyuruh belajar, ta pi menyu-


ruh pergi main dengan Miss Gull ke rumah Nenek."


"Kalau begitu, pergilah, Tanchurochka-ku. 0ya, tunggu," kata sang


ayah masih memegang dan membelai tangan anaknya yang lembut.


Diambilnya kotak permen dari perapian tempat ia menyimpannya


kemarin, dan diberikannya kepada. sang anak dua buah, dipilih yangjadi


kesayangannya, coklat dan pomade.


"Buat Grisha?" kata sang anak perempuan sambil menunjuk yang


coklat.


"Ya, ya." Dan sesudah dibelainya lagi bahu sang anak, diciumnya


akar rambut anak itu, baru dilepaskan.


nya.


"Kereta siap," kata Matvei. "Tapi ada tamu perempuan," tambah-


"Sudah lama?" tanya Stepan Arkadyich.


"Setengah jam."


"Tapi Tuan kan perlu waktu buat minum kopi?" kata Matvei dengan


nada kasar-bersahabat, nada yang tak bisa dibalas dengan kemarahan.


"Kalau begitu, lekas suruh masuk," kata Oblonskii sambil mengerutkan dahi karena kecewa.


Tamu itu, Kapten Staf Kalinina, mengajukan permohonan tentang


hal yang mustahil dan bodoh; tapi sebagaimana biasa, Stepan Arkadyich


mempersilakan dia duduk, dan tanpa menyela ia mendengarkan kata-


kata tamu itu dengan penuh perhatian, lalu memberinya nasihat secara


rinci kepada siapa dan bagaimana cara mengajukan permohonan, dan bahkan dengan cekatan dan rapi, dengan tulisan besar-besar, panjang-panjang, indah, dan jelas ia tuliskan nota untuk pihak yang kiranya bisa


membantu sang tamu. Sesudah melepas kapten staf, Stepan Arkadyich


mengambil topi dan berhenti untuk mengingat-ingat apakah tak ada


yang terlupa. Ternyata tak ada, kecuali yang memang ingin ia lupakan-


sang istri.


"Ah, ya!" ia tundukkan kepala, dan wajahnya yang tampan pun


menampakkan kesan memelas. "Ke situ atau tidak?" katanya pada diri


sendiri. Suara batinnya mengatakan bahwa ia tak perlu pergi ke situ,


bahwa selain kepalsuan tak ada yang bakal terjadi di situ, dan bahwa


melempangkan dan memperbaiki lagi hubungan mereka sudah tak


mungkin, sebab mustahil membuat perempuan itu kembali memesona


dan membangkitkan rasa cinta, atau membuat dirinya sebagai lelaki tua


yang mampu mencintai. Selain kepalsuan dan kebohongan, tak ada hal


lain lagi yang akan muncul sekarang ini; dan kepalsuan serta kebohongan


bertentangan dengan nalurinya.


"Tapi perlu juga rasanya; kan tak bisa ini dibiarkan begitu saja,"


katanya mencoba memberanikan diri. Ia menegapkan dadanya, mengeluarkan sebatang papiros, merokok, mengembuskan dua kali, melem-


parkannya ke asbak indung mutiara, dan dengan langkah cepat melintasi


kamar tamu yang muram dan membuka pintu yang lain, pintu kamar


tidur sang istri.